
Austin kembali mengamuk saat mendengar Clarissa yang kabur entah ke mana. Dia terus memaki Riana dan tak sedikit melakukan beberapa tindak kekerasan pada wanita itu.
Riana sudah tidak tahan lagi, semua rasa sakit di tubuhnya membuat dia hanya bisa menangis. Dia tidak bisa ke mana-mana apalagi sampai melawan, sebab kedua kaki dan tangannya diikat dengan kencang.
Sebagai hukuman karena telah lalai. Namun, sungguh itu semua lebih baik daripada harus menyerahkan Clarissa pada pria gila seperti Austin.
Pagi itu, sebenarnya Riana juga ingin mengaku bahwa dia telah menjadi tangan kanan Austin. Dia ingin membicarakan semuanya dengan sang putri, dan menyuruh gadis itu pergi.
Namun, dia sungguh beruntung, Clarissa bertindak lebih cepat. Dia hanya tidak sanggup, jika anak satu-satunya itu membencinya. Dia ingin, sebelum dia mati di tangan Austin, dia sudah menjelaskan semuanya. Bahwa dia hanya diancam untuk mengikuti semua keinginan pria itu.
"Bunuh aku saja, bunuh aku kalau kamu hanya ingin menyiksaku seperti ini." Riana tergugu di tempatnya. "Bukankah kamu akan senang, jika orang-orang yang ada didekat Andrew itu mati?"
Seketika mata Austin semakin memicing, dia bertolak pinggang dan berbalik menatap Riana yang sedari tadi di belakangnya. "Jangan membuatku melakukan sesuatu yang lebih mengerikan. Diam, dan renungi semua kesalahanmu!"
"Gara-gara kamu, aku tidak memiliki pilihan lain, aku akan segera mengambil jabatan tertinggi di perusahaan, dan merubah semua aset atas nama Andrew menjadi atas namaku."
Riana bergeming, dia pastikan Austin tidak akan mendapatkan apa-apa, sebab semua berkas sudah dibawa kabur oleh Clarissa. Dia memang sengaja menyimpan itu semua, tapi sungguh dia tidak pernah berpikir bahwa sang anak akan secerdik itu.
__ADS_1
"Terserah, aku tidak akan ikut campur lagi, karena sekarang aku pasrah. Aku siap mati kapanpun."
Semua ucapan Riana benar-benar membuat Austin naik pitam. Dia mengepalkan tangan hingga kulitnya terlihat memutih. Dia ingin menghajar Riana sampai habis, tetapi sekarang bukanlah saat yang tepat.
"Kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, ingat, hidup dan matimu ada di tanganku."
Lantas setelah itu, Austin melangkah pergi untuk kembali ke perusahaan. Dia tidak ingin menundanya lagi, semua rencananya harus selesai hari ini.
***
Aneeq menyeringai penuh, saat semua bukti kejahatan Austin telah sampai di tangannya. Tidak perlu waktu lama bagi Winda untuk mengumpulkan semua data-data itu, karena wanita itu adalah sekretaris sekaligus orang yang cukup dipercaya oleh Austin.
Pasti Austin tidak menyangka, bahwa Winda telah bekerja sama dengannya. Aneeq akan pastikan, cepat atau lambat Austin akan hancur sehancur-hancurnya.
"An," panggil Caka, membuyarkan lamunan Aneeq yang kala itu tengah menatap ke luar jendela.
Pria dengan sorot mata tajam itu menoleh. "Ada apa, Ca?"
__ADS_1
Caka langsung menyerahkan ponselnya, Winda telah menelpon, mengatakan bahwa ada sesuatu yang penting, yang ingin dibicarakan dengan Aneeq.
Aneeq melihat nama si pemanggil, tanpa pikir panjang pria itu langsung menerimanya. "Halo, Nona Winda, ada apa?"
Di ujung sana, Winda tengah bersembunyi di toilet demi menghindari Austin. Dia tampak gemetar dan gugup. "Tuan, peralihan jabatan akan dilakukan hari ini, Tuan Austin telah meminta para pemegang saham berkumpul. Dia benar-benar sudah gila."
Mendengar itu, bukannya panik Aneeq malah semakin tersenyum lebar. Dia menurunkan kakinya yang bertengger di atas meja lalu menjetikkan jari. "That's good. Kita harus susun rencana."
"Maksud, Tuan?"
"Ini adalah momen terbaik, Nona Winda, kita akan buat kejutan untuknya."
Aneeq sedikit menjelaskan rencana yang ada dalam otaknya. Mendengar itu Winda langsung tersenyum, seolah menemukan harapan hidupnya. Wanita itu dengan cepat menganggukkan kepala, paham dengan semua yang Aneeq katakan.
"Baik, sekarang kita ke RY Group, kita lihat pertunjukan," ucap Aneeq setelah panggilan selesai.
***
__ADS_1