
Cyara kembali diajari menyapu dan mengepel dengan benar oleh Candra. Dan hal tersebut tidak lepas dari pandangan mata Alana.
Dokter dengan status janda itu terus memperhatikan Cyara dengan seksama, samar-samar ia sedikit mengenali wajah itu.
Akan tetapi entah di mana. Alana sedikit merasa waspada akan kehadiran Cyara, apalagi gadis itu terlihat sangat liar. De saja sampai tak bisa menang saat menghadapi gadis manis itu.
"Siapa dia sebenarnya?" gumam Alana dari kejauhan. Dia terus memperhatikan Cyara yang masuk ke sebuah ruangan rawat inap bersama dengan Candra.
Di dalam sana Cyara kembali menyapu, dia yang awalnya bekerja dengan asal-asalan. Kini bergerak perlahan, atau dia akan terus mengulang pekerjaan tersebut. "Kak, kenapa debunya tidak mau pergi sendiri? Mereka kan tertiup angin, kenapa kita yang harus susah payah mengusir mereka? Bukankah diusir itu tidak enak?"
Cyara mulai mengoceh, dia tidak sadar kalau di ruangan itu ada De yang tengah memeriksa pasien. Candra langsung memberi isyarat dengan telunjuk di atas bibir, agar Cyara diam.
"Kenapa?" tanya Cyara, De melirik gadis manis itu sekilas. Lalu kembali melakukan kunjungan terhadap pasiennya.
Biasanya De akan melakukan hal tersebut pada pagi dan malam hari, dia terlihat cukup ramah, bahkan tak jarang ia tersenyum tipis saat menyemangati para pasiennya agar cepat sembuh.
Cyara yang saat itu sadar akan suara De langsung terpaku. Dia menatap pria berjambang lebat itu dari balik dinding, baru kali ini dia melihat De yang memberikan sebuah senyuman kepada orang lain.
Ternyata pria itu tidak segalak yang dia kira. Walaupun penampilan De yang terlihat seram, juga cara bicaranya yang tidak pernah pelan. De menyimpan banyak rahasia di belakang layar.
__ADS_1
Diam-diam Cyara ikut tersenyum, dia merasa terkesima melihat lengkungan bibir pria itu. Rasanya menyejukkan sekali, andai De selalu bisa bersikap seperti itu. Tidak muluk-muluk, minimal satu kali dalam sehari pun rasanya tidak masalah.
"Ternyata Om Dokter tidak seburuk yang aku kira. Cia pikir dia punya alergi sampai tidak pernah tersenyum. Ternyata kalau sedang bersama pasien, Om Dokter jadi berbeda. Apa Cia harus jadi pasien Om Dokter yah?" gumam gadis manis itu sambil terkekeh kecil, sementara matanya tak lepas untuk menatap De yang sedang berbicara.
Lain dengan Cyara, lain pula dengan Candra. Pria muda itu mendesah kecil, saat melihat Cyara malah bersembunyi di belakang dinding sambil memperhatikan De.
Tidak bisa dipungkiri, pasti mereka ada apa-apa. Bahkan Cyara sampai senyum-senyum seperti itu. Hih, benar-benar disayangkan, gadis manis seperti Cyara. Malah sudah menyerahkan sesuatu yang paling berharga pada pria yang bukan suaminya.
Astaga!
Candra sampai ikut sakit kepala, dengan membayangkannya saja.
"Ci," panggil Candra sambil menepuk salah satu bahu Cyara. Gadis itu sedikit tersentak, lalu menoleh dengan cengiran kuda.
"Ada apa, Kak?"
"Kamu ngapain?"
Cyara menunjuk De dengan ekor matanya. "Liatin Om Dokter meriksa pasiennya. Kakak tahu nggak?"
__ADS_1
Candra mengerutkan dahinya.
Cyara tampak gemas, dengan apa yang akan disampaikannya. "Om Dokter ternyata bisa senyum." Ujar gadis cantik itu dengan riang gembira. Seperti ia baru saja menemukan sebuah benda yang sangat langka.
Candra menelan ludahnya. "Hanya itu?"
Cyara mengangguk cepat, lalu dia semakin merapatkan tubuhnya ke arah Candra. Pria itu semakin merasa aneh dengan Cyara. Akan tetapi mau bilang seperti itu pun rasanya percuma.
"Kak, ajarin Cia pingsan dong," ucap Cyara dengan nada merengek, sontak saja hal tersebut membuat Candra tak berhenti menganga.
"Pingsan gimana maksudnya?"
"Ya, pingsan. Nggak sadar diri gitu lho, terus Cia dibawa ke ruangan untuk diperiksa."
"Biar apa, Ci?" tanya Candra sambil garuk-garuk kepala, semakin tidak mengerti dengan isi otak gadis manis yang ada di hadapannya.
"Supaya Cia jadi pasiennya Om Dokter, terus Om Dokter senyum deh ke Cia, ah pasti lucu 'kan yah?"
HAH?
__ADS_1