
Setelah sampai di mansion, Jennie tidak bisa menahan amarahnya lagi, semua rasa sesak yang sudah dia tahan di mobil akhirnya meletup saat ia baru saja masuk ke dalam kamar.
Dia langsung merogoh ponsel dan melempar tasnya ke sembarang arah. Tubuh wanita berdada besar itu merapat ke dinding dengan air mata yang kembali mengalir.
Jennie tidak ingin menundanya lagi, dia segera menghubungi Aneeq untuk meminta penjelasan. Dia tidak mau terus menerka-nerka, karena hal itu hanya membuatnya pusing.
Tepat, Aneeq baru saja ingin menonaktifkan ponselnya karena sebentar lagi ia akan memimpin rapat. Namun, benda pipih itu malah bergetar dan menampilkan nama sang istri.
"Jennie?" Alis Aneeq berkerut, dia tidak merasa curiga sama sekali, sebab akhir-akhir ini wanita itu memang kerap menghubunginya. Aneeq telah menganggapnya biasa, berpikir bahwa Jennie tengah menginginkan sesuatu.
"Halo, Sayang," sapa Aneeq.
Mendengar suara suaminya, bibir Jennie semakin bertambah gemetar. Sekuat tenaga dia menahan emosinya agar tidak terlalu meluap, tetapi ternyata percuma.
"Pulang!" ketus Jennie dengan suara dingin.
"Ada apa, Sayang? Kamu menginginkan sesuatu?"
"Aku bilang pulang!"
__ADS_1
"Tapi aku mau rapat lho, Sayang. Ini lima menit lagi—"
"Aku bilang pulang, An!" jerit Jennie, yang akhirnya membuat Aneeq tak bisa berkutik. Dia merasa sesuatu yang lain, sepertinya ada yang terjadi pada istrinya.
"Baik, aku pulang sekarang," jawab Aneeq dengan pasrah. Namun, Jennie tak menjawab apapun, dia langsung mematikan panggilan mereka dan menangis sejadi-jadinya.
Bayangan tentang pengkhianatan itu kembali terlintas. Bagaimana dia tidak sesedih ini? Dia sudah pernah menikah, tetapi gagal karena adanya orang ketiga. Dan sekarang semua itu seolah tengah diputar ulang.
"Ini lebih menyakitkan, An! Hatiku sangat sakit." Jennie tergugu dengan meremat kain di dadanya.
Sementara di jalanan Aneeq tidak bisa berpikir dengan tenang. Dia merasa gelisah setelah mendengar suara Jennie yang dipenuhi amarah. Dia meninggalkan rapat, dan meminta Caka menggantikannya, sebab dia tidak akan bisa fokus jika seperti ini keadaannya.
Dengan menggunakan kecepatan tinggi akhirnya Aneeq tak perlu waktu lama untuk sampai di mansion. Dia langsung berlari masuk dan menaiki anak tangga.
Zoya yang melihat itu hendak menghentikan Aneeq. Akan tetapi sang anak lebih dulu masuk ke dalam kamar. Lagi-lagi Zoya dibuat penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Jennie, bahkan Aneeq sampai pulang.
Aneeq dibuat tertegun, saat ia sampai di kamar ternyata Jennie sedang terduduk sambil menangis. Wanita itu terlihat memilukan.
"Sayang," panggil Aneeq. Mendengar suara itu, akhirnya perlahan Jennie mengangkat kepala. Dia melihat Aneeq dengan air mata yang masih mendera, Jennie bangkit sementara seluruh tubuhnya gemetar.
__ADS_1
"Jen—"
"Jelaskan padaku siapa dia!" tukas Jennie, mata wanita itu nyaris sembab, sebab sedari tadi ia tak berhenti menangis. Dia mengangkat dagu, seolah membuktikan bahwa dia berani, dia bukan wanita lemah.
Kening Aneeq berkerut, dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Jennie katakan. Jelaskan? Menjelaskan apa? Dan siapa yang harus dia jelaskan.
"Sayang, aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. Siapa yang kamu maksud?"
Mendengar itu, Jennie malah bertambah geram. Tidak mungkin Aneeq tidak tahu orang yang berada di apartemen mereka. "Jangan pura-pura bodoh, An. Aku melihatnya, kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Kamu tidak pernah bercerita apapun tentangnya."
Aneeq semakin dibuat pusing. Dia sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya. Mereka ini sedang membahas apa?
"Hei-hei, pura-pura bodoh bagaimana?" Aneeq mencoba meraih tangan Jennie, tetapi wanita itu segera menepisnya dengan kasar. Dia tidak mau bersentuhan dengan Aneeq sebelum pria itu menjelaskan semuanya.
"Sayang, ayo bicara yang jelas. Sumpah aku tidak mengerti apa yang kamu maksud, dan ke mana arah pembicaraan kita," ujar Aneeq dengan jujur.
Hah! Jennie merasa bodoh sendiri. "Kamu benar-benar tidak sadar apa yang sudah kamu lakukan? Kamu menyembunyikan seorang gadis di apartemen, tanpa bercerita apapun padaku. Dan sekarang, kamu berlagak tidak tahu? Aku bertemu dengannya, An! Aku melihat dia tidur di ranjang yang pernah kita pakai bersama, bahkan dia memakai pakaianku!" Teriak Jennie dengan emosi yang semakin meluap.
Sementara Aneeq hanya bisa menganga.
__ADS_1