
"Kamu tidak ada di sisiku, jadi aku bangun!" jawab Jova yang mengalungkan tangan di pundak Alex yang satunya.
Alexander meletakkan ponselnya di atas meja, dan menarik tangan Jova agar berjalan dan berpindah duduk di pangkuannya. Alex tergelak manakala melihat Jova yang membalut tubuh polosnya dengan selimut tebal.
"Kenapa harus memakai ini?" tanya Alex menyentuh selimut.
"Malulah!" jawab Jova.
"Malu sama siapa?" tanya Alex dengan senyum jahilnya, "tidak ada siapa pun di sini, selain aku dan kamu!" ucap Alex menarik gorden yang terbuka agar tertutup.
Setelah itu kembali duduk dan mendudukkan Jova di pangkuannya. Alexander menarik tangan Jova yang mengunci selimut, sehingga selimut Jova ikut terjatuh. Menampakkan tubuh bagian atas Jova yang seketika di lihat oleh Alex.
"Sayang! kalau begini matamu berubah jadi mata mesum!" ucap Jova tergelak dan melingkarkan tangan di leher Alex.
"Haha!" gelak Alex, "Selama itu dengan mu tidak salah kan?" ucap Alex kemudian mencium pipi Jova bertubi - tubi.
"Tentu saja!" jawab Jova cepat.
Tangan Alex mengusap lembut perut rata Jova, pandangannya pun mengarah ke tempat yang sama. Senyum manis dan bahagia tersungging di bibirnya.
"Sayang, kamu ingin anak laki - laki atau perempuan?" tanya Jova.
"Laki - laki atau perempuan sama saja! aku akan tetap menyayanginya. Sama seperti aku menyayangi Mommy nya!" jawab Alex yang masih mengusap perut Jova.
"Hemm" Jova mengangguk bahagia.
"Sayang, perutmu ini akan semakin besar. Apa kamu yakin tidak akan keberatan dengan kehamilan ini?"
"Tentu saja tidak!" ucap Jova yakin, "justru aku akan keberatan, kalau aku tidak bisa mengandung anakmu, Sayang!" ucap Jova.
Alexander menatap lembut mata Jova, dengan senyum yang semakin mengembang.
"Aku akan menjagamu dan anak kita dengan nyawaku!" ucap Alex.
"Dan tentu saja dengan hartamu!" lanjut Jova membuat Alex mengerutkan kening.
"Kenapa begitu?" tanya Alex yang bingung dengan maksud Jova.
"Kau mengeluarkan banyak uang untuk membayar orang - orang yang kau perintahkan untuk menjagaku!" jelas Jova.
"Haha!" Alex tergelak, "bagus kan aku memberi pekerjaan pada mereka! daripada mereka jadi pengangguran!" ucap Alex bangga.
"Hehehe! iya juga sih!" ucap Jova merasa ucapan suaminya benar.
Tangan Alexander mulai berpindah tempat, meraba dada Jova dan merem*snya bergantian. Membuat Jova reflek memegangi tangan Alexander yang aktif.
"Jangan bilang kamu mau lagi!" ucap Jova yang si balas gelengan dan senyum jahil oleh Alexander.
"Tidak, aku hanya ingin bermain - main!" ucap Alex.
"Kamu tidak bohong?"
"Tidak, Sayang! aku hanya akan menemui buah cinta kita sesekali. Karena dia masih terlalu kecil untuk ku jenguk berkali - kali" jelas Alexander dengan senyum tak berdosa nya.
Jova tergelak sambil memegang hidung Alexander dan menggoyangkan pelan karena gemas. Hingga kepala Alexander ikut bergerak ke kanan kiri.
"Ayo mandi, Sayang!" ajak Jova.
"Hemm! ayo!" ucap Alex menyingkirkan selimut tebal Jova dan mengangkat tubuh polos Jova ke walk in closed, hingga masuk ke kamar mandi.
# # # # # #
Alexander menggenggam posesif jari jemari Jova yang menyatu dengan jarinya. Mereka menuruni tangga dengan sangat hati - hati. Lebih tepatnya Alex yang begitu posesif dengan setiap gerak gerik Jova.
Di dapur terlihat Lastri sedang menyelesaikan sarapan dan susu untuk Jova. Di meja makan tampak Maya yang mondar - mandir menyiapkan sarapan untuk Jova dan Alexander. Melihat Alexander dan Jova menuruni tangga dengan segera Maya menarik dua kursi bersebelahan.
"Selamat pagi Tuan, selamat pagi Nona!" sapa Maya saat Jova dan Alex sampai di anak tangga terakhir.
__ADS_1
"Pagi!" jawab Jova dengan senyum manis. Alexander tak sedikit pun bergeming dengan sapaan Maya.
Romantis sekali sih mereka! andai itu tanganku! batin Maya melihat tangan Alex dan Jova yang saling terpaut.
"Duduk, Sayang!" ucap Alexander.
"Iya!" jawab Jova.
Alexander mengeluarkan ponselnya, dan mendial nomor Rakha.
"Jemput aku!" ucap Alexander, setelah panggilannya terhubung.
"Baik, Tuan!" jawab Rakha dari sebrang.
Alexander mematikan panggilannya dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Kamu makan apa Sayang?" tanya Jova setelah semua menu sarapan tersaji.
"Apa saja yang kamu ambilkan, pasti aku makan!" jawab Alexander lembut.
"Baiklah," jawab Jova dengan senyum tak kalah manis.
