Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Merasa Gila Sendiri


__ADS_3

Hari itu, di rumah sakit Puri Medika, De kedatangan kedua orang tuanya. Sang ibu yang sudah mengatakan ingin periksa kandungan, datang dengan sang ayah yang duduk di kursi roda.


De sudah lebih dulu mengatakan pada Dokter Alana. Membuat janda muda itu terlihat sumringah. Sebab dia akan bertemu dengan orang tua pria yang menjadi incarannya.


"Mom, Dad. Aku langsung antar saja ke ruangannya yah," ucap De sambil melangkah lebih dulu. Menunjukkan ruang pemeriksaan, di mana Alana bertugas.


Sebenarnya dia malas sekali jika harus bertemu dengan wanita itu, tetapi karena ingin menemani ibunya, dengan terpaksa De mengubur dalam-dalam ketidaksukaannya terhadap Alana.


"Terima kasih ya, Sayang. Setelah ini kamu kembali saja ke ruanganmu. Biar Mommy ditemani Daddy," balas Zoya seraya mengusap bahu Ken.


"Tidak, Mom. Aku juga ingin melihat calon adikku."


"Cih, makanya buat sendiri sana!" cibir Ken pada putra keempatnya. Sebab dia hafal betul bagaimana sikap De yang tidak pernah mengenal seorang wanita, sifat yang berbanding terbalik dengan putra sulungnya.


Dia tidak tahu saja, kalau pria bak kulkas dua pintu itu menyembunyikan seorang gadis di apartemen sang kakak. Bahkan sudah sempat merasakan ciuman pula.


De mengambil alih pegangan kursi roda, hingga ia yang mendorongnya. Dia tersenyum tipis, sambil membayangkan wajah imut Cyara yang tiba-tiba hadir di pelupuk mata. "Sabar, Dad. Lagi pula aku belum terlalu tua. Daddy tidak ingat berapa umur Daddy saat menikah dengan Mommy?"


"Heh, jangan kurang ajar!"


Melihat perdebatan kecil itu, Zoya terkekeh kecil. Hingga akhirnya mereka sampai di ruangan Dokter Alana. Zoya yang sudah didaftarkan lebih dulu oleh De, akhirnya masuk tanpa harus menunggu.

__ADS_1


Alana tersenyum, menampilkan raut sebaik mungkin di depan Ken dan Zoya. Dia benar-benar ingin terlihat baik dan ramah.


Saat pemeriksaan pun ia tak lepas memandangi wajah De. Mengajak dokter tampan itu bicara. Namun, De hanya membalas dengan sekedarnya. Hingga interaksi itu ditangkap oleh Zoya.


Dia bisa melihat bahwa ada sesuatu lain di antara mereka. Alana terlihat menyukai putranya. Menyadari hal itu, Zoya mengulum senyum tipis, dan berharap semoga putra keempatnya itu dapat luluh oleh Dokter cantik itu.


***


Pada saat jam makan siang. De kembali keluar, dia melepas jas dokter dan hanya mengenakan kemeja berwarna biru muda yang ia pinjam dari lemari Aneeq.


Pria itu berencana untuk mengajak Cyara berbelanja. Membeli beberapa pakaian dan juga bahan makanan, agar gadis itu tidak perlu repot-repot keluar ataupun sembarangan memesan jajanan.


Setelah mengukur jalan raya beberapa puluh menit. Akhirnya mobil mewah itu kembali terparkir di basemen apartemen. De segera melangkah untuk menemui Cyara, sebab tadi pagi ia tidak bicara apa-apa pada gadis itu.


"Mungkin dia tertidur setelah kekenyangan."


Benar saja, gadis itu terlihat tengah beristirahat. Bahu gadis itu sedikit terbuka, sebab dress rumahan milik Jennie tersibak, hingga menampilkan kulit Cyara yang putih bersih.


De sedikit memalingkan wajah, lalu melangkah mendekati Cyara. Pria itu duduk di sisi ranjang, hendak membangunkan Cyara yang terlihat nyenyak.


"Kudek," panggil De dengan suara pelan. Namun, pria itu membuat sebuah guncangan. Tangan De sudah bertengger di bahu gadis manis itu, bergerak untuk membangunkan Cyara.

__ADS_1


Tidak ada reaksi apapun selain dengkuran halus yang keluar dari mulut dan hidung Cyara. Sebuah kesempatan emas bagi para setan jahil untuk menggoda De, agar melakukan apa yang diinginkan nalurinya.


Pria itu merasa gila sendiri. Sebab tanpa tahu malu dia malah mengecup bahu Cyara yang terbuka. Sebuah sentuhan lembut nan basah yang membuat Cyara akhirnya menggeliat, lalu mengerjapkan kelopak matanya.


"Om?!" panggil Cyara sedikit tersentak. Dia begitu terkejut melihat De yang tiba-tiba sudah berada di kamarnya. De langsung bergerak gelisah, dia membuang wajah untuk menghindari tatapan Cyara.


Gadis itu beringsut, lalu mendudukkan dirinya dengan tegak. "Om, sedang apa? Kenapa pulang begitu cepat? Apa ada sesuatu yang tertinggal?" Tanya Cyara bertubi, ingin mendengar alasan De berada di sini.


De bangkit dan menghadapkan tubuhnya ke arah jendela. Mengusir pikiran gila yang bersarang di otaknya.


De kau benar-benar sudah gila!


"Jangan berpikir buruk! Aku hanya ingin mengajakmu berbelanja. Bersiaplah, aku akan menunggumu di luar. Pakai jaketku yang semalam, baju itu terlalu kedodoran," jelas tanpa memalingkan wajahnya dari gorden yang bergerak ke sana ke mari.


Dia mulai takut, takut tak bisa mengendalikan diri dari candu yang mulai menggerogoti gairah sukmanya.


Mendengar itu, Cyara langsung tersenyum ceria. "Benarkah? Om mau mengajakku berbelanja. Apa aku boleh membeli ponsel? Aku sudah mengingat nomor Jessie, Om."


"Hem."


Setelah mengatakan itu De buru-buru membawa kakinya untuk keluar dari kamar. Sementara Cyara langsung berteriak kegirangan. Sebentar lagi, dia akan mengetahui kabar ayahnya melalui Jessie. Dia berharap semoga kondisi Andrew mengalami peningkatan dan bisa sembuh seperti sedia kala.

__ADS_1


***


__ADS_2