Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Setelah puas berbelanja, akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang. De mengajak Cyara ke lantai atas, di mana cafe berada. Cyara menatap senang pada benda yang menggantung di ujung ponselnya, sebuah bandul berbentuk ular kecil yang buntutnya dapat menyala.


Sebenarnya dia sudah merengek pada De agar dibelikan bandul boneka Teddy Bear, tetapi pria itu malah mengambil dua benda yang ditemukannya. Satu berbentuk kue mochi yang tersenyum untuk De, satu lagi bentuk ular untuk Cyara.


Tidak masalah, semuanya terlihat lucu di mata gadis itu. Bahkan Cyara sendiri yang memasangkan benda itu pada ponsel milik De. Meski tidak terlihat senang, tetapi pria itu tetap membiarkan Cyara dengan tingkah kekanak-kanakannya.


Pria itu hanya sedikit menyunggingkan bibir, melihat Cyara yang tersenyum ceria.


"Cih, kamu menyukainya?"


"Heem, lucu, mirip Om."


"Mirip apanya?"


Cyara terkekeh kecil. "Kalau dipegang langsung bereaksi. Cuma bedanya dia menyala, kalau Om marah-marah."


Mendengar itu, De langsung melotot tajam. Namun, hal itu tak membuat Cyara takut sama sekali, dia malah semakin tersenyum dan memeluk lengan De dengan erat.


"Aku tidak salahkan?"


De tak menjawab, dia hanya senantiasa berjalan, hingga mereka masuk ke dalam sebuah cafe. De langsung memesan makan siang untuk mereka berdua.


Sementara Cyara yang merasa kantung kemihnya penuh, pamit untuk pergi ke toilet. Saat dia kembali dan ingin menghampiri De, tiba-tiba tubuhnya tak sengaja bertubrukan dengan seorang gadis.


"Aduh!" keluh gadis itu, sementara Cyara yang terhuyung pun langsung menjaga keseimbangan tubuhnya.


"Maaf, Kak. Aku tidak sengaja," ucap Cyara setelah dirinya kembali berdiri dengan tegak. Dia merasa bersalah, sebab ia yang menabrak gadis di depannya.


"Tidak apa-apa, aku hanya kaget," jawabnya lalu mengangkat wajah. Dia tak sendiri, ada gadis lain berdiri di sampingnya.


"Kamu beneran nggak apa-apa, Ai? Tapi lihat, burgermu jadi jatuh."


Gadis bernama lengkap Aileen pun mengangguk. Dia meyakinkan diri pada Havana—adik iparnya—bahwa dia baik-baik saja.

__ADS_1


Sementara Cyara terus menatap Aileen, wajah gadis itu terasa tidak asing. Dia terus mengingat-ingat, hingga memorinya jatuh pada beberapa tahun silam, saat dirinya pernah masuk ke sebuah sekolah dasar.


"Wajahmu tidak asing."


Mendengar itu, Aileen kembali mengangkat wajah dan menatap Cyara yang serba tertutup. Bahkan gadis itu tidak dapat melihat bola mata Cyara.


"Kamu mengenalku?"


"Sepertinya kita pernah satu sekolah, kamu gadis yang sering menangis itu 'kan?" tebak Cyara, dia yakin betul bahwa Aileen adalah teman semasa kecilnya. Gadis yang selalu menangis ketika di sekolah.


Cyara langsung membuka makser dan kacamatanya. Agar Aileen dapat mengenali dirinya.


Senyum Aileen dan Cyara sama-sama mengembang. Saat mereka menyadari bahwa sebenarnya mereka telah berteman.


"Cia."


"Aileen."


Kompak keduanya, lantas setelah itu mereka berteriak heboh. Seperti bocah kecil yang baru saja bertemu dengan teman sebayanya. Bahkan Havana ikut serta, mereka saling memeluk untuk melepas kerinduan.


"Jadi kalian berteman?"


Aileen dan Cyara mengangguk.


"Aku tebak, sifatmu tak jauh dari kakak iparku."


Mendengar ucapan Havana, Cyara langsung membola. "Kamu sudah menikah?" Tanyanya tak percaya.


Aileen mengangguk cepat. "Aku sudah menikah, ini adik iparku. Dia memang sedikit menyebalkan tapi orangnya baik kok. Bagaimana denganmu, kamu datang dengan siapa?"


Cyara tampak tersenyum, dia melirik De yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. Pria itu terlihat tengah memainkan ponselnya, dan tak peduli alam sekitar.


"Aku datang dengannya," ucap Cyara sambil menunjuk De.

__ADS_1


Mulut Havana langsung menganga, dia langsung menggeplak lengan Aileen. Karena ia seperti melihat sugar daddy yang ada di film-film yang pernah ia tonton.


"Dia Sugar Daddy-mu yah?" tanya Havana dengan nada bersemangat.


Tak hanya Aileen yang cengo, tetapi Cyara juga melakukan hal yang sama.


"Hah, Sugar Daddy itu apa?"


"Sugar Daddy itu pria dewasa yang membiayai hidupmu, biasanya mereka memiliki postur tubuh yang bagus, seperti itu tuh." Tunjuk Havana pada De dengan ekor matanya.


Mendengar penjelasan Havana seketika otak Cyara langsung bekerja. Dia mengangguk membenarkan ucapan gadis itu.


"Oh iya benar, dia memang Sugar Daddy-ku, dia sangat baik. Bahkan aku tinggal di apartemennya."


"Benarkah?" tanya Aileen. Dia jadi teringat dengan suaminya, sebelum menikah mereka juga sudah tinggal bersama.


"Iya, tapi orangnya sedikit jutek."


"Wah, dia benar-benar mirip Kak Hansel. Apa dia sering memarahimu?" Kini Havana kembali bicara. Dia terlihat bersemangat sekali untuk meracuni otak-otak polos seperti kakak iparnya.


"Dia memang sering memarahiku. Tapi tidak benar-benar marah."


"Apa karena kamu menciumnya? Seperti aku, Kak Hansel akan berhenti marah jika aku sudah menciumnya."


"Mencium apa? Aku tidak pernah menciumnya."


Aileen dan Havana saling tatap, lalu mereka merangkul bahu Cyara. Aileen yang sudah terkontaminasi oleh adik iparnya, jadi ikutan sedikit gila.


"Kalau begitu, kamu harus menciumnya saat dia marah. Dengan begitu, dia akan baik lagi padamu. Bukankah begitu, Ai?" Havana meminta persetujuan Aileen. Gadis manis dengan rambut sebahu itu langsung mengangguk, membenarkan ucapan Havana.


Cyara terdiam, hingga akhirnya dia mengangguk. "Baiklah, lain kali aku akan mencobanya."


Mendengar itu, Aileen dan Havana langsung tersenyum sumringah.

__ADS_1


***


Jangan lupa sumbangin jempolnya😌😌😌


__ADS_2