Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Sarapan Pagi


__ADS_3

Cyara turun dari ranjang dan langsung membuka gorden, agar sinar matahari masuk ke dalam kamarnya. Sinar yang begitu hangat dan menenangkan.


Gadis manis dengan bibir tipis itu meregangkan otot-otot dalam tubuhnya sambil menguap, dan pada saat ia menghirup udara, dia merasakan aroma yang lain, saking nikmatnya ia sampai menutup mata.


"Wah, seperti ada yang sedang memasak, apakah itu tetangga sebelah?" gumam Cyara sambil celingukan.


Lantas dia keluar dari kamar untuk mengambil minum, karena tenggorokannya terasa sangat kering.


Namun, belum sampai dapur, dia sudah dibuat tertegun. Sebab di pagi hari seperti ini dia sudah melihat pria gagah bersetelan rapih tengah berdiri di depan kompor.


"Om Dokter," gumam Cyara sambil memastikan bahwa ia tidak salah lihat.


Cyara terus memandangi De yang membelakanginya. Pria itu seolah tak merasakan kehadiran Cyara, hingga tak menoleh sedikitpun meski jarak di antara mereka tidak terlalu jauh.


Sekilas Cyara seperti melihat bayangan Andrew, pria itu juga sering memasak sarapan untuknya, demi menjadi ibu dan ayah sekaligus, Andrew selalu berusaha menjadi orang tua terbaik untuk Cyara.


"Untuk apa berdiri di situ terus? Kamu mau jadi patung?" ketus De, tiba-tiba mengagetkan Cyara yang malah terlihat melamun.


Gadis cantik dengan wajah bantal itu menggeleng. Lalu melangkah mendekati De, dia berdiri persis di sebelah kanan pria itu. Cyara menyembulkan kepala, ingin melihat apa yang sedang dilakukan oleh De.


"Kenapa Om pagi-pagi sudah di sini?"


"Tentu saja karena aku tidak akan lupa bahwa ada kucing dekil yang harus aku beri makan."

__ADS_1


Mendengar itu, bibir Cyara langsung mencebik. Padahal dia sudah tidak dekil, tetapi kenapa De selalu memanggilnya seperti itu? Apa De tidak bisa melihat kecantikannya.


Bukannya membantu Cyara malah memilih untuk duduk. Dia memperhatikan De yang menggunakan celemek dan juga memegang spatula.


"Jangan hanya duduk-duduk tidak jelas, perhatikan aku!"


Cyara mengangkat wajah, lalu tiba-tiba senyum terbit dari bibir gadis cantik itu. "Om benar-benar ingin aku perhatikan? Apakah Om mulai menyukaiku?" Kekeh Cyara, mengajak De bercanda.


Namun, seperti tidak ada kamus tertawa dalam pria itu, De malah melirik tajam membuat suasana di sekitar sana menjadi horor seketika.


Tawa Cyara langsung sirna dan berganti meneguk ludah. Sepertinya dia telah salah orang, sebab De benar-benar tidak bisa diajak bergurau.


Cyara akhirnya terdiam, dia memperhatikan De yang masih sibuk dengan masakannya. Gadis cantik itu tidak tahu saja, kalau di balik tubuh itu, ada bibir yang tiba-tiba melengkung.


"Wah ini terlihat enak," puji Cyara saat De sudah menaruh satu piring pasta di atas meja, lengkap dengan taburan keju yang melimpah.


Namun, dia malah melihat De melepaskan celemek dan mengancingkan kembali lengan kemejanya. Lalu meraih tas seperti ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini.


"Om, mau ke mana? Kenapa kita tidak sarapan bersama?"


"Aku sudah sarapan di rumah. Makanlah, aku harus berangkat. Dan ini uang untukmu, gunakan sebaik mungkin, pakai sesuai kebutuhanmu," jelas De sambil meletakkan beberapa lembar uang untuk Cyara.


Cyara terlihat bergeming, dia malah merasa tidak nyaman, sebab ia berpikir bahwa De akan jarang ke mari untuk menemuinya.

__ADS_1


"Tapi—"


De melihat jam di pergelangan tangannya, lalu ia menatap Cyara yang terlihat gelisah. "Apalagi?! Aku sudah menyempatkan datang sepagi ini untuk memasakkan makanan untukmu, jadi biarkan aku pergi tanpa harus berdebat."


"Bukan begitu, Om. Maksudku, apa setelah ini Om akan jarang datang ke mari?"


De melihat kedua tangan Cyara yang meremass ujung baju, seolah menahan sesuatu yang ada dalam dirinya. Namun, De memilih untuk tidak peduli, dia memasang wajah serius.


"Tempat tinggal, pakaian, bahan makanan sudah aku sediakan. Jadi tidak ada alasan untukku untuk sering-sering datang, mulai sekarang hubungi aku jika memang ada hal penting, yang benar-benar tidak bisa kamu lakukan. Untuk selebihnya aku pikir kamu bisa melakukannya sendiri."


De menjelaskan panjang lebar berharap Cyara mengerti apa yang ia ucapkan. Namun, bukan jawaban iya yang ia dapatkan, Cyara malah berlari dan tiba-tiba menubruk tubuhnya hingga ia sedikit terhuyung.


Gadis cantik dengan bibir tipis itu membenamkan wajah di dada bidang De, sebuah reaksi spontan sebagai bentuk terima kasih, seperti yang sering ia lakukan pada sang ayah, saat pria itu menuruti semua permintaannya.


"Terima kasih, Om. Terima kasih sudah membantu Cia sampai sekarang."


Mendapat perlakuan seperti itu dari seorang gadis, De hanya mampu untuk bergeming. Lidah pria itu seolah kelu, sementara tubuhnya kaku, hingga tak dapat membalas ataupun menolak.


Ah, sejauh ini dia tidak mengerti kenapa dia malah bersikap seperti ini.


***


Mintak semangatnya dong Oey 😩😩😩 Ulernya susah banget buat berderik-derik.

__ADS_1


__ADS_2