Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Moo&Poo #7


__ADS_3

Pagi datang.


Cahaya matahari mulai membias di antara celah kamar pengantin baru. Saat itu Cyara benar-benar tak mampu untuk menggerakkan anggota tubuhnya sedikitpun.


Dia seperti tidak memiliki tenaga yang tersisa, sebab semalam De telah merenggut semuanya. Tulang belulang Cyara seperti dipatahkan, hingga menyisakan rasa lemas yang tak berkesudahan.


Sementara si pelaku terlihat bangun dengan segar bugar. De mengerjap, meregangkan otot-ototnya dengan menggerakkan tangan ke kanan dan ke kiri, hingga dua bola matanya dapat melihat Cyara yang terbaring di sampingnya.


De mengulum senyum.


Dia menyingkap rambut Cyara yang menutupi wajah cantik gadis itu. Lalu memberikan kecupan di kening, terasa lama dan begitu dalam.


"Good morning, My Wife," ucap De dengan sumringah. Dia mengelus-elus bahu Cyara yang masih terlihat polos, hingga membuat gadis itu akhirnya perlahan membuka mata.


Namun, sumpah demi apapun, Cyara tak dapat menggerakkan anggota tubuhnya, hanya ada bahasa mata yang berbicara. Bahwa dia benar-benar merasa lelah.


"Kamu tidak mau bangun, Moo?" tanya De, kini tangan pria itu sudah beralih memeluk pinggang Cyara.


Gadis manis itu sedikit menggeleng.


"Aku lelah, Poo. Biarkan aku istirahat hari ini, semalam kamu benar-benar mengerikan!" ketus Cyara dengan suaranya yang parau. Khas orang yang baru saja bangun tidur, dia menarik selimut hingga naik untuk menutupi seluruh tubuhnya.


De terkekeh.


"Kamu bilang menyukainya. Jadi aku terlalu bersemangat, Sayang." Pria berjambang lebat itu mengunci kaki Cyara, padahal gadis itu tidak akan ke mana-mana.

__ADS_1


"Lupakan! Sekarang aku ingin memulihkan kembali tenagaku. Lagi pula, apa kamu tidak merasa lelah sedikitpun? Kenapa terlihat segar begitu?"


"Karena aku menikmati percintaan kita."


Mendengar itu, Cyara mengangkat wajah, pandangan keduanya bertemu. Cyara tersenyum tipis. Senyum yang tiba-tiba memudar karena Cyara merengek manja, "Tapi sekarang aku sangat lelah, Poo."


"Kita bersihkan badan dan makan terlebih dahulu, habis itu istirahat."


"Aku tidak memiliki tenaga untuk pergi ke kamar mandi."


"Aku akan menggendongmu."


"Aku juga tidak kuat turun ke bawah untuk mengambil makanan."


"Aku akan mengambilkannya untukmu."


"Kamu tidak memiliki alasan lagi, sekarang ayo ikut aku ke kamar mandi!" De bangkit dari ranjang, membawa tubuh polos Cyara yang dipenuhi bercak merah mahakaryanya ke dalam kamar mandi.


Dia meletakkan Cyara di bathtub, lalu mengisi bak tersebut dengan air hangat.


"Biar aku yang memandikanmu, kamu diam saja."


Cyara patuh, dia bagai boneka, karena terus diam seperti benda tak bernyawa saat De menyabuni, dan sedikit memberikan pijatan untuknya.


"Angkat tanganmu!" titah De, tetapi Cyara malah menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Tidak bisa, Poo."


De terkekeh, melihat Cyara yang merengek seperti sebuah hiburan tersendiri untuknya. Pria itu mengalah, dia membersihkan lekukan-lekukan di tubuh Cyara tanpa meminta apapun pada gadis itu.


"Aw!" sentak Cyara saat De sengaja menusukkan jarinya.


Pria itu menyeringai.


"Sakit, Poo. Jangan ditusuk pakai itu!"


"Lalu pakai apa? Ularku?"


De terkekeh, tetapi langsung mendapat pukulan dari Cyara.


"Aku sudah bilang, aku lelah! Jangan macam-macam yah."


De mengusap salah satu pipi Cyara dengan tangan besarnya, meninggalkan beberapa kecupan di bibir gadis itu, bahkan tak jarang ada sedikit lumaatan di dalamnya. "Iya, Sayang. Hari ini aku akan melepaskanmu, tapi tidak lain kali."


Cyara mendelik, sementara De langsung beranjak, dia melangkah ke arah shower dan memutar kran hingga kucuran air mulai membasahi tubuhnya. Cyara terperangah, sumpah demi apapun, dia terpesona melihat tubuh De yang begitu kekar dan sempurna. Betul-betul wujud pria dewasa.


De melirik istrinya, dia tersenyum kecil dan berkata. "Kamu berubah pikiran, Moo?"


Seketika itu juga Cyara langsung tersadar dari lamunannya. Dia menggeleng pelan, dan menjawab dengan lantang. "TIDAK!"


***

__ADS_1



__ADS_2