Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Kamu Mau Melihatnya?


__ADS_3

Cyara tiba-tiba kesulitan bernafas mendengar ucapan De yang terdengar sangat jelas maksud dan tujuannya. Pria itu ingin menjadikannya seorang istri? Ah, mimpi apa dia? Kenapa pria dingin ini tiba-tiba berubah.


"Bagaimana, kamu pilih aku ikut pergi bersamamu dan menjadi suamimu, atau kamu tetap di sini menjadi istriku?" tanya De, mengulang pertanyaan dengan bahasa yang sedikit rumit, hingga Cyara tidak dapat mencernanya dengan baik.


Gadis cantik itu mengedip polos dan mencoba untuk berpikir. Sementara detak jantungnya tidak dapat dikondisikan, terus berdetak dengan kencang. "Bukankah itu artinya sama saja?"


De malah mengulum senyum, "jadi kamu pilih yang mana?"


Ya Tuhan, andai dia adalah es krim, mungkin dia sudah meleleh dari tadi, sebab melihat kelakuan manis De yang tidak pernah ada dalam bayangannya. Cyara menelan ludah, dengan gerakan yang sangat pelan dia mendekatkan wajah hingga pucuk hidung mereka beradu.


"Om, serius?"


"Tentu saja, kapan aku bercanda? Kalau kamu setuju, cium aku!"


Senyum di bibir Cyara semakin mengembang, dua bola mata itu saling tatap dengan jarak yang sangat dekat, bahkan kini kening mereka sudah menyatu. Cyara semakin memeluk leher De erat, dan detik selanjutnya kedua bibir itu kembali bertemu.


Cyara memberi jawaban yang membuat De merasa senang. Pria itu melingkarkan tangan di sepanjang pinggang ramping Cyara, sebuah sapuan yang menghasilkan geleyar kembali memenuhi gelora sukma, Cyara menggeliat disertai busungan dada.


Salah besar jika dia bermain-main dengan pria dewasa. Karena De semakin menyesap dengan brutal, dia tentu tahu di mana letak sensitif di tubuh Cyara. Ujung kue mochie adalah salah satunya, Cyara terus mendesaah sementara De tidak berhenti memainkan jarinya di sana.


Cyara terus menutup mata, begitu De melepaskan ciumannya gadis itu tak berhenti untuk menganga. Dia berganti mencengkram kedua bahu De, sementara sentuhan basah sudah memenuhi leher dan daun telinganya.


"Aduh, Om, badan Cia jadi merinding nggak karuan ini," keluh Cyara dengan kepala yang mendongak, memberikan akses pada De agar lebih mudah menjelajahi leher putih nan bersih milik gadisnya.

__ADS_1


"Nikmati saja, itu namanya perkenalan setelah resmi jadian."


"Tapi Cia jadi pengen—ahhh." Gadis itu malah mendesaah saat De berhasil mengulumm ujung kue mochienya yang menyembul malu-malu. Dia seperti tersengat hingga tubuhnya beberapa kali menggigil.


Dia kembali memeluk leher De dengan erat, dan dengan nalurinya jari jemari itu meremass rambut De dengan manja. Cyara juga beberapa kali bergerak, menghujam inti tubuhnya. Hingga tanpa sadar gerakannya itu membangunkan sesuatu yang lain.


"Aduh, Om, ada yang gerak-gerak di bawah." Cyara mengeluh sambil melenguh, membuat De malah semakin bersemangat untuk mencumbu.


"Kamu mau melihatnya?" tanya De sambil menengadah, bibirnya yang seksi lagi basah membuat Cyara menelan ludah. Nafas pria itu terdengar menderu hebat, sementara bola matanya teduh bagai lampu yang hampir meredup, tertutup oleh kabut hasrat yang mereka ciptakan.


"Melihat apa?" tanya Cyara polos.


"Sesuatu yang pernah kamu lihat sebelumnya."


"Tidak perlu berpikir seperti itu, tinggal jawab saja iya atau tidak? Dia sudah jinak kok."


"Jangan menakut-nakutiku, memangnya benda apa itu? Apa dia seekor hewan?"


"Hem, lebih tepatnya ular."


Mendengar itu sontak saja membuat mata Cyara terbelalak lebar. "Ular? Om memelihara ular di sini? Kapan? Dan di mana Om menyimpannya, kenapa aku tidak tahu?"


De meraih satu tangan Cyara, gadis itu sama sekali tidak curiga padahal De sudah tersenyum licik. Hingga jari jemari itu menyentuh sesuatu yang di bawah sana, mulut Cyara langsung menganga.

__ADS_1


"Aku menyimpannya di sini, ini ularku."


Blash! Wajah Cyara merah padam, dia segera menarik tangannya sementara De sudah tergelak kencang. Menunjukkan ekspresi yang jarang sekali dia perlihatkan.


"Dasar pembohong!" ketus Cyara sambil memukul dada sang pria.


"Hei, bohong apanya? Jelas-jelas kamu sudah pernah melihat. Jadi bagaimana tanggapanmu?"


"Tanggapan apa?"


"Masukkah dalam kriteria ular idamanmu?" tanya De dengan suara yang memberat, Cyara langsung merinding mendengarnya.


Dia tidak mau menjawab, sebab dia lebih memilih untuk turun dari pangkuan De. Namun, pria itu sama sekali tak mengizinkan dengan mencekal pergelangan tangan Cyara.


"Ayo bertemu dengan keluargaku."


Deg!


***


Bang gue mau lihat 🥺🥺🥺


__ADS_1


__ADS_2