Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Pengakuan Riana


__ADS_3

Riana tersadar, kelopak matanya menyipit dengan sebuah kernyitan, pertanda bahwa kepalanya masih terasa berdenyut. Dia melihat sekeliling dan juga tubuhnya sendiri, beberapa luka sudah di bersihkan dan diobati membuat dia semakin bingung.


"Kenapa aku bisa ada di rumah sakit? Apa Austin yang membawaku ke mari?" gumam Riana sambil terus memegangi belakang kepalanya.


Dia hendak turun dari brankar untuk keluar, tetapi seorang suster masuk dengan membawa beberapa obat yang harus diminum oleh wanita itu.


"Nyonya, anda sudah sadar?" Sang suster segera melangkah dan menaruh nampan di atas meja nakas. Lalu membantu Riana yang sempoyongan.


"Suster, kenapa saya ada di sini? Siapa yang membawa saya?"


"Maaf, Nyonya, tadi pihak kepolisian yang membawa anda ke mari, dan itu semua atas perintah putri anda, mereka mengira bahwa anda adalah korban yang dijadikan sandera," jelas suster itu. Sontak saja mata Riana langsung melebar, pihak kepolisian? Putrinya? Apa mungkin?


"Lalu di mana putri saya?"


"Belum ada yang datang ke mari untuk menjenguk anda, tapi kami mendapat kabar bahwa suami anda juga ada di sini, bukankah Nyonya adalah istri Tuan Andrew?"


Riana mengangguk ragu, dia seperti enggan untuk mengakui sebab merasa jijik dengan dirinya sendiri.


"Saya ingin bertemu suami saya, Sus," ujar Riana, dia pikir Andrew masih dalam keadaan koma. Dia ingin melihat pria itu sekali lagi sebelum ia menyerahkan diri ke penjara. Ya, dia sudah pasrah, kalaupun Austin memang ditahan, bukankah dia juga harus ikut dengan pria itu?


"Tapi keadaan anda juga belum pulih betul, Nyonya, anda belum minum obat."


"Saya ingin bertemu suami saya, saya tidak butuh obat."

__ADS_1


"Anda tidak boleh bicara seperti itu, putri anda membawa anda ke mari pasti karena ingin anda sembuh," bujuk sang suster, berharap Riana sedikit melunak.


"Nanti saya minum setelah ini."


Akhirnya wanita berseragam itu hanya bisa pasrah dengan menghela nafas kecil. "Baiklah."


Riana dipapah untuk sampai di ruangan Andrew karena wanita itu masih terlihat cukup lemas. Dia menolak untuk memakai kursi roda, sebab merasa dirinya sehat-sehat saja.


Wanita itu lantas membuka pintu ruangan Andrew, karena berpikir tidak siapa-siapa, tetapi detik selanjutnya dia dibuat tergagap, dengan jantung yang seolah berhenti berdetak.


Di dalam sana, Andrew dan Clarissa sedang bicara berdua. Ternyata sang suami sudah sadar, membuat sekujur tubuh Riana benar-benar kaku untuk melangkah.


Kedua orang itu menatap Riana secara bersamaan. Hingga Riana tiba-tiba ambruk dan tersungkur di lantai. "Maafkan aku, Ndrew." Ucapnya dengan tangis yang sudah pecah pun tangan yang mengatup di depan dada.


Seketika ruangan itu diisi oleh tangis Riana yang begitu pilu. Dia terus mengucapkan kata maaf sebanyak-banyaknya. Meskipun ia tahu apa yang dilakukannya sulit untuk dimaafkan.


"Anna ...." Suara lirih Andrew berhasil membuat jantung Riana seperti ingin lepas. "Kamu sedang apa? Ke mari, kita bicara."


"Aku terlalu banyak melakukan kesalahan, Ndrew, aku tidak pantas diperlakukan seperti ini."


Sang suster akhirnya memilih pergi untuk memberikan privasi pada keluarga tersebut. Sementara Clarissa merasa ikut sedih melihat ibunya yang seperti itu, sebab mau bagaimana pun Riana adalah orang yang melahirkan dan membesarkannya.


