Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Menghubungi Jessie


__ADS_3

Austin melemparkan beberapa berkas di hadapan Riana. Kini mereka tengah berada di kediaman Austin. Pria itu sengaja mengundang Riana untuk datang, sebab ada sesuatu yang harus mereka bicarakan.


"Aku butuh tanda tangannya. Pastikan dia cepat sadar. Setelah itu dia akan melihat apa yang akan aku lakukan padanya," ujar Austin dengan seringai penuh.


Dia menatap suasana di luar jendela. Dalam bayangannya sudah tersusun berbagai macam rencana untuk membalas dendam pada Andrew.


Semua aset pria itu akan dia kuasai, dan ia akan membuat Andrew sembuh untuk melihat bagaimana ia menghancurkan hidup Cyara.


"Bagaimana perkembangannya?"


"Ada sedikit kemajuan, tapi dokter belum bisa memastikan dia bisa sembuh atau tidak," jawab Riana apa adanya.


Awalnya Austin memang ingin melenyapkan Andrew. Namun, pemikirannya berubah saat mengingat gadis manis yang menjadi keponakannya.


Dia tidak ingin cepat-cepat membuat Andrew mati, dia ingin pria itu merasakan bagaimana rasanya lemah dan tak berdaya. Karena dianggap tak bisa apa-apa.


"Lalu bagaimana dengan gadis itu? Apa sudah ada yang menghubungi pihak kepolisian? Atau menghubungi kamu? Pastikan dia tidak membongkar kejahatanku."


"Belum ada, Aus. Sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana kabar Cyara. Dia bagai hilang ditelan bumi. Lagi pula bagaimana cara kerja anak buahmu? Anak buah sebanyak itu, tapi tidak ada yang bisa diandalkan, sama sekali tak ada gunanya!"


Mendengar itu, Austin langsung menoleh dengan tatapan tajam. "Jangan mengaturku! Tugasmu hanya memastikan keadaan Andrew dan minta tanda tangan darinya."


Riana melipat kedua tangannya di depan dada dengan bola mata jengah.


"Aku hanya mengungkapkan pendapat. Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu tanyakan, aku akan pergi. Aku takut Clarissa semakin curiga, jadi jangan terlalu sering menghubungiku atau mengajakku bertemu."


Austin tak terlalu menanggapi ucapan Riana dengan serius. Dia malah melangkah dan langsung melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu.

__ADS_1


"Tapi bagaimana kalau aku merindukanmu, Sayang?"


Riana langsung meronta, mencoba melepaskan pelukan Austin. "Tidak ada waktu untuk bercanda, Aus. Dan tahan nasfuumu!"


Lantas setelah itu, Riana segera keluar dari ruangan Austin. Dia tidak bicara sepatah katapun, meninggalkan Austin yang menarik sudut bibirnya ke atas, begitu sinis.


***


Di belahan bumi lain.


Cyara langsung merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang dengan mengambil benda pipih yang ada di paper bag.


Setelah kepergian De, dia ingin mencoba ponsel barunya. Dia sudah teringat dengan nomor Jessie, dan dia harus cepat-cepat menyimpan nomor tersebut sebelum dia lupa lagi.


12 angka sudah dia tekan dan dia simpan sebagai nomor sahabatnya.


"Dia ini punya masalah hidup apa sih? Sampai profil saja tidak diisi?" gumam gadis itu, tidak ada riwayat pesan apapun di sana. Hingga akhirnya Cyara memutuskan untuk mengirim foto dirinya yang tengah memeluk guling.



[Kalau Om tidak punya foto, bisa pake foto Cia kok.]


Tulisnya di bawah foto tersebut. Baru setelah itu dia menghubungi Jessie. Dia langsung memilih icon panggilan, hingga tak berapa lama kemudian sebuah suara yang begitu familiar terdengar.


"Halo, ini siapa?"


Senyum Cyara langsung mengembang, dia berjingkrak kesenangan di atas ranjang. Merasa menemukan cahaya hidupnya.

__ADS_1


"Halo, ini siapa? Kalau kamu tidak jawab, aku matikan."


Cyara menutup mulutnya, lalu segera menetralkan suaranya. "Halo, halo Jessie. Ini Cia."


Gadis yang ada di seberang sana langsung membulatkan matanya, dan hampir saja tersedak. Sebab ia sedang menikmati makan siang di kantin.


"Kamu benar-benar Cia?" tanya Jessie sedikit terbata.


Cyara langsung mengangguk, seolah Jessie dapat melihat gerakannya. Dia benar-benar sangat senang, akhirnya ada yang bisa dia mintai pertolongan untuk melihat keadaan ayahnya.


Akhirnya mereka saling menyapa. Cyara sedikit memberitahu apa yang menimpanya. Cukup singkat tetapi membuat Jessie mengerti, bahwa sang sahabat membutuhkan pertolongannya.


"Kalau begitu nanti sore aku ke rumah kamu yah, aku mau ajak Clarissa untuk jenguk Daddy Andrew. Kemarin aku sempat ke sana, tapi keadaannya masih sama, semoga saja setelah ini Daddy-mu memilki perkembangan."


"Terima kasih, Jessie. Tapi Cia minta, jangan beritahu Clarissa dan Bunda Anna kalau aku menghubungimu yah, cukup kita saja."


"Baiklah, yang penting kamu tidak apa-apa. Nanti kukirim gambar ayahmu, supaya kamu tidak terlalu rindu padanya."


Cyara merasa terharu, dia langsung terisak-isak. "Sekali lagi terima kasih, Jessie."


"Sama-sama, Cia. Sudah dulu yah, aku sebentar lagi masuk. Kamu baik-baik di sana."


Lantas setelah itu panggilan itu terputus. Cyara tersenyum dalam tangisnya. Ia sudah tidak sabar, ingin mengetahui bagaimana keadaan Andrew saat ini, andai dia berani mengambil resiko, mungkin ia sudah menemui pria paruh baya itu.


Sama halnya Cyara yang tersenyum, bibir De juga tidak berhenti berkedut saat melihat ponselnya. Sampai-sampai yang lain pun merasa aneh, sebab De tidak pernah menunjukkan wajah seperti itu sebelumnya.


***

__ADS_1


Berkedut nggak tuh uler deriknya🙄🙄🙄


__ADS_2