
Semalam Cyara bermimpi buruk tentang ayahnya, dan hal itu sukses membuat Cyara benar-benar ingin bertemu dengan Andrew. Dia ingin memastikan bahwa pria paruh baya itu baik-baik saja.
Di dalam kesendirian itu, Cyara termenung dengan pikiran yang berkecamuk. Dia benar-benar bingung, langkah apa yang harus dia ambil setelah ini, sementara ia tidak memiliki siapapun untuk melawan Austin.
Bayangan Andrew kerap memenuhi pelupuk matanya, membuat kerinduan itu semakin nyata. Cyara tak bisa diam saja, dia harus memikirkan cara, bagaimana ia bisa bertemu dengan sang ayah.
Tanpa harus menunggu bantuan dari De, dia tidak ingin selalu merepotkan pria itu, terlebih Cyara tahu bahwa pria itu memiliki segudang kesibukan, dengan profesinya sebagai dokter.
"Aku harus mulai berani, atau aku tidak akan bertemu dengan Daddy selamanya," gumam Cyara, dia yang awalnya duduk di depan jendela langsung melangkah ke arah lemari pakaian.
Siang itu, entah keberanian dari mana, Cyara membulatkan tekad dan memutuskan keluar dari apartemen untuk menemui ayahnya di rumah sakit.
Cyara tahu dia tidak bisa sembarangan masuk, tetapi setidaknya dia bisa melihat Andrew dari kejauhan. Dia kembali mengenakan pakaian serba hitam, agar tidak ada orang yang mengenalinya.
Seperti saat pergi bersama dengan De, seluruh anggota tubuhnya tertutup nyaris tanpa celah. Cyara menyambar tas dan memasukkan ponsel serta beberapa lembar uang.
__ADS_1
Kemudian ia melangkah keluar, meninggalkan apartemen tanpa pesan apapun pada De. Dia yakin pria berjambang lebat itu tidak akan datang lagi, maka dari itu Cyara pergi tanpa pamit.
Disela-sela langkahnya Cyara terus mengulum senyum, dia merasa berdebar sekaligus bahagia, sebab sebentar lagi ia akan bertemu dengan sang ayah.
"Daddy, tunggu Cia yah."
Derap langkah kaki itu semakin terasa mantap, Cyara bahkan sedikit berlari ke sisi jalan raya untuk menghentikan sebuah taksi. Cyara masuk dan langsung menyebutkan alamat rumah sakit di mana Andrew dirawat, tetapi sang supir malah terlihat melamun sambil memperhatikan penampilan Cyara.
"Pak, jalan pelita yah," ucap Cyara sekali lagi, suara cempreng gadis itu akhirnya bisa memecah lamunan si supir, hingga dengan cepat pria itu mengangguk.
"Baik, Nona," jawabnya sedikit terbata.
Tak sampai satu jam, akhirnya Cyara sampai di rumah sakit yang ia tuju. Bibir gadis itu langsung melengkung dari balik masker yang ia kenakan, tiba-tiba jantungnya berdebar dan merasa tak sabar untuk melihat cinta pertamanya.
"Daddy, kita benar-benar akan bertemu," ucap gadis itu, dengan bola mata yang berkaca-kaca, tetapi sungguh ia ingin menangis bahagia, sebab kerinduan yang selama ini ia pendam akan tercurah.
__ADS_1
Cyara segera turun setelah membayar taksi tersebut. Dia melangkah tanpa ragu, karena ia sudah mengingat ruangan rawat Andrew.
Beberapa orang di sana terlihat memerhatikan Cyara dengan penuh tanda tanya, tetapi gadis cantik itu tidak peduli, ia mengikuti ke mana naluri membawanya. Hingga ia menemukan belakang ruangan rawat sang ayah, bibir Cyara semakin melengkung dengan sempurna.
"Lihat, ini tidak terlalu sulit Cia. Kamu bisa asal kamu mau berusaha," gumam gadis cantik itu, ia melangkah mendekati jendela, dia akan menggunakan celah di sana untuk melihat Andrew.
Cyara memperhatikan suasana sekitar, beruntung tidak banyak orang. Hingga ia dapat menjalankan aksinya dengan lancar.
Dari balik celah itu, ia bisa melihat Andrew yang terbaring lemah di atas brankar dengan banyak selang dan alat penyokong kehidupan pria itu.
"Daddy, ini Cia," lirih gadis itu dengan air mata yang sudah mengalir deras. Dia tersenyum dan menggerakkan jarinya untuk menyentuh kaca jendela, seolah jemari itu tengah mengelus tubuh sang ayah.
Namun, tiba-tiba tangan Cyara berubah terkepal, saat ia mengingat bahwa semua penyebab kekacauan ini adalah Austin. Rasa benci di dadanya semakin membesar, dia benar-benar tidak akan memaafkan pria iblis itu.
Cyara menundukkan pandangan, sebab ia hendak menghapus jejak tangisnya. Namun, sebelum itu terjadi, kedua netra Cyara menangkap sesuatu yang lain, dia dibuat terkejut dengan pemandangan di sudut lain, di mana Austin dan Riana tengah berbicara.
__ADS_1
Akan tetapi bukan itu poinnya, sebab mereka terlihat sangat intim, dengan tangan Austin yang melingkar di pinggang Riana.
Cyara langsung menutup mulutnya dengan satu tangan, dia terus menggelengkan kepala. "Tidak mungkin, mereka tidak mungkin punya hubungan, 'kan? Bunda tidak mungkin mengkhianati Daddy."