Andrew menyentuh bahu sang anak hingga Clarissa menoleh. Dia meminta pada gadis itu agar membujuk Riana untuk duduk di sisinya. Dia ingin semuanya jelas, hingga Clarissa pun tidak perlu bertanya-tanya.

__ADS_1


Clarissa mengangguk pelan, dia bangkit dan langsung berjongkok di sisi tubuh sang ibu. "Ayo bangun, kita bicarakan ini semua, aku tidak ingin selalu menduga-duga, dan aku juga tidak ingin membenci orang yang salah, terlebih itu ibuku."


Mendengar itu, rasanya sakit sekali hati Riana. Namun, sepertinya dia masih memiliki peluang untuk dimaafkan. Akhirnya Riana mau bangun meski terus menundukkan kepala, dia melangkah dan duduk di sisi Andrew, berseberangan dengan Clarissa.


"Ayo ceritakan semuanya, aku ingin dengar," ucap Andrew.


Riana lebih dulu menangis dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Sebelumnya maafkan aku, Ndrew. Tapi kamu harus tahu, aku sama sekali tidak terlibat dalam kecelakaan itu, aku juga tidak terlibat dalam penculikan Cyara. Pada saat itu, yang aku tahu musibah sedang mengujiku. Tapi ternyata aku salah, karena di hari berikutnya Austin menghubungiku, dia mengancamku dengan menggunakan Clarissa, dia juga mengaku kalau semua itu adalah perbuatannya ...."


Riana mengambil nafas dan sesenggukan. "Aku tidak mungkin membiarkan anakku dalam bahaya, Ndrew, aku memutuskan untuk mengikuti semua perintahnya, termasuk mengkhianatimu."


Clarissa yang mendengar pengakuan ibunya, sudah ikut menangis. Dia beberapa kali memalingkan wajah untuk mengelap air matanya. Sementara dada Andrew terasa sesak, dia tidak bisa membayangkan bagaimana kekalutan Riana saat itu.


"Maaf, Ndrew, maaf. Aku tidak memiliki kekuatan apapun, karena gerak-gerikku terus diawasi. Andai aku tidak memikirkan kamu, Clarissa dan juga Cyara, mungkin aku lebih memilih mati pada saat itu ... tapi aku terus berpikir ulang, kalau aku tiada, siapa yang akan merawatmu, siapa yang menjaga Clarissa, dan siapa yang akan melihat perkembangan Cyara?"


"Aku tidak sepenuhnya mengikuti apa kata Austin, bahkan aku menyimpan semua berkas penting milikmu, sampai Clarissa sendiri yang membawanya. Dari situ aku sadar, anakku jauh lebih pintar ...."


"Dan yang terakhir, aku tidak tahu tindakanku ini benar atau salah, aku—aku sering memberikan Austin obat pemicu serangan jantung. Aku benar-benar takut, pada saat itu yang aku pikirkan bagaimana caranya membuat Austin mati, sekali pun itu ditanganku ... aku bahkan rela dipenjara, aku rela, Ndrew, asal kalian semua memaafkanku."


Riana tergugu, sementara Andrew terlihat bergeming dengan bola matanya yang berkaca-kaca. Dia menoleh ke arah Riana dan meraih satu tangan istrinya. "Tetaplah di sini bersamaku, kamu telah bekerja terlalu keras, Anna. Aku memaafkanmu, begitu pun juga dengan anak-anak."


Mendengar itu, tangis Clarissa pun pecah, dia segera bangkit dan langsung memeluk ibunya. "Maafin, Ara, Bunda."


Siang itu, ruangan Andrew benar-benar banjir oleh air mata. Namun, tak apa karena kejelasan itu semua membawa hati kembali berlapang dada. Tidak ada lagi rasa benci atau apapun itu, yang ada hanya rasa cinta yang ingin saling menguatkan.

__ADS_1


__ADS_2