
"Tidak pak, eh," Jova salah tingkah, dia melirik kanan kiri mencoba mencari alasan. Sayang seribu sayang, dia tidak menemukan alasan yang tepat.
"Ok!" ucap Alex kembali berbalik menuju kursinya. Duduk di sana dan menyandarkan kepalanya. "Hukuman mu adalah ..." Alex menggantung kalimatnya.
Jova melihat Alex dengan rasa penasaran. Hukuman apa yang akan dia dapat kali ini. Alex menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan, semakin membuat Jova penasaran tentunya.
Alex berdiri, mengambil perlengkapan untuk memberi mata kuliah mahasiswa semester 5. Dia berjalan mendekati Jovanka.
"Hukuman mu adalah menunggu ku sampai aku kembali!" ucap Alex di dekat telinga Jovanka. "Ingat, kau hanya boleh duduk di kursi itu!" menunjuk kursi untuk tamu. "Jangan menyentuh benda apapun di ruangan ini! dan jangan coba - coba untuk kabur. Ingat itu!" ucap Alex dengan penuh penekanan.
Belum sempat Jova menjawab, Alex keluar pintu dan menutup pintu dengan keras. Membuat Jovanka terlonjak kaget.
"Oh Tuhan, untung jantung ciptaan-Mu untuk ku kuat, kalau tidak pasti sudah lompat," gumam Jova pelan sambil mengelus dadanya cepat.
Jovanka berjalan menuju kursi dan duduk di sana. Melihat - lihat ruangan yang tampak sangat rapi dan tidak nampak satu benda pribadi pun di sana.
"Apa yang harus aku lakukan disini bosan sekali. Perutku lapar lagi, aku kan belum makan sama sekali," gumamnya. "Apa aku ke kantin sebentar yaa? Ah iya, sebaiknya aku ke kantin dulu membeli makanan lalu aku bawa kesini. Dia tidak akan tau kan."
Jova beranjak dari duduknya, berjalan ke arah pintu.
Clekk .. cleekk..
Clekk ... clekk..
"Sialan! ternyata di kunci dari luar!. Dosen batu itu benar - benar menyebalkan," gumam Jova setengah berteriak. "Huuhh!!!"
Jova mondar - mandir di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dia kembali duduk di kursi, mengambil ponsel nya dan bermain - main dengan ponselnya.
"Pesan makanan pun percuma, tidak ada jendela untuk memasukkan apapun," gumamnya pelan. "Sial sekali aku hari ini."
Jova melihat ada botol minum di atas meja. "Hemm, sepertinya tidak masalah kalau aku minum ini. Siapa suruh mengunci ku disini." Dia mengambil botol minum yang sisa separuh itu dan meneguknya hingga habis. Dan meletakkan kembali botol kosong di tempat semula.
Lalu mengangkat kaki nya ke meja, menurunkan lagi. Berdiri memutari meja kerja Alex tanpa berani menyentuh apapun. Sudah satu jam dia menunggu, sang dosen belum muncul juga.
Dia duduk kembali di kursi sebelumnya dia duduk. Dia menghadap meja melihat kursi dosen yang kosong.
"Pak Alex yang tampan dan Arogan, saya lapar! apa bapak tidak kasian dengan saya," ucap Jova tegas seolah benar - benar ada sang dosen di kursi itu.
Satu jam kemudian terdengar seseorang membuka kunci pintu.
"Itu pasti pak Alex!" ucap Jova girang
Pintu terbuka, dan memunculkan wajah Alex yang tanpa ekspresi. Jova tersenyum girang.
"Akhirnya bapak datang juga," ucap Jova. "Karena bapak sudah datang, brarti hukuman saya selesai dong pak?"
"Belum!" Alex duduk di kursinya.
"Tapi pak saya ..." Jova menggantung kata - katanya, menelan saliva nya dengan sangat susah begitu di tatap Alex deng tatapan dingin.
__ADS_1
"Bantu aku mengoreksi tugas mahasiswa semester 5!. Kalau sudah selesai baru kau boleh keluar"
"Ok pak, siap! cuma ini kan!" seru Jovanka.
Alex melirik botol minumnya yang kosong, lalu melirik Jovanka. Dia hanya mengangkat sebelah alisnya.
Jovanka mengerjakan dengan seteliti mungkin. Alex hanya fokus pada ponselnya, dan sesekali melirik Jovanka lalu kembali fokus pada ponselnya.
45 menit berlalu Jovanka berhasil menyelesaikan tugas yang di berikan Alex.
"Sudah selesai pak!" ucap Jova meletakkan bolpoin di atas tumpukan kertas.
"Kau boleh keluar!" Alex mengambil lembaran itu.
"Baik pak. Terima kasih," Jovanka tersenyum.
Jovanka keluar dari ruangan Alex, baru 5 langkah ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.
Nona Jovanka, tuan Hasan menunggu ada di ruang meeting sekarang. Katanya ada hal penting yang harus beliau sampaikan. Pesan dari Mira.
Ok! tunggu aku. Aku akan ke kantor sekarang!. Balas Jovanka, kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Jova memutar arah, yang tadinya mau ke kantin kampus jadi menuju gerbang kampus. Meninggalkan mobilnya di parkiran kampus. Dia menyebrang jalan lalu masuk ke gedung perkantoran. Dia menaiki lift dan langsung menuju ruang meeting.
# # # # # #
Jadi dia belum pulang, batin Alex.
