
Setelah mengajak Cyara berbelanja kebutuhan pokok. De menarik lengan gadis itu menuju Smartphone Store untuk membeli ponsel. Sepanjang langkah mereka, Cyara senantiasa melirik ke sana ke mari. Biasanya dia akan pergi ke tempat-tempat seperti ini bersama dengan Clarissa dan Jessie.
Mereka akan bermain sampai puas di akhir pekan, menyuarakan kebebasan menjadi seorang remaja yang penuh dengan kebahagiaan.
Lain dengan sekarang, sebab Cyara harus senantiasa waspada. Takut kalau keberadaannya diketahui oleh halayak umum dan berujung dengan petaka. Yakni Austin yang akan menjemputnya dengan paksa.
Sampai di toko yang menjual berbagai merek ponsel. De dan Cyara disambut oleh para pelayan yang memiliki penampilan dan juga paras yang memadai, ada pria, ada juga wanita. Mereka semua terlihat cantik dan juga tampan, sehingga sedap dipandang oleh para pelanggan.
"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang dari mereka, dengan name tag Danu, sebuah pin kecil yang terpasang di dada kanan pria itu.
Pria yang bernama Danu itu tersenyum ramah pada De dan Cyara, membuat gadis cantik itu membalasnya dengan tersenyum pula. Meski tidak terlihat, tetapi gerakan makser Cyara yang mengembang menandakan bahwa gadis itu tak hanya diam saja.
Berbeda dengan De yang selalu memasang wajah datar.
"Cepat pilih satu!" titah De pada Cyara. Gadis cantik dengan kacamata hitam itu menatap De.
"Aku benar-benar boleh memilihnya sendiri? Om tidak keberatan?" tanya Cyara dengan suara yang terdengar kegirangan dan De langsung mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
Cyara menatap Danu yang berdiri di balik etalase kaca. Wajah pria yang terlihat sudah berumur, tetapi masih terlihat tampan juga. "Aku mau yang terbaru, Om."
Mendengar panggilan Cyara, Danu bisa menebak bahwa gadis di hadapannya ini masih remaja. Dia sedikit melirik De, dari penampilannya saja sudah terlihat, bahwa De bukan dari kalangan biasa.
Tak ingin berburuk sangka, Danu segera mengambil brosur dan menyerahkannya pada Cyara. Dia menjelaskan beberapa merek ponsel terbaru dengan spesifikasinya masing-masing.
Cyara yang tidak terlalu mengerti hanya manggut-manggut saja. Sebab semuanya terlihat bagus. Dia hanya senang, melihat pria-pria tampan yang ada di sana, sehingga membuatnya betah.
Dia tidak tahu, kalau sedari tadi De memperhatikan gerak-geriknya. Termasuk saat sudut mata Cyara menyipit, menandakan gadis itu tengah tersenyum sumringah.
"Aku mau yang ini aja, Om. Yang warna pink ada tidak?"
"Sudah ambil yang ada saja kenapa sih? Ambil yang warna biru!" seru De yang sedari tadi sudah merasa jengah, menunggu Cyara yang belum juga menemukan ponsel sesuai keinginannya.
"Cia kan hanya tanya, Om."
"Kamu menanyakan benda yang tidak ada di dalam stok! Itu jelas salah," ketus De, dia sedikit memajukan tubuhnya dan berbisik di telinga Cyara. "Dan hentikan senyum konyolmu itu! Jangan berpikir aku tidak tahu, kamu terus tersenyum sepanjang dia bicara!"
__ADS_1
Cyara melirik De, merasa aneh dengan pria matang ini. Kenapa suka sekali marah-marah padanya?
"Memangnya kenapa, Om? Di sini banyak pria tampan, bukankah itu semua membuat para wanita senang, termasuk Cia," jawab gadis itu setengah berbisik.
De langsung mengeram. "Heuh, hanya karena itu? Bukankah setiap hari kamu juga melihatnya? Baru melihat mereka saja senyummu itu tidak bisa dikondisikan! Benar-benar mengganggu!"
Danu hanya bisa menonton perdebatan kecil itu dengan bibir yang berkedut. Sebab kalau sampai dirinya tersenyum, dia takut pria berjambang lebat itu tersinggung.
Cyara mendapatkan apa yang dia inginkan. Satu buah ponsel sudah ada dalam genggamannya. Lantas setelah itu, De langsung menarik kembali lengan Cyara untuk mengikuti langkahnya.
Namun, langkah gadis itu terhenti, dia merengek pada De saat melewati sebuah toko. "Om, aku mau itu." Tunjuk Cyara pada Glory aksesoris, toko yang menjual berbagai macam aksesoris handphone.
"Apalagi sih, Kudek?"
"Kita beli barang couple."
"Hah?!" De langsung dibuat melongo mendengar kata couple. Dia benar-benar seperti seorang remaja yang sedang berkencan dengan pacarnya.
__ADS_1
Belum sempat dia bicara, Cyara sudah menarik lengannya. Karena begitu pasrah, Cyara bisa membawa De masuk ke dalam toko aksesoris tersebut. Mata gadis itu langsung berbinar, persis seperti anak kecil yang melihat mainannya.
"Om, kita beli yang ada boneka Teddy Bear nya yah."