
" Tiara, Kamu kenapa Nak.?! " Suara itu keluar dari bibir Tante Diana yang tanpa sengaja melihatnya sedang Berjongkok dan meringkuk mendekap Lututnya lalu tante Diana pun Menghampiri tiara.
" Tante. " Desah Tiara dengan suara Lirihnya dengan Cepat tiara menghapus Airmatanya supaya tante Diana tidak Curiga
" Tiara kamu dari mana saja nak, Semalam kamu kemana saja tidak pulang, Tante bingung mencarimu kemana mana nak.? " Tante Diana semakin Mencerca pertanyaan pertanyaan pada tiara yang kini masih memikirkan Alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang tante.
" Maaf tante, kemarin malam Tiara pergi Kerumah Temen Tiara karena Ada urusan mendadak. "jawabnya dengan wajah Sedikit gugup karena sepertinya Alasannya kali ini tidak logis sehingga membuat kening Tante diana itu mengkerut
" Temen.? Teman siapa Tiara, kamu kan tidak punya teman selain melly.? " tanya tante dengan tatapan penuh selidik
" Ya pokoknya Adalah tante, emm tiara masuk dulu ya tan, Tiara capek. " Dan Akhirnya tiara memilih untuk meninggalkan Tante diana Yang masih Menatapnya dengan penuh Curiga. dengan Langkah kaki cepat dia langsung masuk kedalam Rumah dan masuk kedalam kamarnya sendiri lalu menguncinya.
Sedang Disisi Lain Gilang tengah Berdebat Dengan Emira yang Kini masih menjadi kekasihnya itu.
" Aku nggak mau kamu Putusin Hubungan kita begitu saja Gilang. " Terdengar Emira Berucap dengan diiringi isak tangisnya.
Gilang sengaja Tidak Turun Dari mobil yang masih Setia terparkir Di Halaman Rumah kakeknya sedangkan Emira masih menangis duduk disebelahnya.
Pandangan mata Gilang Hanya lurus sebentar sambil sesekali dia berdesis dan meringis jika kembali merasakan Rass sakit dikepalanya.
Ya memang Akhir akhir ini dia lebih sering merasakan sakit kepala yang Hebat Jika otaknya Dia Ajak Bekerja untuk berpikir Lebih keras lagi.
" Gilang, aku mohon Jangan Tinggalin Aku gilang, aku lebih baik mati dari pada Harus kehilanganmu, Aku sudah tidak punya Harga diri lagi Sebagai Seorang wanita Lang. " Kali ini Ucapan Emira mampu membuat gilang Menoleh kearahnya.
" Maafkan Aku mira aku memang salah besar sama Kamu, tapi Aku Hanya ingin pulih dari ingatanku, sedang kamu tau sendiri kan ada seorang Wanita hamil yang Mengatakan jika aku ini suaminya dan sudah dipastikan Jika Bayi yang Ada didalam kandunganya itu adalah Anakku. darah dagingku. " Ujar Gilang Wajah yang merasa sangat bersalah pada Emira wanita yang Sempat Dia cicipi tubuhnya entah karena Napsu atau karna cinta dia sama sekali tidak bisa membedakannya.
" Kamu kenapa tega sekali bicara seperti itu lang, bagaimana kalau Jika seandainya Aku benar benar Hamil anak kamu, apa kamu juga akan tega meninggalkan aku dan juga darah dagingmu seperti Wanita yang mengaku sebagai istrimu itu.?!"
Jlebbb
Pertanyaan Emira kali ini mampu membuat Bibir Gilang Merasa Kelu dan terbungkam Hatinya merasa terkoyak, jika Apa yang diucapkan Oleh kekasihnya barusan benar benar Terjadi.Lalu apa yang Harus dilakukannya, mungkinkah Dia juga Akan menikahi Emira kekasihnya dan bertanggung jawab atas perbuataannya atau Dia memilih untuk lepas dari tanggung jawabnya dan pergi meninggalkan emira.
" Enggak Enggak itu tidak mungkin Mira, kamu sendiri kan yang Bilang kalau saat kita berhubungan Intim kamu selalu minum pil pencegah Kehamilan.?" Gilang Tersenyum tipis dan menyangkal perkataan Emira.
" Aku Serius bertanya sama kamu gilang, jika aku benar Hamil Apa yang Akan kamu lakukan? " Emira berusaha membuat Gilang semakin ketakutan dan itu cukup membuat Emira puas karena dengan berkata seperti itu dia Gilang Akan berfikir Ulang untuk Meninggalkannya.
" Arggggghhhhh Rasanya kepalaku mau pecah. " Teriak Gilang dengan Frustasi lalu turun Dari mobil dan pergi entah kemana.
__ADS_1
" Gilang Tunggu gilang kamu mau kemana.? " Teriak Emira Sambil turun Dari mobilnya lalu Berlari mengejar Gilang yang semakin Hilang dari pandangannya.
" Argggggggh. ." Gilang Tetap mengumpat karena rasa kepalanya yang semakin Sakit menyerangnya.
Lalu.
" Gilang awas. ----------" Teriak Emira saat mendapati sebuah Mobil Sedan warna Hitam yang Kini sedang Melaju Kencang Kearah Gilang.
Gilang Yang Tidak Konsentrasi karena sakit kepalanya itu hanya diam mematung sambil merentangkan tangannya karena Silaunya cahaya Mobil yang Menyorotnya tepat dihadapannya.
BRUK...
