
Sedang asyik-asyiknya bercinta. Ponsel De malah berdering, sementara pria itu masih berusaha memompa tubuhnya, dengan mengunci tangan Cyara di atas kepala.
Pria itu sama sekali tidak peduli, atau bahkan dering tersebut memang terkalahkan oleh desaah sang istri yang memenuhi telinganya.
"Bagaimana, Baby?" tanya Ken pada Zoya. Sedari tadi wanita hamil itu berusaha menghubungi nomor De dan Cyara, tetapi tidak ada yang mengangkat satu pun.
"Tidak diangkat, Dad. Kata petugasnya mereka sudah sampai, kenapa tidak menghubungi kita yah?" balas Zoya dengan kening yang diliputi tanda tanya.
"Mungkin mereka langsung istirahat kali yah, Dad?" sambungnya. Namun, dia malah mendengar kekehan dari Ken, pria paruh baya itu menangkup salah satu sisi wajahnya lalu memberi kecupan.
"Atau mungkin mereka langsung bermain," tebak Ken tepat sasaran. Paham betul bagaimana sifat seorang pria jika sudah berdua dengan wanita yang dicintainya.
Zoya langsung melotot. "Masa sih, Dad? Kan mereka baru sampai."
Ken meraih pinggang istrinya, lalu menggiring ibu hamil itu untuk duduk di sofa. "Ingat, Sayang. Itu semua tidak akan menjadi masalah. Kamu tidak ingat setiap aku pulang dari luar kota, kira-kira apa yang aku butuhkan? Istirahat atau kamu?" Tanya Ken sambil mengetuk pucuk hidung Zoya.
Pipi wanita itu memerah. Sadar betul bahwa Ken memang selalu menjadikan dia yang pertama.
__ADS_1
"Baiklah, aku paham apa yang sedang mereka lakukan. Karena buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya."
Mendengar itu Ken langsung terkekeh keras, dia mengecup bibir Zoya beberapa kali, lalu tangannya turun untuk mengelus perut buncit wanita itu.
"Aku mencintai kalian," ungkap Ken seraya menatap lekat wajah istrinya. "Terlebih kamu, wanita yang sudah hidup berpuluh-puluh tahun denganku. Bahkan dulu aku adalah orang yang mengantarmu ke sekolah dasar, menjemputmu dan menemanimu makan siang. Dan sampai sekarang, kamu masih bertahan di sisiku. Hingga kita memiliki mereka." Ken kembali menggerakkan tangannya.
Sementara Zoya hanya mengulum senyum, menikmati setiap sentuhan Ken yang terasa begitu lembut.
"Semuanya seperti terulang, Zoy, aku mengantar jemput mereka, menemani mereka bermain, atau membacakan dongeng sebelum tidur, tapi kali ini berbeda, karena mereka adalah buah cinta kita. Hasil keringat kita berdua." Ken terkekeh di ujung kalimatnya, sementara Zoya sudah merasa haru.
"I love you, More. Aku mencintaimu tanpa alasan, Hubby. Sebanyak apapun usia kita, kamu tetap pria tertampan yang aku miliki. Terima kasih sudah berjuang bersamaku, terima kasih sudah mau berkeringat bersamaku. Terima kasih sudah bertahan sampai sejauh ini. Lihat, bayi ular kita akan bertambah dua ekor lagi, kita akan mengulang masa 25 tahun lalu. Masa di mana kita sama-sama belajar menjadi seorang ayah dan ibu yang baik untuk mereka. Aku senang melakukannya, terlebih denganmu ...."
Sial! Ken tidak bisa menahan untuk tidak memeluk Zoya mencium bibir wanita itu dengan lumaatan yang sangat dalam. Rasanya ingin terus berterima kasih, karena sudah menerima masa lalunya dengan begitu lapang dada.
Bersabar menantinya meskipun dari awal dia tidak pernah menjanjikan sebuah pernikahan yang bahagia.
Hanya ada nafsuu semata, tetapi seiring berjalannya waktu, Ken sadar obsesi dirinya atas Zoya adalah sebuah cinta yang telah lama terpendam.
__ADS_1
Kekecewaannya terhadap seorang wanita, membuat mata hati pria itu tertutup. Hingga menyamaratakan nilai mereka. Semua sama, tidak ada yang berbeda. Hanya tentang kepuasan tanpa adanya cinta.
"Ayo berkeringat bersama."
*
*
*
"Ish, ujung-ujungnya."
....
Siapa yang kangen Daddy Python 😌😌😌
__ADS_1