I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Hukuman Berat


__ADS_3

Di apartemen Alex, dia baru saja keluar dari ruang gym. Dia masuk ke kamarnya untuk mandi. Setelah mandi dia mengambil baju tidur berwarna coklat. Lalu naik ke tempat tidur dan tertidur dengan pulas.


Hingga esok pagi dia terbangun dari tidurnya, dia bersiap - siap untuk berangkat ke kampus.


Kini dia sudah rapi. Dia mengambil kunci mobil dan menuruni tangga.


"Selamat pagi tuan muda," sapa Lastri, Asisten rumah tangga di rumah orang tuanya yang di tugaskan di apartemennya sesekali oleh Alex.


"Hemm!" jawab Alex yang masuk ke ruang kerjanya di lantai bawah. Dia mengambil beberapa buku materi kuliah. Lalu keluar lagi.


"Saya membuat sarapan untuk tuan muda, mungkin tuan muda ingin sarapan saya akan siapkan di meja makan," ucap wanita paruh baya itu.


"Boleh, buatkan aku kopi juga!"


"Baik, tuan muda."


Setelah Lastri menyiapkan sarapan di meja makan, dia membuat kopi untuk Alex. Alex mengambil makanannya sendiri dan menyantapnya dengan lahap. Setelah selesai dia meminum kopi hingga setengahnya. Lalu keluar menuju lift.


40 menit kemudian dia sudah di dalam kelas memberi materi pada mahasiswanya. Dia melihat bangku Jovanka yang tampak kosong.


# # # # # #


"AAAAAAAAAHH!!! Aku telat!" teriak Jovanka melihat jam dinding di kamarnya.


Dengan cepat dia mandi, mengganti bajunya dengan kemeja warna abu abu dan celana jeans. Kemudian menyisir rambut dan menguncirnya asal. Segera keluar membawa tas dan kunci mobil lalu menuruni tangga.


"Jova, kau tidak sarapan?" tanya Ibu yang sedang duduk di sofa depan TV.


"Aku kesiangan bu, aku langsung berangkat saja," Jova menghampiri ibunya dan mencium pipinya dari belakang sofa.


Dia mengendarai mobilnya menuju kampus. Sialnya jalanan sangat macet.


"Sial! kenapa macet segala sih!" memukul kemudi mobilnya.


# # # # # #


Hingga jam kuliah selesai Alex tidak melihat tanda - tanda Jovanka datang. Dia berjalan menuju ruangannya. Sepanjang koridor matanya sesekali menoleh ke sekeliling kampus, berharap melihat Jovanka di antara mahasiswa lainnya, tapi nihil.


Dia sudah di depan pintu ruangannya. Dia membuka pintu, lalu masuk dan menutup pintu kembali. Dia baru saja mendudukkan badan dan meletakkan kepalanya di sandaran kursi.


Cleekk..


Pintu terbuka tanpa ketukan, Alex spontan menoleh pintu. Tampak Jovanka ngos - ngos an, satu tangannya masih memegang handle pintu. Alex menatapnya tanpa bertanya, kepalanya di angkat dari sandaran kursi, menaruh tangannya di atas meja. Jovanka bingung dan takut di tatap seperti itu.


"Maaf pak!" ucap Jovanka menundukkan kepalanya.


"Duduk!"


Jovanka masuk dan menutup pintunya lagi. Dia sudah duduk, tapi dia bingung harus mulai bicara darimana.


"Sebelumnya saya mohon minta maaf atas sikap saya beberapa waktu yang lalu pak. Saya tau saya salah pak, saya siap menerima hukuman apapun dari bapak," ucap Jova yang masih menundukkan kepalanya.


"Apa kau yakin?"


"Tentu saja pak, asal saya masih tetap jadi mahasiswa," ucap Jovanka menahan malu.


Alex menatap Jovanka penuh arti. Kemudian tersenyum samar.


"Kerjakan tugasmu yang tertinggal, dan tulis Sumpah pemuda 50 lembar! Kumpulkan tugas dan hukuman mu besok pagi. Apa kau sanggup?"


"Besok pagi pak?" Jova membulatkan matanya melihat Alex. Yang di lihat hanya mengangkat sebelah alisnya.

__ADS_1


"Kalau kau tidak sanggup, tidak masalah. Aku tidak memaksamu untuk kembali menjadi mahasiswa ku," ucap Alex setelah cukup lama mereka saling diam.


"Saya sanggup pak," jawab Jova pasti.


"Baiklah, ingat! jangan terlambat!" Alex memberi peringatan dengan tatapan yang sangat dingin. "Kau boleh keluar!"


"Baik, pak. permisi!"


Alex tidak menjawab, dia hanya melihat Jovanka sampai menghilang di balik pintu.


Di depan pintu Jovanka berpapasan dengan dosen wanita yang terkenal centil, seperti menatapnya tidak suka. Tapi Jovanka tidak perduli, dia berjalan ke arah kantin kampus.


Dia memesan makanan dan minuman, lalu melihat sekitar, mencari kursi kosong. Terlihat di sana ada dua sahabatnya, Indira dan Bayu. Dia berjalan mendekati mereka.


"Hai, Jova! kenapa mukamu di tekuk begitu?" tanya Indira sambil menepuk bangku di sebelahnya agar Jova duduk di sampingnya.


"Jova, kau ada masalah? bilang pada ku, siapa yang membuat mu menekuk wajah begini. Aku siap memukul kepalanya!" ucap Bayu berapi - api meninjukan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya.


"Pak Alex!" jawab Jova.


Spontan Bayu membuka mata dan mulutnya lebar.


"Kenapa? kau takut?" tanya Indira dengan senyum mengejek begitu melihat ekspresi Bayu.


