
Rumah yang selama ini Austin tinggali kini sudah diamankan oleh pihak kepolisian. Riana dilarikan ke rumah sakit, sebab menderita luka lebam dan ditemukan tidak sadarkan diri. Clarissa yang saat itu dihubungi segera meminta sang ibu untuk diantar ke rumah sakit Puri Medika.
Tempat di mana ayah tirinya juga dirawat. Kini wanita itu sedang ditangani, setelah sadar Clarissa dan Cyara sepakat untuk membicarakan semuanya. Clarissa bahkan berencana untuk meminta sang ibu bercerai dari sang ayah.
Dia terlalu malu, karena Riana yang bersekongkol dengan Austin untuk menghancurkan keluarga Cyara.
Kini, kedua gadis itu sedang menuju rumah sakit. Sementara De sudah lebih dulu kembali, dan sampai sekarang Cyara masih memikirkan kata terakhir pria itu. Antara jambu air dan semangka. Apa hubungannya?
"Ci, kamu memiliki hubungan dengan dokter itu?" tanya Clarissa tiba-tiba, memecahkan keheningan yang sempat menyapa.
"Hah? Hubungan apa maksudnya?"
"Pacaran?"
Kening Cyara semakin mengernyit. Pacaran? Dia dan De tidak pernah sepakat untuk pacaran, tetapi untuk berciuman mereka sudah sering melakukannya, dan jujur saja hal itu membuat Cyara ketagihan.
Cyara menundukan kepala dan menggeleng kecil, melihat itu Clarissa tersenyum dan mulai menebak. "Tapi kamu menyukainya?"
Bahu Cyara langsung naik, dia melebarkan kelopak matanya dan menatap Clarissa dengan seksama. "Kenapa kamu bisa tahu?" Jawabnya dengan polos, jawaban yang mengundang tawa Clarissa.
"Matamu tidak bisa bohong. Kamu terlihat sangat menyukainya, tapi apakah dia kembar? Kenapa wajahnya ada dua?"
"Benar, aku sudah melihat kembarannya ada dua. Jadi, mereka ada tiga. Dan karena itu kami jadi salah paham."
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu?"
"Istri dari kembarannya datang ke apartemen, dan menyangka aku sebagai selingkuhannya."
"Hah gila! Tapi bagaimana dengan rumah tangga mereka? Kamu tidak sampai membuatnya hancur kan?"
"Tentu saja tidak, Cla, Om Dokter menjelaskan semuanya. Jadi masalah itu selesai, dan dari cara dia memperhatikanku, aku malah semakin menyukainya. Padahalkan dia sudah tua."
Clarissa sedikit menoyor kepala adik tirinya. "Cinta itu tidak memandang usia, Ci, kita bisa merasakannya pada siapapun, termasuk pada seseorang yang terpaut jauh umurnya."
"Tapi masalahnya, dia itu tidak bisa diajak bicara. Dia tidak mengerti kode dariku," rengek Cyara. "Padahal kita sudah sering berciuman."
"Berciuman? Kalian sering berciuman? Tapi dia tidak sampai melakukan hal-hal yang lebih jauh dari itu 'kan?"
"Hanya apa?" tukas Clarissa, menuntut jawaban segera. Dia takut bahwa Cyara sudah pernah melakukan hal yang belum semestinya.
"Aku pernah melihat bagian tubuhnya yang berharga—aku melihatnya, Cla, sangat besar dan mengerikan. Bukankah seharusnya kita menikah? Karena aku telah melihat semuanya?"
Mendengar itu, tidak hanya Clarissa yang melebarkan kelopak matanya. Akan tetapi sang supir taksi yang berada di kursi kemudi pun melakukan hal yang sama. Dia tak mengerti, kenapa para gadis malah membicarakan hal-hal erotiss seperti ini.
"Dia pernah memperlihatkannya?" tanya Clarissa ragu.
"Tidak sih, itu karena tidak sengaja, waktu itu aku mau mengambil baju, tapi ternyata di luar dia sedang pakai baju."
__ADS_1
Clarissa langsung bernafas lega, itu artinya De adalah pria baik-baik karena walau bagaimanapun dia tahu, bahwa menahan hasrat pada diri seorang pria adalah sesuatu yang sangat berat.
"Baguslah, kamu tidak perlu khawatir, aku percaya bahwa dia sebenarnya juga menyukaimu, aku melihat dia orangnya sedikit kaku, mungkin itu yang menjadi penyebab dia sulit untuk diajak bicara."
"Hah, benar, Cla, tersenyum pun sangat irit, awal kita bertemu, seharian di rumah sakit aku tidak pernah melihat senyumnya, aku sampai memiliki cita-cita ingin menjadi pasiennya."
Clarissa geleng-geleng kepala dengan kekehan yang sedikit lebih keras. Dia mengetuk kening Cyara beberapa kali dan menyeletuk. "Cari cara itu yang efektif, jangan mengada-ada."
"Aku kan tidak bisa berpikir luas sepertimu, apa yang aku lihat, maka aku akan melakukannya."
"Lalu kenapa kamu bisa berpikir ingin menikah? Memangnya kamu sudah siap?"
"Yang penting kan aku bisa bersamanya, dan dia menjadi milikku, tidak ada orang lain yang bisa menciumnya selain aku. Bukankah begitu?"
Clarissa hanya bisa terkekeh atas pemikiran Cyara yang sangat sederhana. Dan kekehan itu berhenti saat ponsel Cyara berdering. Gadis cantik itu langsung bergegas merogoh benda pipih itu dari dalam tas, sebab ia yakin itu adalah panggilan dari De.
Dan benar saja, Cyara langsung menggeser icon hijau dan menempelkan benda itu di telinga. "Halo, Om, aku sedang berada di perjalanan."
"Cepat ke rumah sakit, ada berita baik."
"Kenapa, Om?"
Di ujung sana, De tersenyum tipis sambil membayangkan wajah Cyara yang pastinya akan sangat bahagia. "Ayahmu sudah sadar, dia menunggumu."
__ADS_1
Deg!