Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Cemburu Yah?


__ADS_3

"Aku ingin mengundang keluargamu makan malam di rumah, tapi berhubung Daddy-mu belum sembuh betul, bagaimana kalau kamu duluan? Supaya aku bisa memperkenalkan kamu pada semua keluargaku," ucap De sambil membelai wajah Cyara yang kini bersandar di dada bidangnya.


Sebenarnya dia ingin sekali kedua orang tua mereka bertemu dan membicarakan tentang rencana pernikahan mereka, tetapi keadaannya sangat tidak memungkinkan.


Andrew baru saja sadar, sementara Ken belum bisa bertemu dengan semua orang. Jadi cukup sulit untuk merencanakan sebuah pertemuan.


"Hanya aku?" tanya Cyara, jari jemarinya mulai bergerak di dada sang pria, membuat tulisan-tulisan abstrak.


"Iya, Sayang. Kalau Daddy-mu sudah sembuh, dan Daddy-ku sudah tidak mual-mual, aku pasti akan membawa kedua orang tuaku untuk segera melamarmu."


"Aku malu, Poo. Keluargamu kan banyak, pasti sangat ramai, iya 'kan?"


"Tidak juga, aku memiliki satu keponakan yang lucu, kamu pasti senang berkenalan dengannya."


"Anak siapa?"


"Anak pertama Aneeq dengan Jennie."


"Jadi kakak iparmu sedang mengandung anak kedua?"


"Iya, usianya baru lima tahun, dia pernah mengira aku itu Aneeq, jadi dia memanggilku Daddy, rasanya sangat aneh dipanggil seperti itu."


Cyara mendongak hingga dia dapat melihat wajah tampan kekasihnya. "Kenapa? Sepertinya kamu alergi sekali terhadap anak kecil. Kamu tidak ingin memiliki anak?"


"Merasa aneh bukan berarti tidak suka, Sayang. Buktinya aku menyukaimu, bukankah kamu anak kecil?" goda De dengan mengusak pucuk hidung Cyara.


"Kamu berbohong?"


Cyara mengulurkan tangannya untuk menyentuh bibir De, jemarinya bergerak-gerak memainkan benda tipis nan memabukkan itu.


De segera menangkap pergelangan Cyara dan berkata. "Kalau aku bohong, ularku bisa panjang. Apa kamu sanggup meladeninya?"

__ADS_1


Sontak saja Cyara langsung mengerucutkan bibir. Dia masih ingat betul, sebesar dan sepanjang apa ular yang De maksud, kalau ditambah lagi, bisa-bisa habis riwayatnya di tangan pria itu.


Bugh!


Cyara memukul dada De dengan cukup keras.


"Jangan mengada-ada!"


De terkekeh geli melihat wajah Cyara yang tiba-tiba pias. Pasti gadis itu sudah ketakutan lebih dulu. Sebab membayangkannya saja membuat Cyara bergidik ngeri. Hiii ...


"Aku bicara apa adanya."


"Sudah ah jangan dibahas, nanti malah mau lagi mau lagi, Poo kan sekarang begitu, mesyum terus," gerutu Cyara.


De sudah tidak tahan, dengan kekehannya dia menangkup kedua sisi wajah kekasihnya. Pria berjambang lebat itu merasa sangat gemas hingga menggigit dagu Cyara.


"Aw, sakit, Poo!"


"Dari dulu aku memang menggemaskan, tapi kamu baru menyadarinya."


De tak menjawab, untuk soal seperti itu sudah dipastikan dia akan kalah. Dia lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan ke pembahasan pertama.


"Jadi bagaimana? Kamu mau tidak? Kalau iya, nanti aku akan bicara pada Mommy."


Cyara nampak berpikir sejenak, menimbang bagaimana baiknya, hingga muncul sebuah ide. "Bagaimana kalau aku mengajak Clarissa?"


Mendengar nama yang terasa asing itu, De langsung mengerutkan kening. "Siapa? Saudaramu?"


Cyara langsung mengangguk antusias, dia menegakkan tubuhnya dan menatap De dengan tersenyum ceria, saat ini gadis itu masih duduk di atas paha kekasihnya.


"Iya, Poo, supaya ada yang menemaniku."

__ADS_1


"Boleh, asal dia bukan Candra itu tidak masalah."


Mendengar nama Candra, Cyara sedikit membulatkan kelopak matanya. Tadi mereka sempat bertemu dan saling menyapa. Dia bahkan bercerita bahwa kini ia dan De telah resmi pacaran.


"Ada apa dengan Candra?"


De mendesaah kecil, lalu menyentil dahi Cyara. "Jangan dekat-dekat dengannya, aku tidak suka! Cukup denganku, hanya aku priamu."


Mendengar itu, bibir Cyara langsung melengkung dengan sempurna, "Poo, cemburu yah?" ledek gadis cantik itu sambil tersenyum menggoda.


"Cemburu apa? Aku hanya tidak suka!" tegas De, tetapi Cyara tidak percaya. Dia mengikuti gerakan kepala De yang sedang menghindari tatapan matanya.


"Sudah mengaku saja, Poo cemburu 'kan padanya?"


"Tidak! Untuk apa aku cemburu pada Candra!"


"Bohong, pasti cemburu 'kan? Iya 'kan? Kalau tidak, ya sudah, aku akan keluar dan menemuinya sekarang!" Cyara segera bangkit dari tubuh De, dan berpura-pura ingin keluar.


Namun, ternyata De tidak menahannya, pria itu hanya diam saja dan membiarkan Cyara melangkah. Gadis itu melirik De sekilas, pria itu masih saja bergeming.


Dia mencebik kesal dan langsung meriah kenop pintu. De benar-benar menyebalkan!


Baru saja Cyara ingin memutar kenop itu, tiba-tiba De bicara dengan suara beratnya.


*


*


*


"Selangkah saja kamu keluar dari ruanganku, habis kue mochiemu!!!"

__ADS_1


__ADS_2