I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Mencari


__ADS_3

"Kak, Minggu sore gini tidak ada rasa ingin ngajak aku jalan - jalan gitu?" tanya Tristan duduk di samping Jova yang sedang bersantai memainkan ponselnya di gazebo belakang rumah.


"Kau kan punya kaki, ngapain ngajakin kakak jalan - jalan!"


"Heemm!" Tristan menarik nafas. " Kecebong juga punya kaki kak!"


"Lalu?"


"Tapikan aku tidak boleh Ayah keluar sendirian lagi setelah tertangkap basah balap liar waktu itu," ucap Tristan menahan kesal.


"Hahaha" Jova terbahak - bahak. "Mangkanya jangan sok. Masih bayi juga sok - sok an balap liar!"


"Tch! Iya - iya maaf. Janji tidak lagi," menaikkan 2 jarinya ke samping kepalanya. "Tapi ajak aku keluar lah kak. Jajan atau nonton juga boleh."


Jova teringat sesuatu.


"Eem, Okelah, ayo! Kakak ajak kamu jajan sepuasnya sekarang. Cepet siap - siap!"


"Serius kak?"


"Iya, Ayo!" Jova sudah berjalan masuk ke dalam.


Jova keluar kamar dengan pakaian santai, tas kecil, topi, sepatu kets dan kunci mobil di tangannya.


Tristan keluar kamar dengan pakaian super keren. Ala - ala nongki anak muda.


"Kak dandanan kakak kok gitu amat sih. Katanya jalan - jalan," tanya Tristan sambil menuruni tangga bersama Jova.


"Emangnya kenapa?" Jova menaikkan sebelah alisnya melirik Tristan. "Nah kau, dandan kayak mau nongkrong sama teman - teman mu saja."


"Yaa biar keren dong kak," Tristan menaik turunkan kedua alisnya beberapa kali.


Mereka sudah di dalam mobil, Jova melajukan mobilnya, membelah jalanan ibu kota yang tidak terlalu padat karena hari minggu.


"Kak, kita kemana sih? dari tadi muter - muter gak jelas. Sudah banyak mall yang kita lewati. Malah beli beginian, di pinggir jalan lagi. Gak sebanding sama dandanan aku kak," keluh Tristan.


"Diam!"


Sebenarnya Jova memang tidak berniat ke mall, dia membawa Tristan ke deretan pedagang kaki lima. Berharap melihat sang dosen batu di antara mereka.


Tapi sudah hampir dua jam mereka menghampiri deretan pedagang kaki lima tidak terlihat yang di cari Jova. Dia hanya membeli satu menu makanan di setiap deretan.


"Kak, aku tau sebenarnya ada yang ingin kau cari. Dan aku sedang kau bodohi kan?"


"Hahahaa Kamu benar," ucap Jova melirik adiknya, lalu fokus kembali melihat kanan kiri jalanan. "Maaf ya adikku sayang," mengusap kepala Tristan. "Baiklah, sekarang aku akan menurutimu. Kau mau kemana?"merasa yang di cari tidak akan ada.


"Ahaa! gitu dong dari tadi," ucap Tristan girang. "Kita nonton film terbaru!"


"OK!" Jova melajukan mobilnya ke bioskop tempat mereka biasa nonton yang berada di salah satu mall di Jakarta.


15 menit kemudian mereka sudah sampai. Hari sudah menjelang gelap. 1,5 jam kemudian mereka keluar dari bioskop tepat jam setengah 8 malam.


Jova berjalan beriringan dengan Tristan. Mereka bercanda dan saling ledek, itu memang kebiasaan mereka dimana pun.


Tristan sedang merayu kakaknya agar dibelikan sepatu baru. Tapi Jova sedikit menggoda dengan mengulur waktu untuk mengiyakan keinginan adiknya.


"Kau harus berhemat Tristan!"


"Kak, sepatu ku hampir sobek, apa kakak tidak mengasihani aku sedikitpun?" Tristan cemberut.


"Kalau begitu tunggu saja sobek," Jova tersenyum menyebalkan.


