
Dikarenakan masih ada sisa waktu istirahat makan siang, Alana menggunakan kesempatan itu untuk menemui De di ruangannya. Sebab dia sempat melihat pria berjambang lebat itu keluar dari salah satu kamar pasien, sementara tugasnya sudah dialihkan kepada dokter Darwin.
Alana sedikit menarik nafas dan membuangnya secara perlahan-lahan. Dia menyelipkan anak rambutnya yang menjuntai, ingin terlihat serapih mungkin di depan De.
"Ehem ...." Wanita itu berdehem, sementara tangannya bergerak untuk mengetuk pintu.
Tok Tok Tok...
"Dokter De, apakah anda di dalam?" tanyanya untuk sekedar berbasa-basi, padahal dia sudah sangat yakin bahwa De benar-benar ada di dalam sana. Wanita itu berusaha untuk menampilkan senyum terbaik, sebelum De membuka benda persegi panjang itu.
Di dalam ruangan.
De menautkan kedua alisnya saat mendengar suara ketukan, dia yang saat itu sedang memerhatikan foto Cyara, berganti dengan memasang telinga. Karena dia mendengar suara seorang wanita, dia berharap bahwa itu adalah kekasihnya.
Namun, harapan De harus pupus, sebab dia sangat mengenali suara itu. Ya, suara itu adalah milik Alana, De langsung memutar bola matanya jengah. Untuk apa wanita itu datang ke mari? Bukankah ia sudah bilang, sedang tidak ingin diganggu.
Tak ingin berurusan lebih panjang dengan Alana, akhirnya De bangkit. Dia tidak akan mengizinkan wanita itu masuk, sebab De tahu siapa Alana. Wanita yang kerap membuatnya merasa risih, karena dia benar-benar tidak menyukai sikap Alana yang dinilainya berlebihan.
Bukannya senang, semua itu malah terasa memuakkan.
Pria itu menggerakkan kenop pintu, seiring benda itu berputar senyum di bibir Alana semakin bertambah mengembang. Wanita itu ingin mengambil kesempatan sebaik mungkin, karena ibu dari pemilik rumah sakit ini pun terlihat mendukungnya. Jadi dia harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan De.
Alana langsung mengangkat kepala begitu tubuh jangkung De berdiri tepat di depannya. Namun, lengkungan di bibir wanita itu sedikit memudar, saat ia melihat De memberikan sebuah tatapan tidak senang.
"Ada apa? Aku tidak memiliki waktu banyak karena hari ini aku sedang tidak ingin diganggu. Selain hal genting, jangan pernah ketuk pintu ruanganku!" ucap De, sudah mewanti-wanti Alana agar tidak membuang-buang waktunya.
__ADS_1
Namun, wanita itu sepertinya sudah tebal muka. Dia percaya diri sekali bahwa De sebenarnya mudah diluluhkan asal dia mau berusaha.
Wanita yang memakai lipstik merah menyala itu tersenyum.
"Aku hanya ingin bertanya apa kamu sudah makan siang, kalau belum biar aku menemanimu, kebetulan aku baru selesai memeriksa pasien, jadi baru bisa istirahat."
"Maaf Dokter Alana, sepertinya ucapanku sudah sangat jelas, aku sedang tidak ingin diganggu oleh si—a—pa—pun!" ketus pria itu, bahkan De sampai mengeja supaya Alana lekas enyah dari hadapannya.
"Tapi aku hanya—"
"Apa kamu tidak mengerti bahasa manusia?!" Habis sudah kesabaran De untuk menghadapi wanita gatal itu. Sedari tadi dia masih memberi sedikit toleransi, tetapi sepertinya Alana tidak mengerti akan hal itu.
Sorot mata De menajam, membuat Alana meneguk ludahnya dan tak mampu bicara. Tak ingin semakin kesal, akhirnya De memutuskan untuk masuk kembali ke dalam. Namun, niatnya terurung begitu melihat Cyara yang melangkah dengan ceria menuju ruangannya.
Seketika pandangan mata itu berubah melunak, bahkan tanpa sadar De menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah lengkungan.
"Sedang apa kalian berdua?" tanya Cyara saat ia sudah berdiri di antara De dan Alana. Gadis itu memicing curiga, membuat Alana merasa kesal.
Bisa-bisanya Cyara berbicara seperti itu? Apa gadis itu lupa? Bahwa dia juga salah satu dokter di rumah sakit besar ini?
"Itu sama sekali bukan urusanmu!" jawab Alana dengan nada ketus, dia menatap Cyara tajam, seperti menatap seorang musuh.
Mendengar itu, Cyara malah membusungkan dada. Di mata gadis itu, Alana telah mengibarkan bendera perang. Mengalah? Tentu saja tidak!
"Tentu saja ini semua menjadi urusanku!"
__ADS_1
"Memangnya siapa kamu? Hanya gadis cleaning servis yang mengaku-ngaku sebagai keponakan Dokter De!"
Hah, ternyata Alana belum tahu siapa dirinya? Cyara melangkah dan sengaja menyenggol bahu wanita itu dengan keras hingga ia berdiri di samping De. "Sekarang aku kekasihnya, kamu mau apa?!"
Deg!
Kelopak mata Alana langsung membulat sempurna mendengar pengakuan Cyara. Alana menatap tangan Cyara yang bergelayut manja di lengan De, dan pria itu sama sekali tidak marah.
Jadi benar? Mereka memiliki hubungan lebih dari sekedar om dan keponakan?
"Apalagi yang ingin kamu dengar? Apa semuanya kurang jelas?" ujar De, membuat Alana semakin mati kutu.
"Aku—"
"Poo, aku capek berdiri terus," keluh Cyara sengaja memotong ucapan Alana.
"Kalau begitu ayo masuk ke dalam, biar aku pijat kakimu."
Cyara mengangguk setuju, tanpa memedulikan Alana kedua orang itu langsung masuk begitu saja. Bahkan suara pintu yang terbanting keras sangat jelas di telinga Alana.
Brak!
Alana langsung mengepalkan tangannya.
*
__ADS_1
*
Yo mau apa yo 🙄🙄🙄