Kenapa harus dia sih, melihat matanya saja seperti melihat mata serigala. Kalau aku memukulnya, aku pasti mati saat itu juga. batin Bayu bergidik ngeri.


"Em.. bukan begitu. A.. aku hanya.. meng.. hormati dosen saja," jawab Bayu salah tingkah.


"Alasan saja kau!" ucap Indira melempar tisu ke wajah Bayu. "Memangnya kenapa Jov?" mengalihkan pandangannya pada Jovanka.


"Dia memberi ku hukuman yang sangat banyak. 50 lembar sumpah pemuda dan tugas - tugas ku yang terlewat. Semua harus di kumpulkan besok pagi," ucap Jova membuat ekspresi menangis.


"Ssttt! kau bisa kena masalah kalau mengumpatnya," ucap Jova pelan.


"Tapi itu kan keterlaluan Jova,"


"Heem, mau bagaimana lagi. Dari pada kuliah ku berakhir."


"Iya juga ya," sahut Bayu. "Apa kau butuh bantuan ku Jovanka sayang," lanjutnya dengan senyum menawan.


"Tidak!" ucap Jova cepat. "Itu bisa membuat masalah baru untukku." Jova mengeluarkan ponselnya, menghubungi seseorang.


"Mir, hari ini aku tidak ke kantor. Kau urus semua urusan di kantor!"


"Siap nona!" suara Mira di seberang sana. Jova mengakhiri panggilannya.


"Perusahaan mu ada masalah Jov?" tanya Bayu.


"Bukan masalah sih, hanya saja semenjak Perusahaan raksasa Group G di pegang oleh CEO barunya, perusahaan kecil seperti ku susah bergerak. Dia mengeluarkan produk - produk yang menyaingi produk menengah kebawah seperti produk ku."


"Papi ku bilang dia memang orang yang tegas, sangat cerdas menghadapi berbagai situasi di perusahaan."


"Papi mu mengenalnya Bay?" sahut Indira.


"Tidak, dari dulu kan papi ku bekerja sama dengan Group G, hanya saja papi ku belum pernah bertemu dengan CEO baru itu. Papi ku bilang, dia tidak pernah datang di acara meeting. Hanya asistennya saja yang selalu datang"


"Oh.." ucap Jova dan Indira bersamaan.


"Sebenarnya aku juga penasaran, seperti apa CEO yang bahkan nama aslinya saja tidak ada yang tau."


"Aku juga penasaran, aku ingin melihat apa isi otaknya itu," ucap Jova

__ADS_1


"Apa kau gila Jov!" sahut Indira.


"Hahhaa" Bayu tertawa. "Kalau kau mau bertemu dengannya, kata papi ku saat ulang tahun Group G tahun ini, dia akan memperlihatkan dirinya."


"Oh ya?" ucap Jova kaget. Seperti mendapat angin segar.


"Bocoran dari Rakha, asisten Putra Gibran itu. Kantor mu kan menyewa di gedung Group G. Kau pasti di undang kan?"


"Iya, setiap tahun mereka mengundang kami." jawab Jova. "Brarti itu masih sekitar 2 bulan lagi kan?"


"Iya, kau datang bersamaku ya?"


"Ih, yang di undang kan papi mu bukan kau!", sahut Indira.


"Aku akan ikut, heheh," Bayu menggaruk tengkuknya salah tingkah.


Jova dan Indira membuang muka mereka bersamaan.


"Aku pulang dulu ya, aku harus segera menyelesaikan tugasku," ucap Jova setelah menghabiskan makanannya.


"Ok Jova," jawab Indira


"Ok sayang," jawab Bayu mengedipkan mata sebelah.


"Sayang kepalamu!" sahut Indira


Bayu tersenyum, salah tingkah. Jova tidak perduli dengan kata - kata bayu. Bayu memang begitu anaknya.


# # # # # #


Jova sudah di dalam mobilnya. Dia memanggil satu nomor bertulisan My mom dengan tanda hati berwarna merah.


"Hallo Jova!" suara Ibu diseberang sana.


"Hai bu, Jova tidak pulang ke rumah. Jova pulang ke apartemen ya," ucap Jova.


"Ok sayang, hati - hati. Jangan lupa makan teratur"


"Siap bu!" Jova mengakhiri panggilannya.


"Lebih baik aku tinggal di apartemen. Tristan akan mengejek ku kalau dia tau aku mendapat hukuman sebanyak ini. Belum lagi berdebat dengannya. Pasti akan membuang - buang waktu ku!" gumam Jova yang sedang mengemudikan mobilnya menuju apartemennya.


# # # # # #


CEO yang membuat banyak orang penasaran itu kini memasuki lobby Group G. Dia selalu datang di saat kantor sudah sepi.


Dia memasuki lift khusus atasan. sampai di lantai 30 dia di sambut oleh asistennya. Berjalan menuju ruangannya.


Di ruangan CEO yang tampak mewah itu terlihat tumpukan berkas di meja CEO.


Mereka duduk berhadapan, menyelesaikan pekerjaan mereka hingga menjelang gelap.


"Apa yang di lakukan Carissa sekarang?"


"Tadi pagi saya mendapat laporan dari anak buah saya kalau Carissa menginap di apartemen laki - laki yang bersamanya ke luar negeri beberapa waktu lalu tuan muda"


"Hemm, ada buktinya kan?" tanya Putra Gibran dengan senyum sinis nya.


"Tuan muda tidak perlu khawatir. Semua tersimpan rapi. Bahkan saya melakukan penyimpanan ganda untuk menghindari kehilangan data"


"Bagus! sekarang antar aku pulang," ucapnya pada asistennya setelah pekerjaan mereka selesai.

__ADS_1


__ADS_2