Aku akan melakukan segala cara supaya kak Jova membelikan aku sepatu baru. Kapan lagi aku di ajak keluar, batin Tristan tersenyum licik.


"Ayolah kak, sekali ini saja, please!" mengatupkan kedua tangannya, satu tangannya menggandeng lengan kakaknya.


"Hai! apa kau tidak malu di lihat banyak orang dengan tingkah mu ini, lepas!" ucap Jova pelan tapi penuh penekanan.

__ADS_1


"Tidak!" aku akan melakukan lebih gila dari ini kak, batin Tristan.


"Lepas Tristan!" Jova berusaha melepas genggaman Tristan. Karena banyak mata mengarah pada mereka.


"Aku akan melepaskan kakak, kalau kakak membelikan aku sepatu baru!" tanpa aba - aba Tristan mencium pipi Jova.


"Tristan!" bentak Jova. "Apa kau gila!"


"Mangkanya belikan aku sepatu kak. Aku tidak segan - segan menggendong kakak kalau perlu"


"Iya iya iya iya lepas!"


"OK kak, ayo!" mencium pipi Jova lagi.


Jova memukul bahu Tristan.


"Ingat, beli sepatu yang biasa saja. tidak boleh lebih dari 5 juta! perusahaan sedang datar. Jadi kita harus berhemat," peringatan dari Jova.


"Ok kakak ku sayang!" Tristan tersenyum penuh arti.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengawasi gerak gerik mereka. bahkan mengikuti mereka sejak keluar dari bioskop.


Laki - laki bertopi itu sedikit tersenyum saat mendengar jova mengingatkan adiknya agar tidak belanja lebih dari 5 juta. Sampai sekarang laki - laki itu masih mengikuti mereka yang sedang berputar - putar di toko sepatu.


Sesekali dia tersenyum geli ketika melihat Jova membantah sepatu yang di pilih adiknya. Karena Jova menganggap melebihi targetnya.


"Ingat Tristan, tidak boleh lebih dari 5 juta!"


"Kak, inikan Rp. 5.099.999 ,- hanya lebih 100 ribu!"


"Tetap saja lebih dari 5 juta"


"Kak! a...", ucapan Tristan di potong oleh kakaknya.


"Perjanjian tetap perjanjian!" Jova ngotot dengan aturan awal.


Lucu sekali, 100 ribu pun di perhitungkan, gumam laki - laki yang mengikuti mereka dengan senyum samar nya.


Setelah 30 menit akhirnya pilihan Tristan jatuh pada sepatu seharga Rp. 4.299.999 ,- .


"Ayo pulang!" ajak Jova setelah membayar sepatu itu.


"OK kak!"


"Kau tidak berterima kasih pada ku?"


"Hehe terima kasih ya kakak ku sayang", Tristan merangkul kan tangannya di pundak Jova dan mencium pipi kanan Jova.


Meskipun Tristan berusia 15 tahun, tapi dia lebih tinggi dari Jovanka.


Tristan Danendra Barraq



Mereka berjalan menuju parkiran Mall, memasuki mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan mall.


# # # # # #


CEO Group G yang mengikuti Jova dan Tristan berjalan keluar dari Mall setelah urusannya di mall itu selesai. Tepat jam 9 malam. Asistennya sudah menunggu di depan pintu keluar mall.


"Kita langsung ke apartemen!", ucapnya pada Rakha di belakang kemudi.


"Ok boss!"


Mereka berlalu dari mall, menuju apartemen sang CEO.


# # # # # #

__ADS_1


Senin pagi Jova bangun kesiangan.


"Sial! padahal aku berniat bangun pagi supaya tidak terlambat di kelas pak Alex itu!"


Jova terburu - buru tanpa sempat sarapan. Dia melajukan mobilnya langsung ke kampus.


Setelah sampai di kampus, dia berlari menuju kelasnya di lantai 2. Dengan nafas ngos - ngosan dia sampai di depan pintu kelasnya.


