
Seperti yang sudah direncanakan, malam ini Cyara dan Clarissa akan makan malam di rumah De. Sebab pria berjambang lebat itu ingin memperkenalkan Cyara kepada seluruh anggota keluarganya, agar tidak ada salah paham yang berujung malapetaka.
Bahkan De yang meminta izin langsung pada Andrew, untuk membawa kedua putrinya. Tanpa pikir panjang, pria paruh baya itu langsung setuju. Meskipun Clarissa beberapa kali beralasan tidak bisa, tetapi Cyara terus memaksa.
Hingga akhirnya gadis cantik itu pun mengalah. Alhasil malam ini dia ikut berdandan untuk memantaskan dirinya. De bilang akan ada supir yang menjemput, padahal di rumah pun mereka memiliki supir pribadi.
"Bagaimana penampilanku, Cla? Apa terlihat menakjubkan?" tanya Cyara sambil memutar tubuhnya. Clarissa memperhatikan dengan seksama, tiba-tiba tangan gadis itu menahan pundak Cyara, lalu menarik ikat rambut gadis itu.
"Coba geraikan rambutmu, supaya terlihat lebih anggun, kalau dikuncir kuda, kamu malah terlihat seperti anak sekolah," ucap Clarissa, menilai penampilan adik tirinya.
Cyara kembali mematut dirinya di depan cermin, dari dulu dia jarang sekali berdandan, jadi dia tidak terlalu mahir untuk memadukan tatanan rambut dan juga dress yang dia kenakan.
"Ke mari, biar kubantu." Clarissa menyuruh Cyara untuk duduk, sementara dia mengambil alat untuk membuat rambut Cyara terlihat bergelombang.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka selesai menyempurnakan penampilan. Clarissa tersenyum tipis sambil memperhatikan Cyara yang terlihat sangat cantik malam ini.
"Perfect!"
Satu kata itu mampu membuat Cyara tersipu, pipinya merona dengan uluman senyum yang tak biasa. Dia semakin tidak sabar untuk bertemu dengan De, pria itu pasti akan terpesona dengan penampilannya. Karena kini dia terlihat sedikit lebih dewasa.
Salah satu asisten rumah tangga mengetuk pintu kamar Cyara, memberitahu bahwa mobil jemputan sudah menunggu mereka di depan rumah.
__ADS_1
Tanpa ba bi bu mereka berdua langsung turun ke bawah. Melihat kedatangan Cyara dan Clarissa, supir yang ditugaskan oleh De untuk menjemput mereka menyambut dengan sopan dan ramah, lalu mempersilahkan kedua gadis cantik itu untuk masuk ke dalam mobil.
Di sisi lain, tepatnya di mansion keluarga Tan. Beberapa asisten rumah tangga terlihat sedang menghidangkan beberapa makanan yang baru saja matang.
Di meja panjang itu, seketika penuh dengan berbagai macam menu masakan. Karena Zoya sendiri yang memerintahkan, bahkan tak jarang ikut turun tangan.
Semua penghuni mansion terlihat rapih, satu persatu mereka keluar dari kamar masing-masing menuju meja makan. Hanya Ken yang tidak terlihat, sebab pria paruh baya itu benar-benar tidak berdaya. Bahkan Ken terpaksa diinfus untuk sedikit memberikannya tenaga.
Di dalam kamar, De berkali-kali mengganti pakaiannya, dia mencoba mencari yang paling pantas, tetapi sampai sekarang belum ketemu juga.
"Haish, kenapa pakaianku mendadak jelek semua?" gerutu De, dia kembali mengambil kemeja yang menggantung rapih lengkap dengan jas warna senada.
Dia mencoba mencocokkannya di badan dan melihat ke arah cermin. Ternyata lumayan juga, akhirnya dia memutuskan untuk memakai kemeja tersebut, tak lupa dia memakai jam tangan koleksinya.
De tersenyum saat mengingat wajah lugu nan polos itu. Tidak menyangka jika pertemuan tanpa kesengajaan itu akan berujung menjadi cinta.
Setelah merasa sempurna dengan penampilannya, De keluar dan menyusul anggota keluarganya di meja makan.
Aroma harum tiba-tiba tercium dengan sangat menyengat, begitu De melangkah menuju tempat duduknya. Seketika semua orang kompak melebarkan kelopak mata, dengan kernyitan penuh tanda tanya.
"Heh, De, jangan mentang-mentang mau bertemu dengan kekasihmu, kamu sampai lupa diri begitu," cetus Choco dengan mengibaskan tangan di depan hidung.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Pakai parfum itu sewajarnya, jangan sampai satu botol kamu tuang di baju, bisa-bisa pingsan nanti pacarmu!" timpal Bee, ikut merasakan resah akibat aroma yang menusuk indera penciumannya.
"Iya-iya maaf, lagi pula aku hanya pakai sedikit, hanya saja ini parfum mahal," balas De membela diri, tidak ingin disalahkan. Walaupun sebenarnya dia memang menyemprotkan parfum itu ke seluruh tubuhnya.
"Sudah-sudah, kenapa malah ribut seperti itu? Lihat, Cyara sudah datang," ucap Zoya melerai perdebatan anak-anaknya. Dia menunjuk Cyara dan Clarissa yang sedang melangkah bersama, hingga tatapan semua orang mengikuti ke mana arah telunjuknya.
De langsung meneguk ludah begitu melihat penampilan Cyara malam ini. Apalagi dalam di dalam jarak sejauh itu, Cyara sudah tersenyum malu-malu.
"Ah, Mochieku."
*
*
*
Ciaaa : Aduh mochieku mau jatuh🐈
__ADS_1
De : Sini Poo pegangin 🙄