Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Aku Akan Mengusirmu!


__ADS_3

De langsung mendelik mendengar ucapan Cyara yang menurutnya asal-asalan. Dia hendak melepaskan lengannya yang dipeluk erat oleh gadis manis itu, tetapi Alana yang kembali bicara, membuat fokus De teralihkan.


"Dokter De, dia benar-benar keponakanmu?" tanya Alana dengan alis yang terangkat. Sebab dia tahu, bahwa De tidak pernah memperkenalkan siapapun, kecuali keluarga besarnya. Yakni keluarga dari marga Tan.


"Cia memang keponakannya Om Dokter, iya kan, Om?" jawab Cyara, membuat Alana merasa bahwa gadis itu tengah membohongi dirinya. Terlebih melihat sikap De yang berusaha melepaskan diri dari gadis sembarangan itu.


"Lepas!" cetus De sambil melotot tajam ke arah Cyara. Namun, bukannya takut, Cyara malah tersenyum hingga matanya menyipit.


Sebab kemarahan De bukanlah apa-apa, dia sepertinya sudah sangat kebal, karena saat di rumah Andrew pun kerap memarahinya saat ia memanjat pagar, padahal gerbang rumah terbuka lebar.


"Dok—"


"Iya, iya!" tukas De akhirnya, tak ingin banyak pertanyaan yang membuat dia sakit kepala. Baru saja datang, dia harus mengeluarkan tenaga untuk menghadapi drama dua wanita di depannya.


"Maksudnya dia benar-benar keponakanmu?" tanya Alana memperjelas maksud ucapan De.


De mengeratkan gigi depannya, menahan geram yang tak berkesudahan. Bahkan urat di kepalanya sampai menonjol, membuktikan bahwa dia benar-benar jengah. "Aku sudah mengatakannya, Dokter Alana! Dan kamu—" De menunjuk wajah Cyara yang senantiasa sumringah. "Ikut ke ruanganku sekarang juga!"


Mulut Alana menganga, dia menutupnya dengan satu tangan. Sebab tak menyangka, gadis berseragam cleaning servis itu adalah keponakan pria yang disukainya.


Sementara Cyara sudah ditarik oleh De, tetapi bukan anggota tubuhnya, melainkan kerah baju Cyara. Gadis manis itu persis sekali seperti kucing yang baru saja dipungut dari jalan raya.


***

__ADS_1


Sampai di ruangan De, pria itu melepaskan tangannya dari kerah baju Cyara, lalu meraih beberapa lembar tisu untuk membersihkan anggota tubuhnya yang baru saja bersentuhan dengan gadis manis itu.


Tatapan De sama sekali tak melunak. Dia terus menatap tajam Cyara yang selalu bersikap lebih tenang dari pada dirinya.


De mengatur nafas sejenak, berharap kekesalannya meredam seketika. "Bisakah kamu mendengar ucapanku?" Tanya De tiba-tiba.


Cyara langsung menegakkan badan. "Yang mana?"


"Astaga!" De memegang kepalanya. "Maksudku aku belum bicara, tapi bisakah kamu mendengarkan ucapanku untuk kali ini saja?!" Ketus pria tampan itu, sudah tak tahan. Rasanya kalau tidak marah-marah itu tidak akan enak.


Cyara sudah seperti disemprot oleh bisa ular kobra. Dia sampai menutup matanya saat De bicara.


"Iya, Om. Bisa," jawab Cyara tergagap.


"Bisa bahagiain, Om, eh—"


"Ciaaaaaaaa!!!" teriak De dengan gerakan tangan yang ingin meremat kepala Cyara.


"Iya, Om, maaf. Cia akan serius mulai sekarang. Om mau bicara apa?"


De menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. Dia terus melakukan itu, hingga sedikit demi sedikit dia merasa tenang.


"Aku sudah sering bilang, jangan bersikap sembarangan! Kamu mengaku menjadi keponakanku? Memangnya ada seorang paman yang membiarkan keponakannya tidur di rumah sakit seperti ini? Itu semua akan mencoreng nama baikku, Kudek. Harusnya kamu sadar, dan berpikir dua kali saat ingin bicara. Jangan seenaknya!" jelas De, dia sudah bertolak pinggang dan menatap Cyara yang kali ini menundukkan kepala.

__ADS_1


"Dan ingat, jangan hanya memikirkan dirimu sendiri, pikirkan aku juga!"


"Cia emang sering mikirin, Om," lirih gadis cantik itu, membuat wajah De mengeryit. Apa katanya? Cyara sering memikirkannya? Apa jangan-jangan gadis ini memikirkan yang tidak-tidak? Dia pasti sudah gila!


"Memikirkan apa kamu? Jangan aneh-aneh yah! Aku tidak ingin lagi mendengar kamu bicara sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi. Kalau kamu mengulanginya lagi, aku tidak segan mengusirmu!"


Tubuh Cyara membatu dengan kepala yang terus menunduk. Tak berani untuk menatap De yang tengah berapi-api. Namun, hal itu justru membuat De bertambah geram, sebab Cyara malah terus terdiam dan tak menjawab sepatah katapun.


"Ku—" De langsung menghentikan ucapannya, saat mendengar Cyara terisak-isak. Pria tampan terpaku, dan terus menatap bahu yang naik turun itu.


Tubuh De terasa lemas dengan bahu yang merosot. Dia menggelengkan kepala dan kembali merasa tak tega. De menjadi si serba salah.


"Hei, kenapa malah menangis?" tanya De dengan suara yang sudah melemah.


Namun, Cyara tak lekas menjawab, isak tangisnya malah semakin terdengar kencang. Hingga De akhirnya mengalah. "Baiklah-baiklah, sudah diam. Aku tidak akan mengusirmu."


Cyara menggeleng.


"Apalagi? Oh my God!"


Suara tangis Cyara semakin pecah, membuat De kalang kabut. Yang ada nanti orang malah berpikir macam-macam padanya. Dia sedikit mengusap bahu Cyara, tetapi gadis itu tetap tak mau diam.


"Kamu ini kenapa sih?!" tanya De yang hanya memiliki rasa sabar setipis kulit bawang.

__ADS_1


"Sakit, Om! Kaki Cia jangan diinjek!" ucap Cyara dengan sedikit memekik.


__ADS_2