Seseorang yang sedang memberi materi kuliah di dalam kelasnya menatapnya heran. Jova memegang pinggiran pintu, satu tangannya memegang dadanya. Dia masih menunduk.


"Lah, kok bukan pak Alex sih?" ucap Jova saat melihat orang yang sedang memberi materi.


"Permisi pak Daniel. Maaf saya terlambat", masih dengan sisa nafas ngos - ngosan nya dia berjalan masuk ke kelas.


"Ya, silahkan!" jawab Daniel.


Sampai mata kuliah selesai, Jova masih berpikir kenapa dosen batunya tidak hadir hari ini. Dia berjalan keluar kelas menyusul asdos yang sudah berjalan di depan.


"Pak Daniel, tunggu!" teriak Jova memanggil asisten dosen Alex.


Daniel berhenti dan menoleh ke belakang.


"Ada apa Jovanka?"


"Maaf pak, cuma mau tanya. Kenapa ya pak Alex tidak hadir?"


"Maaf, Saya tidak tau Jovanka, beliau menghubungi saya untuk meminta saya menggantikannya hari ini saja. Beliau tidak bilang kenapa beliau cuti"


"Oh begitu ya," ucap Jova. "Ya sudah pak Daniel terima kasih, maaf mengganggu," Jovanka tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya pada Daniel.


"Iya Jovanka, sama - sama," Daniel berlalu meninggalkan Jova yang dipenuhi rasa kecewa.


"Padahal aku berharap hari ini bertemu dengannya disini. Aku kan tidak tau dimana dia tinggal," gumam Jovanka pelan.


Kemudian Jovanka pergi ke kantin kampus untuk mengisi perutnya yang kosong.


# # # # # #


Putra Gibran berada di dalam mobil yang di kemudikan Rakha. Mobil itu sedang memasuki gerbang gedung pencakar langit bertuliskan Group G beserta logonya.



Rakha berhenti tepat di depan lobby, seorang security membukakan pintu penumpang depan. Rakha turun dan memberikan kunci mobil pada security lainnya.


Banyak mata karyawan yang melihat ke arah mobil itu, karena penasaran setampan apa CEO mereka. Jarang - jarang dia datang di saat kantor masih ramai seperti pagi ini.


Sayang seribu sayang mereka kembali harus kecewa. Karena CEO yang mereka tunggu kembali turun menggunakan masker dan kaca mata hitam. Tapi tetap saja banyak yang memandang kagum padanya. Karena postur tubuh yang nyaris sempurna, tatanan rambut yang rapi, terlihat sangat berkarisma.


Putra Gibran berjalan memasuki lobby menuju lift khusus Presdir dan CEO. Karyawan yang berpapasan dengannya menunduk hormat. Hanya saja dia sama sekali tidak merespon, dia hanya memandang lurus. Hanya Rakha saja yang menoleh dan sedikit tersenyum jika yang menyapanya cantik atau terlihat menarik di matanya.


Rakha memang seorang playboy, dia suka berganti - ganti pasangan. Tapi dia memang tidak pernah berjanji untuk menikahi wanita manapun yang berstatus pasangannya. Dia masih suka bermain - main.


Rakha Leonard



CEO dan Asisten yang sama - sama memiliki kadar ketampanan yang hampir sama itu memasuki lift bersamaan.


"Pastikan semua masalah perusahaan selesai hari ini juga!" ucap Putra Gibran pada Rakha.


"Baik, tuan muda," jawab Rakha.


Mereka sampai di ruangan CEO. Putra Gibran duduk di kursi kebesarannya dan Rakha duduk di depannya.


Seorang sekretaris masuk membawa tumpukan laporan yang harus segera di selesaikan hari ini juga. Dia hanya meletakkan dan langsung di suruh keluar oleh Rakha.


Hanya sekretaris bernama Lisa inilah yang beruntung bisa melihat wajah tampan seorang Putra Gibran. Tapi tentu saja dengan aturan yang di buat Rakha, agar tidak menceritakan pada karyawan lainnya.

__ADS_1


__ADS_2