Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Bantuan Aneeq


__ADS_3

"Aku ingin kamu membantuku untuk menyelidiki keluarganya, An. Termasuk kakak tirinya, hanya dia yang belum terbukti bersalah," jelas De, dia sadar diri dengan waktu dan segala keterbatasannya.


Dia ingin meminta bantuan Aneeq, setidaknya ada seseorang yang ada di sampingnya untuk mengurus masalah Cyara.


Aneeq bergeming sesaat, dia sedang berpikir dan mencerna semuanya. Dia tidak bisa menelan mentah-mentah informasi dari adik kembarnya.


"Tapi kamu tahu resiko yang akan kamu dapat?" tanya Aneeq, dia tidak mungkin mendorong adiknya ke dalam lubang masalah.


Apalagi ini termasuk masalah yang cukup besar, ada resiko yang harus ditanggung oleh De. Meskipun itu sangat kecil.


Ada helaan nafas kasar yang keluar dari mulut pria berjambang lebat itu. Dia mengangguk, dia paham dengan maksud kakaknya.


"Sejak aku memutuskan untuk membawanya pulang, aku sadar aku ada resiko yang harus aku tanggung, oleh karena itu aku tidak bisa melepaskannya begitu saja, An."


"Kamu menyukainya?" cetus Aneeq dengan nada serius, bahkan sorot mata pria itu terus menatap pergerakan De yang mulai gusar.


Sebagai sesama pria, dia jelas paham bagaimana saat seseorang menyukai lawan jenisnya. De tidak hanya sekedar menolong gadis itu, dia melihat ada sesuatu yang lain.


"Aku—" De terlihat gelagapan, bahkan lidahnya kelu untuk melanjutkan ucapannya menjawab pertanyaan Aneeq.


Sedari tadi dia hanya bisa menelan ludah dengan otak yang tak dapat diajak berpikir. Sementara pertanyaan Cyara terus terngiang-ngiang, tentang kejelasan hubungan mereka. Ya, dia tidak belum bisa menjelaskannya.


"An, aku—"

__ADS_1


"Sudahlah, aku tahu jawabannya. Dan sekarang kamu dengar aku baik-baik, kita bicara pahitnya dulu. Andai kamu ketahuan menyembunyikan gadis itu di apartemen, kamu tahu apa yang akan keluarganya lakukan?" ujar Aneeq, dia memilih untuk tidak membuang-buang waktu. Sebab ia tahu bagaimana adiknya dalam urusan wanita.


Di saat serius, Aneeq memang cukup bisa diandalkan. De tahu itu, tetapi memang dia jarang meminta tolong pada kakak tertuanya.


De belum bisa mencerna ucapan Aneeq, otaknya seolah buntu hingga menjawab dengan asal saja. "Aku akan ikut terseret. Pamannya tidak akan membuat aku lepas begitu saja. Iya 'kan?"


"TIDAK HANYA ITU, DE!" sentak Aneeq yang membuat De langsung mengangkat wajah karena terlalu terkejut.


"Kamu tidak hanya terseret, kamu bisa saja masuk penjara karena dituduh menyembunyikan dia, padahal semua orang mencarinya," jelas Aneeq menggebu.


"Tapi Cyara bisa membelaku, An. Dia bisa bicara bahwa aku menolongnya."


Mata Aneeq langsung memicing, baginya De ini terlalu picik. Dia mendekat dan menatap adik kembarnya dengan begitu lekat. "Omong kosong! Bagaimana kalau dia diancam dan berbicara bohong? Kamu bisa mendekam selamanya di sana."


"Jangan hanya karena ada Bee. Pikirkan baik-baik! Kamu tidak boleh gegabah, andai tidak terjadi masalah ini, aku tidak tahu sampai kapan kamu akan menyembunyikannya."


Aneeq memukul dada De karena merasa geram, bukan lagi karena kesal terhadap tingkah laku De, tetapi dia justru khawatir adiknya akan terseret masalah besar. Tidak hanya dia, ibu dan ayahnya juga pasti akan ikut kecewa.


"Aku minta maaf untuk itu, An. Aku benar-benar bingung."


De mendesaah lagi, dia menyugar rambutnya dari belakang ke depan merasa cukup frustasi.


"Duduk!" titah Aneeq dan De langsung patuh. Dia duduk di sofa sementara sang kakak berdiri dengan kedua tangan yang melipat di depan dada.

__ADS_1


"Begini saja, besok aku akan mencoba untuk membuat kunjungan ke kantornya. Aku akan sedikit memantau. Dan untukmu, jaga gadis itu jangan sampai keluar masuk apartemen dengan sembarangan. Atau rencana kita akan berantakan."


"Tapi aku juga punya rencana untuk memindahkan ayahnya, An."


"Kita bisa pikirkan. Nanti aku akan meminta Bee untuk membuat surat kuasa, sebagai seseorang yang paling berhak atas Tuan Andrew, pihak rumah sakit tidak akan mungkin menahannya di sana."


Mendengar itu, tiba-tiba bibir De tersenyum tipis. Dia seolah menemukan jalan keluar yang selama ini ia cari. "Baiklah kalau begitu. Terima kasih, An."


"Makanya kalau ada apa-apa itu bilang," cibir Aneeq, baru saja dia akan duduk di kursi kebesarannya. Pintu ruangan itu malah diketuk.


Tok tok tok


"Sayang, kenapa belum kembali ke kamar? Apa kamu masih memiliki pekerjaan?"


Itu suara Jennie, Aneeq langsung tersenyum sumringah dan menyuruh sang istri untuk masuk. "Dear, masuklah!"


Tanpa menunggu lama, benda persegi panjang itu terbuka. Namun, senyum di bibir Jennie langsung sirna begitu melihat De ikut menatapnya.


"Ke mari jangan takut. Dan kamu—keluar sana!"


De bangkit seraya mendengus, saat melewati Jennie dia berusaha untuk biasa saja. "Maafkan aku membuat kalian salah paham, dan perlu kamu ingat dia bukan selera Aneeq." Sindirnya sambil melirik semangka besar milik sang kakak.


***

__ADS_1



__ADS_2