
Cyara akhirnya mengatakan yang sebenarnya. Dia bercerita bahwa hari ini dia bertemu dengan Clarissa, sementara hari sebelumnya ia datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan sang ayah.
Namun, dirinya malah dibuat terkejut dengan satu fakta. Yakni tentang hubungan Austin dan Riana. Mendengar itu, De ikut terperangah. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala dan tak habis pikir dengan semua orang yang ada di dekat Cyara.
Ternyata Austin tidak bisa dianggap remeh. Sebab sekutunya adalah ibu tiri Cyara. Orang yang bertahun-tahun melayani Andrew tetapi ikut menusuk dari belakang. Atau lebih tepatnya menjadi musuh dalam selimut.
Dia bisa melihat ketakutan, kekecewaan juga amarah dari ekspresi gadis itu saat bercerita. Perlahan-lahan De bisa percaya, sebab ia melihat fakta lapangannya. Cyara sama sekali tidak berbohong.
Tanpa sadar De mengusap bahu Cyara untuk memberikan ketenangan. Dan memberitahu gadis itu bahwa ada dia yang akan siap membantu. "Jangan berpikir terlalu keras. Kita cari jalan keluarnya sama-sama."
"Tapi aku takut, Om. Aku takut Paman akan melakukan sesuatu pada Daddy."
De terdiam. Dia memikirkan cara bagaimana memindahkan Andrew ke rumah sakitnya. "Kamu sudah yakin saudara tirimu sekongkol dengan ibunya?"
Cyara menggeleng. Dia tidak tahu pasti Clarissa ikut campur atau tidak dalam rencana Austin dan Riana. Namun, dia teringat dengan ucapan Riana yang pernah dia dengar sebelum masuk ke ruangan Andrew.
"Tapi kemarin aku dengar Bunda Anna bicara dengan Paman, dia bilang Clarissa tidak ada di sana, dia tidak akan tahu. Apakah itu cukup membuktikan bahwa Clarissa tidak ada sangkut pautnya dengan mereka?" tanya Cyara dengan ragu. Dia tahu mulai sekarang dia harus ekstra waspada.
Sebab siapapun bisa menjadi musuhnya. Dia tidak boleh percaya pada sembarang orang.
"Kalau begitu biar kita selidiki dulu. Baru setelah itu kita pikirkan rencana untuk membawa ayahmu ke tempat yang aman," ujar De, membuat Cyara tersenyum lebar.
Dia merasa sangat senang. De bagaikan malaikat penyelamat yang dikirimkan Tuhan untuknya. Dia yakin, bahwa sebanyak apapun masalah, Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.
__ADS_1
"Sekarang kita makan." De bangkit dari ranjang dan mengajak Cyara. Dia teringat gadis ini belum makan dari siang, sama seperti dirinya.
Karena memikirkan Cyara yang marah-marah membuat ia tidak memiliki nafsu makan. Seharian ini fokusnya hanya tentang gadis itu. Selebihnya tentang pekerjaan.
"Om tidak pulang?"
"Aku akan pulang setelah makan malam denganmu."
Mendengar itu Cyara langsung membulatkan mata. "Om juga belum makan?"
"Tentu saja. Bagaimana aku bisa makan sedangkan otakku—" De menghentikan ucapannya. Hampir saja dia keceplosan. Tak ingin Cyara bertanya yang tidak-tidak dia langsung menarik gadis itu untuk pergi ke dapur.
"Kenapa tidak dilanjutkan?"
"Om kayak bunglon."
"Nanti marah-marah, nanti diam, nanti banyak bicara," sambung Cyara sambil terkekeh.
Pria berjambang lebat itu hanya diam. Membiarkan Cyara terus mengoceh. Baginya ini lebih baik, dari pada gadis itu menangis karena teringat keluarganya.
De melepaskan tangan Cyara lalu mulai membuka lemari es. Dia mengeluarkan bahan makanan karena memutuskan untuk memasak.
"Apa Om perlu bantuanku?"
__ADS_1
"Tidak!"
"Kenapa? Om bilang aku harus belajar memasak."
"Kali ini biarkan aku sendiri, karena aku sudah sangat lapar."
"Kalau begitu kita pesan saja. Om tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga, kita hanya perlu menunggu."
De tidak mempedulikan saran Cyara, dia terus menyiapkan bahan-bahan.
"Cih, Om lebih suka perkara sulit daripada yang mudah?"
"Baiklah kalau begitu, aku akan request. Aku sedang ingin omelette, bisakah Om membuatnya?"
"Itu adalah makanan kesukaanku setiap pagi, Daddy selalu membuatkannya untukku. Karena sekarang Daddy tidak ada. Aku akan meminta—"
Cup!
Mulut Cyara berhenti begitu saja saat sebuah benda kenyal melandas di bibirnya. Dia terdiam hingga sapuan lembut menyapa, Cyara bisa merasakan De melumaatnya dengan gerakan yang sangat pelan namun memabukkan.
Kedua netra itu saling tatap. Akan tetapi Cyara tak dapat mengartikan tatapan mata De untuknya. Hingga ia tak sadar bahwa lengan kekar itu mengangkat tubuhnya, dan mendudukkan ia di atas meja.
Ciuman itu terus menuntut, hingga Cyara membuka mulut. Dia semakin mencengkram dada De, sementara pria itu mulai memainkan lidahnya, membelit lidah Cyara hingga berhasil dia kulumm dan dia sesap dengan manja.
__ADS_1
"Itu akibat banyak bicara!"