Mereka makan bersama dengan menu yang sama. Dengan porsi yang sama dan selesai bersamaan.
"Lastri!" panggil Alexander.
"Iya, Tuan!" jawab Lastri yang langsung menghampiri Alex.
"Kenapa kau hanya membuat susu satu gelas?"
"Maaf, Tuan, saya tidak tau kalau Nona meminum dua gelas susu sekaligus"
"Buatkan satu lagi untukku!" ucap Alex.
"Baik, Tuan" jawab Lastri.
Lastri kembali membuat satu gelas susu dan menyerahkan pada Alexander. Tak butuh waktu lama bagi Alexander menghabiskannya.
"Aku berangkat dulu ya, Sayang!" pamit Alexander mencium lama kening Jova.
"Hemm!" Jova mengangguk.
Jova mengantar Alex sampai pintu utama apartemennya.
"Kamu berangkat jam berapa?" tanya Alex sebelum berangkat.
"Sebentar lagi" jawab Jova.
"Baiklah, hati - hati di manapun kamu berada!" ucap Alex.
"Siap, Sayang!" jawab Jova.
"Bekerja dengan baik!" ucap Alex ketus pada Maya yang berdiri di belakang Jova.
"Iya, Tuan!" jawab Maya menunduk.
Alex mengusap kepala Jova pelan dan mengecup singkat kening Jova dan berlalu dari pintu utama apartemennya. Jova memperhatikan punggung Alexander dan melambaikan tangan sebelum lift menghilangkan Alexander dari pandangan mata Jova.
Apa istimewanya Nona Jovanka ini ya, bukankah jauh lebih seksi model Carissa Birdella itu. Ucap Maya dalam hati memandangi Jova dari belakang.
"Nona Jovanka, apa Nona mau berangkat ke kampus sekarang?" tanya Maya.
"Iya, berangkat sekarang saja!"
"Baik, Nona!"
Maya mengambil tas dan perlengkapan kuliah Jova lainnya dan membawanya berjalan mengikuti langkah Jova.
__ADS_1
"Oh ya, ini kunci mobil yang di beri suami ku!" ucap Jova merogoh kunci mobil dari dalam tasnya, "aku tidak tau yang mana mobilnya, karena mobil ku yang sebelumnya sudah masuk rongsokan katanya"
"Saya akan mencarinya Nona!" ucap Maya sambil menekan tombol lift.
"Hemm!" jawab Jova.
"Nona, tunggu di sini saja!" ucap Maya, mengarahkan Jova untuk duduk di sofa lobby.
"Iya!" jawab Jova.
Setelah berhasil menemukan mobil yang berbunyi setelah menekan tombol kunci otomatis, Maya membawa mobil itu menuju depan lobby.
"Wow! baru kali ini aku mengemudikan mobil sport seperti ini!" ucap Maya, "beruntung sekali Nona Jovanka!"
Maya berhenti di depan lobby, dan menghampiri Jova.
"Nona, mobil sudah siap!" ucap Maya menunjuk mobil sport berwarna biru.
"Wow! blue!" pekik Jova. "Ah! suami ku memang selalu tau kesukaanku!" ucap Jova kegirangan.
Oh! ternyata warna kesukaan Nona, sepertinya aku semakin iri pada hidup Nona Jovanka, batin Maya.
Maya membukakan pintu untuk Jova, Jova duduk di kursi penumpang dan memakai seat belt nya. Maya berputar dan duduk di balik kemudi. Maya mengemudikan mobil membelah kemacetan Kota Jakarta menuju kampus Jova.
"Umurmu berapa Maya?" tanya Jova memecah keheningan.
"23 tahun, Nona!"
"Aku baru mau 23 tahun!" ucap Jova. "kamu masih kuliah?"
"Saya tidak kuliah, Nona!" jawab Maya, "saya hanya lulusan SMA. Waktu saya akan masuk kuliah, Ayah saya meninggal. Sementara saya masih punya adik yang harus sekolah. Akhirnya saya memilih bekerja, supaya tidak membebani Ibu saya!"
"Oh! tapi kamu mau kuliah?"
"Waktu itu tentu saja saya mau Nona!" jawab Maya. "Cita - cita saya menjadi Dosen, tapi apalah Daya semua harus tumbang bersamaan saat Ayah saya meninggal. Uang pesangon Ayah di gunakan untuk pendidikan kedua adik saya!"
"Berapa usia adikmu?"
"Satu 17 tahun dan satu lagi 13 tahun" ucap Maya, "kalau Nona? apa Nona anak tunggal?" tanya Maya.
"Bukan! aku masih punya adik laki - laki berusia 15 tahun. Masih kelas satu SMA!"
"Oh!" Maya mengangguk mengerti. "Apa Nona baru kali ini naik mobil ini?"
"Iya!" jawab Jova, "sejak awal aku mengenal suamiku, dia sering berganti mobil, tapi aku baru tau kalau dia punya warna biru!"
"Jika di lihat dari bulan dan tahun di plat nomornya mobil ini baru satu bulan, Nona!"
"Oh, ya?" tanya Jova tak percaya.
"Iya, Nona!" jawab Maya.
Jova mengangguk dengan senyum manisnya. Maya memperhatikan raut wajah Jova yang tampak bahagia.
Bahagia sekali kamu Nona! batin Maya.
Belum jelas ya, karakter si Maya ini. Dia ini jahat, egois atau bagaimana ya!
Tunggu next episode nya ya reader ^-^
Terima kasih yang sudah meninggalkan Like nya.
__ADS_1
Salam Lovallena.