DUG
" Gilangg. --------------" Teriak Emira
Terlihat Tubuh Gilang Terpental begitu saja dan terhempas Ke jalanan Aspal dan kepalanya pun menjadi sasaran Keras Saat terbentur Oleh Batu Yang tidak jauh dari Terjerembabnya tubuh Gilang.
Emira Langsung Berlari Menyusul Gilang yang Sudah Tidak sadar Diri di jalanan Aspal dengan Darah yang Sudah bercucuran Di kepalanya
" Gilang bangun Gilang ayo bangun kamu tidak boleh mati gilang. " Seru Emira dengan paraunya Tangannya sibuk menepuk nepuk pipi gilang Yang Sudah Ada dalam pangkuannya.
" Tuan Muda. "
" Nico. "
Suara itu keluar Dari Mulut Dua pria tadi yang menghampiri emira yang Sedang Memangku Gilang yang kini sudah terluka.
" Tuan, Itu tuan muda tuan itu tuan Nico. " Seru pria berjas Itu yang tak lain Adalah Arya.
" Arya Cepat kamu bawa Putraku Ke dalam mobil. " Seru pria paruh baya yang tak lain Adalah papa Ardan
" Permisi Nona Saya Akan membawanya ke rumah sakit. " Tanpa pikir panjang Arya dibantu papa Ardan itu membopong tubuh Gilang masuk kedalam mobil sedang Emira hanya mengangguk Pasrah karena memang yang terpenting saat ini memang nyawa Kekasihnya itu.
******
Sesampaiannya Di rumah sakit Gilang Langsung Dibawa Di Ruang UGD untuk mendapatkan perawatan. sementara papa Ardan dan Juga Arya serta Emira menunggu Diluar menunggu Dokter Memberi penanganan pada Gilang yang tak lain Adalah Nico.
__ADS_1
" Siapa kamu, Lalu Ada hubungan Apa kamu dengan putraku.?! " Ujar Papa Ardan dengan Nada sedikit tak ramah. karena memang selama ini papa Ardan Tidak tau Jika Sahabatnya bastian mempunyai Anak gadis, yang Dia tau Bastian sahabatnya itu hanya mempunyai Satu orang Putra yaitu Elang.
" Ja jadi Gilang itu anak Om.?" tanya emira dengan terbata bata, karena memang selama ini emira Tidak begitu tahu tentang Teman teman Papanya, selama kurang lebih 12 tahun Dia terpaksa Diasingkan oleh Keluarganya karena mempunyai penyakit yang menyimpang sejak diusia 10 tahun.
" Apa maksud kamu, Dia memang Putraku namanya Nico bukan gilang. " Ujar papa Ardan dengan Nada Dingin dan tak ramah
" Sa saya Kekasihnya Anak Om." Ujar mira dengan terbata bata.
" Apa.?! " Pekik Papa Ardan lantaran syok mendengar pengakuan dari gadis didepannya itu.
" Kamu jangan bercanda, mana mungkin Anak saya tiba tiba punya kekasih, semenjak Dinyatakan Hilang Empat bulan yang Lalu, jangan Bicara yang bukan bukan kamu.! " Sentak Papa Ardan
" Saya tidak Bohong Om, Saya memang kekasih Anak om, bahkan Kami saling mencintai dan berencana Untuk melanjutkan yang Lebih serius. "
Papa Ardan menggeleng Cepat dan menatao tajam pada Emira yang tidak tau malu itu pikirnya.
" Dengar baik baik ya jangan membuat saya marah sama kamu, Anak saya sudah beristri dan sudah mempunyai Anak, bahkan istri Anak saya juga sedang menggandung Cucu kedua saya, jadi kamu jangan Coba Coba Untuk merusak rumah tangga Anak saya.! " Sentak papa Ardan dengan suara nyaringnya seakan. mengusik ketentraman pasien lainnya yang kini tengah beristirahat karena memang Sudah sangat larut malam
Emira Tersenyum Kecut melihat Pria paruh baya yang mengaku menjadi Papa dari kekasihnya itu.
" Jika saya berhasil membuktikan Jika Anak Anda Sudah Berhasil Menghamili saya bagaimana, sebagai Orang tua Apa yang Anda Lalukan.?! " Ujar Mira disertai Senyum Liciknya membuat Pria paruh baya itu tersentak kaget mendengarnya.
" JANGAN BICARA SEMBARANGAN KAMU.?!" Ujar papa Ardan dengan Murka.
"Baik nanti Akan aku buktikan Kebenarannya bahwa Aku benar Benar Tidak sedang Main main Dengan Ucapan saya.! " Seru Emira dengan Senyum liciknya lalu pergi Melenggangkan kakinya begitu saja dari hadapan papa Ardan membuat papa Ardan Semakin geram dan kesal melihat seorang gadis yang tidak punya tatakrama sama sekali pikirnya.
" Aryaaa. "
" Iya tuan.?! " Jawab Arya sambil mendekat kearah tuan besarnya itu
" Cari tau Siapa Gadis Rubah kecil itu, dan Dari mana Asal usul keluarganya, aku akan memberinya pelajaran, karena sudah bermain main dengan seoran Ardan wijaya. "
" Baik tuan.! "
Entah Apa yang Akan dilakukan papa Ardan selanjutnya . .
Untuk malam ini Author sempetin Update ya dan Cuma Sedikit saja Ngetiknya.
__ADS_1
semoga tetap syuka.
Happy reading