
Pagi-pagi sekali dua insan yang sedang di mabuk cinta itu sudah terbangun, dan bersiap-siap untuk pergi ke pantai. De hanya menggunakan celana kolor di atas lutut dan kemeja dengan bahan rayon.
Sementara tubuh Cyara berbalut bikinii dengan kardigan tipis berwarna merah menyala. Memberi kesan menantang juga menggoda.
"Poo, aku sudah siap," ucap Cyara dengan tersenyum kecil, dia menghampiri De yang berdiri di depan pintu. Suaminya itu tampak sabar menunggu, sebab sedari tadi De tidak mengeluarkan kata protes sedikitpun.
Cup!
De menghadiahkan kecupan singkat di kening gadis cantik itu, lalu mengusak puncak kepalanya sambil berkata. "Sebentar yah, aku ingin memberitahu mereka dulu, supaya tidak berani melihatmu."
Cyara mengangguk.
"Baiklah," jawabnya patuh.
De keluar lebih dulu, di depan penginapan yang mereka tempati terlihat ada satu petugas yang berdiri, begitu melihat De, dia langsung menghampiri dan tersenyum ramah.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanyanya.
"Tidak ada, aku hanya ingin kalian semua menyingkir, dan jangan berani melewati pantai, kecuali petugas wanita," jelas De yang membuat petugas itu langsung paham. Bahwa pria di depannya ini sedang memasang mode posesif.
"Baik, Tuan."
"Kalau begitu pergilah, beritahu yang lain, sebentar lagi aku akan membawanya keluar untuk bermain di pantai."
__ADS_1
Petugas itu pun mengangguk, dia segera pergi untuk memberitahu yang lain, sesuai dengan perintah De.
"Sayang, ayo keluar!" ajak De saat dia sudah kembali di hadapan Cyara. Gadis itu pun tersenyum sumringah, dia mengangguk dan meraih tangan De yang terbuka.
Mereka kembali bergandengan tangan hingga sampai di pantai. Bola mata Cyara langsung berubah berbinar saat melihat pemandangan indah di depannya, sementara matahari baru saja bergerak naik ke atas singgasana.
Seketika terpaan sinar itu menghangatkan tubuh Cyara, dia merentangkan tangan, menghirup aroma asin yang begitu khas dengan tempat yang sedang dia pijak.
"Sayang, aku suka sekali berada di sini," ucap Cyara, dua kelopak matanya tertutup sempurna, menikmati angin pagi yang berhembus manja.
De mengulum senyum, dari arah belakang dia mengaitkan jari-jarinya dengan jari-jari Cyara. Hingga kepala gadis cantik itu menempel pada dada bidangnya.
"Apakah di sini begitu menyenangkan?" tanya De, dan Cyara langsung mengangguk sebagai jawaban.
Cyara terkekeh saat mengatakan itu, sebab De tidak akan mungkin bisa mengabulkan permintaannya.
"Kamu benar-benar ingin kita berada di sini selamanya?" De menunduk, lalu meletakkan kepalanya di antara ceruk leher Cyara, dia mengecupi rahang gadis itu hingga Cyara bergerak kegelian.
"No, i just kidding, Poo."
"Kenapa kamu suka sekali bercanda? Padahal jika kamu mau aku akan mengabulkannya."
Mendengar itu, Cyara langsung melepaskan tautan jari mereka. Dia memutar tubuh hingga berhadapan dengan De.
__ADS_1
"Kamu 'kan seorang dokter, Sayang. Tidak mungkin tinggal di pulau seperti ini, nanti siapa yang ingin kamu obati?"
De terkekeh, "rumah sakitnya yang kupindah ke sini."
Cyara mencebik, dia langsung menusuk-nusuk perut De, dan pria itu tidak diam saja, dia membuka kemejanya dengan satu kali tarikan tangan, lalu menangkap tubuh Cyara.
"Poo, kamu mau apa?!" sentak Cyara seraya mengayunkan kakinya yang sudah tidak menapak di tanah.
De melangkah sambil menggendong tubuh Cyara menuju bibir pantai. Menciptakan tapak kaki di antara ribuan pasir yang De pijak dengan kaki telanjang.
"Sambil menunggu sarapan, kita mandi dulu, Sayang."
De menurunkan Cyara di air, tanpa diduga gadis itu langsung mengayunkan tangan, hingga percikan air asin itu mengenai tubuh suaminya.
"Aku akan memandikanmu, Poo!" ujar Cyara dengan terkekeh keras. Dia semakin berlari ke tengah, dan tak berhenti mencipratkan air ke arah De, hingga tubuh pria itu pun basah.
"Tunggu pembalasanku."
De menarik tangan Cyara, kekehan itu baru berhenti saat De membungkam mulut Cyara dengan ciumannya. Dia kembali mengangkat tubuh gadis itu ke tengah-tengah, hingga mereka mandi bersama.
***
Dan akhirnya, ada uler derik terdampar 🙄🙄🙄
__ADS_1