Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Moo&Poo #21


__ADS_3

Setelah saling berkejaran dan basah-basahan. Kini De dan Cyara berjemur dengan tubuh yang terbaring di atas pasir pantai. Keduanya saling merentangkan tangan hingga jari-jari itu bertautan.


"Moo, apa kamu sudah lapar?" tanya De seraya melirik ke samping, wajah Cyara yang putih bersih semakin terlihat bersinar karena menerima pantulan cahaya matahari.


"Belum, Poo, aku masih suka bermain air. Makannya nanti saja," jawab Cyara, dia menggerakkan kakinya yang terkena ombak kecil, lalu terkekeh karena merasa ada yang menggelitiki.


Kini De sudah melipat satu tangan untuk menyanggah kepalanya, sambil memiringkan tubuh menghadap ke arah Cyara. "Tapi bagaimana kalau kamu yang aku makan?"


"Cih, kamu ini tidak bosan-bosan."


"Selagi ada kesempatan kenapa tidak?"


De berguling ke samping, hingga tubuh kekarnya berhasil mengungkung tubuh mungil Cyara. Rambut De yang basah, semakin membuat pria itu terlihat gagah.


"Jangan bercanda! Ini tidak lucu, sekarang kembali ke tempatmu, kita tidak akan melakukan apa-apa."


"Tapi aku mau," rengek De, yang membuat Cyara menengadah, dia menatap dua bola biru itu, tetapi sedikitpun dia tidak ingin terpengaruh. Cyara mendorong dada suaminya dengan keras, tetapi De tidak bergeser sedikitpun.


"Sayang, ini di tempat terbuka, bagaimana kalau ada yang melihat kita?"


"Memangnya siapa yang berani datang tanpa seizinku?"


Cyara mengerjapkan matanya beberapa kali, De benar-benar manusia yang tidak bisa dibantah.

__ADS_1


"Jangan!" tahan Cyara, kedua tangan gadis itu tepat berada di dada bidang De, siap untuk mendorongnya sekuat tenaga.


Namun, De tidak mengindahkan ucapan istrinya. Dia mengecupi tubuh polos Cyara dengan sayang, seperti dia tengah memanjakan kucing kecil yang butuh belaian.


Cyara menggeliat-geliat, dia menahan kepala De dengan memasukan kesepuluh jarinya di antara sela-sela rambut pria itu.


"Poo, geli!" kata Cyara sambil terkekeh. De semakin gencar dengan aksinya, dia menciumi seluruh tubuh Cyara tanpa celah, hingga kini bibirnya bermuara di perut rata wanita itu.


"Ah, Poo, jangan ke bawah!"


"Aku tidak dengar apa yang kamu ucapkan, Sayang."


Sial memang, De paling bisa membuat Cyara basah hanya dengan sentuhan-sentuhannya. Terpaan sinar matahari semakin memanas, tetapi gelora yang ada di dalam dada kedua insan itu jauh lebih berkobar, hingga menyisakan rasa panas yang menjalar ke puncak kepala.


"Nanti ada anakku, di sini," ucap De seraya melirik Cyara yang sudah mulai menunjukkan wajah gelisah. Gadis itu diam-diam mengulum senyum, dia suka saat De bicara tentang anak, dia merasa pria itu tak hanya membutuhkan tubuhnya, tetapi juga buah cinta mereka.


Mendengar itu, sontak saja membuat De tergelak kencang, karena merasa gemas De mengusakkan pucuk hidungnya di antara tumpukan daging di bawah perut Cyara.


"Yang jelas mereka akan tampan dan cantik. Sangat cantik, sepertimu."


Pipi Cyara langsung memerah. Dia melihat ke bawah, di mana kepala De tepat di antara pangkal pahanya. Cyara menggerakkan tangan, lalu mengusap kepala pria itu dengan sayang.


"Kamu juga tampan, tapi—"

__ADS_1


De mengernyit, mendengar Cyara menjeda ucapannya.


"Tapi apa?"


Cyara menahan senyum, dia sedikit beringsut untuk meminimalisir serangan suaminya.


"Tapi tua." Gadis itu langsung tergelak kencang, dia sempat melihat De yang melotot tajam, tetapi detik selanjutnya Cyara malah dibuat menganga saat pria itu menyesap irisan daging di bawah sana.


De semakin membuka kaki Cyara, hingga lilitan tali bikiini itu tak cukup menutupi inti tubuh istrinya.


"Ah, Poo!" jerit Cyara dengan sengatan yang terasa begitu menggetarkan jiwa. Gadis itu bergerak gelisah, dan semakin melebarkan kelopak matanya saat De memainkan lidah di intinya yang basah.


"Itu akibat mengatai suami sendiri," cibir De, kemudian kembali pada aksinya.


"Poo, sekarang!" rengek Cyara, kini dia mulai meminta duluan, sebab sudah tak tahan ingin dihujam oleh benda besar nan panjang milik suaminya.


"Di sini?" tanya De, sengaja mempermainkan Cyara.


Cyara tampak celingukan, memastikan bahwa situasi dan kondisi aman terkendali, hingga akhirnya Cyara pun mengangguk kecil, membuat De tergelak kencang.


"Baiklah, aku masuk."


"Yes, come on!"

__ADS_1


***


Masuk ke mana yampun 🙄🙄🙄


__ADS_2