Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Enak, tapi


__ADS_3

Gagal sudah untuk mempraktekkan apa yang baru saja mereka lihat, sebab Zoya memanggil keduanya untuk makan siang bersama. De segera menarik bibirnya, hingga ciuman itu terlepas, tetapi sebelum menjawab panggilan sang ibu, dia lebih dulu mengecup bibir Cyara dengan sangat banyak.


"Makanan pembuka," ucap pria itu membuat wajah Cyara merona. Dia sedikit memukul dada De, sebab sang kekasih berubah menjadi sangat mesyum.


De tak menghalau apalagi membalas, dia hanya terkekeh lalu menjawab panggilan Zoya. "Iya, Mommy, kami akan menyusul."


Suara teriakan itu sampai ke telinga Zoya, saat itu dia sedang bersama El, dan wanita itulah yang memberitahu bahwa De berada di dalam kamar bersama dengan seorang wanita.


"De, jangan macam-macam lho yah, Mommy dan El menunggu di meja makan. Kalau kamu sampai lama, Mommy tidak akan segan untuk mendobrak pintu kamarmu!" sahut Zoya, membuat De menghela nafas pasrah, belum apa-apa dia sudah diancam sedemikian rupa.


"Iya, Mommy-ku Sayang, ingat aku bukan Aneeq."


Mendengar itu, Zoya pun terkekeh geli, benar juga putra keempatnya itu tidak seperti si sulung yang kelewat mesyum. Jadi, seharusnya dia tidak usah mengkhawatirkan apapun.


"Mommy, jadi benar Kak De membawa seorang wanita?" tanya El dengan kening yang melipat.


"Benar, El, Kakakmu yang seperti es balok itu sedang jatuh cinta, tidak tanggung-tanggung dia langsung memperkenalkan gadis itu sebagai calon istrinya," jelas Zoya, mereka melangkah menuju makan sambil bercerita. El yang tahu betapa sulitnya meluluhkan pria seperti sang kakak begitu salut dengan gadis yang dimaksud ibunya.

__ADS_1


"Wah benarkah, ternyata ada juga yang menyukai pria seperti tembok beton itu. Jangankan tersenyum, bicara saja tidak, apa mereka pakai bahasa kalbu untuk berkomunikasi?"


Zoya terkekeh semakin keras, ada-ada saja pertanyaan putrinya ini. "Husst ... jangan begitu dong, El, dengan gadis itu sekarang De sudah bisa menggombal, bahkan di depan Mommy dia memanggil gadis itu dengan sebutan sayang. Bukankah itu terdengar menggemaskan?"


"Are you sure, Mom?" El menarik lengan Zoya, hingga wanita hamil itu berhenti melangkah. Zoya mengangguk dan bibir El langsung mencebik. "Cih, bahkan Kak Caca belum pernah melakukannya. Aku harus membuat dia memanggilku sayang di depan Mami Siska!"


El melangkah sambil menghentak-hentakkan kakinya, merasa kesal karena sang suami ternyata tidak seromantis kakaknya. Melihat itu Zoya hanya melongo sambil geleng-geleng kepala. Sebab sikap El mengingatkannya pada Ken, yang selalu iri pada Ron dan Siska.


Masih di dalam kamar, Cyara sudah berusaha untuk menghalau De yang bertindak semaunya. Dia khawatir sang calon ibu mertua kembali datang dan memergoki aksi nakal mereka.


"Om, berhenti! Kita harus menyusul mereka ke meja makan, aahhh!" Seolah tak ada puasnya, pria berjambang lebat itu kembali menyesap pucuk merah jambu milik Cyara. Dan setiap Cyara mengeluarkan suara, entah kenapa De selalu suka mendengarnya.


"Tapi—tapi—"


Cyara tidak dapat melanjutkan kalimatnya, dia malah melenguh saat De memainkan lidah dan membuat pucuknya semakin basah. Dia terus dibuat menganga, merasa tak tahan dengan permainan prianya, akhirnya Cyara menekan kepala De, hingga bulatan itu masuk setengahnya.


De menyeringai di antara lenguhan Cyara yang menggema. Dia mengibaskan kepala, tanda gemas. Lalu setelah itu De melepaskan diri, menjilat bibirnya seperti baru saja memakan sesuatu yang sangat manis.

__ADS_1


"Apa seenak itu?" tanya De melihat Cyara yang terengah-engah, dada gadis itu naik turun seiring tarikan nafas yang dia buat.


"Enak, tapi—"


"Tapi apa?" Tangan De melingkar di punggung Cyara untuk memasangkan pengait. Dia menurunkan kaos gadis itu begitu semuanya selesai.


"Tapi nggak bisa lama," lirih Cyara, tak bisa bohong dia memang menikmatinya. Setiap De menyentuhnya ada geleyar aneh, dan semua itu terasa sangat nikmat. Hingga dia menginginkannya lagi, lagi dan lagi.


Mendengar pengakuan Cyara, De terkekeh sambil mencubit pucuk hidung gadis cantik itu. "Setelah menikah, kita akan bermain sepuasnya."


Cyara yang sedang mencebikkan bibirnya segera mengangkat kepala. "Benarkah?"


De menyelipkan anak rambut Cyara ke belakang telinga, pria itu mengulum senyum dan berbisik. "Tentu saja, sampai aku kehabisan tenaga."


***


Senin Oey Senin🙄🙄🙄

__ADS_1



__ADS_2