Alex berjalan menuju parkiran khusus dosen. Memasuki mobil mewahnya dan melajukan nya menuju suatu tempat.
# # # # # #
2 jam berlalu, matahari sudah condong ke barat. Jova baru saja menyelesaikan meeting nya. Dia berjalan di lantai 15 menuju ruangan nya yang mana sudah sepi, karena pegawai sudah banyak yang pulang.
Dia masuk ke ruangannya untuk menandatangani beberapa berkas. Setelah selesai dia kembali keluar menuruni lift.
"Sebaiknya aku langsung pulang ke apartemen, dan memesan makanan di sana. Jarak ke apartemen lebih dekat dari pada pulang. Aku belum makan sama sekali gara - gara dosen simil itu!" gumam Jova pelan.
Jova keluar dari lift menuju keluar gedung, melewati gerbang gedung menyebrang jalan. Saat di tengah - tengah jalan tiba - tiba hujan mengguyur kota Jakarta dengan sangat deras.
Jova berlari lebih cepat masuk ke gerbang kampus dan langsung menuju parkiran. Dia membuka mobilnya dan segera masuk ke mobilnya. Bajunya sudah basah kuyup.
Dia tidak perduli dengan bajunya, yang ada di otaknya saat ini adalah segera ke apartemen dan memesan makanan favoritnya di salah satu cafe apartemen.
20 menit kemudian dia sudah sampai di parkiran apartemen. Dia berjalan memasuki lobby dengan baju yang basah tapi sudah tidak ada tetesan air di bajunya. Dia berjalan menuju lift dengan wajah yang pucat dan menggigil.
Sepasang mata laki - laki di dalam cafe memperhatikan Jovanka yang sepertinya tidak dalam kondisi baik - baik saja. Laki - laki itu mengikuti langkah Jovanka. Karena Jovanka sedang pusing dan kedinginan dia tidak memperhatikan sekitar.
Jovanka masuk ke dalam lift di ikuti laki - laki itu. Jova menekan angka 10, lalu kembali mendekap kan kedua tangannya di dadanya. Laki - laki di belakangnya melihat angka yang di tekan Jovanka.
__ADS_1
Bruukkkk
Jovanka jatuh pingsan. Belum sampai tubuhnya ke lantai lift laki - laki di belakangnya sudah menangkap tubuh mungil Jovanka.
"Hey! Bangun!" laki - laki itu menepuk - nepuk pipi Jova, menggoyang - goyangkan tubuhnya. Tapi Jovanka tidak kunjung sadar. Sampai lift terbuka di lantai 10.
"Di lantai ini apartemennya, tapi yang mana? bahkan ada banyak pintu di lantai ini. Tidak mungkin aku mengetuknya satu persatu - satu. Kalau pun ketemu apartemennya dan ternyata dia tinggal sendiri, aku tidak tau apa sandinya," gumam laki - laki itu.
Dia berfikir cepat, akhirnya dia memutuskan untuk membawanya ke apartemennya.
Dia menekan angka 25 tempat apartemennya berada.
Sampai di lantai 25 dia menggendong Jovanka ke apartemennya. Dia memasukkan sandi dan berlari menuju kamarnya di lantai dua apartemennya.
Dia meletakkan Jovanka pelan - pelan di tempat tidurnya yang empuk dan nyaman.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? aku bahkan tidak tau cara membangunkan orang pingsan," gumamnya pelan. "Tidak mungkin aku mengganti bajunya." Kemudian dia mendial satu nomor.
Setelah itu dia masuk ke walk in closet untuk mandi berganti baju dan kemudian menuju ruang kerjanya. Menyelesaikan pekerjaannya yang lain.
# # # # # #
Cahaya matahari pagi secara perlahan menerobos jendela kaca yang gordennya sedikit terbuka. Di sebuah kamar yang tampak sangat mewah sepasang mata mengerjap, dan menggerakkan tangannya. Seolah tidurnya benar - benar nyaman.
Matanya sedikit terbuka, dan melihat langit - langit kamar yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Dia terperanjak kaget dan seketika itu juga dia duduk.
"Dimana ini? bagaimana aku bisa ada di sini?" gumam Jovanka pelan. "Bajuku, kenapa aku tidak memakai baju sehelai pun!" ucapnya setelah membuka selimut. Dia segera menggulung selimutnya. Turun dari tempat tidur.
Pandangannya menyapu kamar yang menurutnya sangat mewah itu.
Tapi sialnya dia tidak menemukan apapun untuk bisa mendapatkan jawaban, kamar siapa ini.
Dia berjalan menuju satu pintu yang ternyata pintu menuju walk in closet. Matanya terbuka lebar begitu melihat barang - barang mewah dan semuanya menunjukkan kalau itu milik laki - laki.
Matanya menyusuri lemari yang penuh dengan baju laki - laki. Satu tangannya memegang selimut yang membalut tubuh polosnya, satu lagi membuka tatanan baju yang mungkin saja menemukan baju yang bisa dia pakai.
Sampai akhirnya dia menemukan kemeja berwarna putih lengan panjang dan besar. Dia mengambilnya, lalu mencari kaos dalam pria karena tidak mungkin dia menemuka br* di sana dan berhasil menemukan yang paling kecil di antara tatanan itu.
Dia membuka laci untuk mencari ****** *****. Tapi semua ****** ***** di situ seperti pernah dipakai sebelumnya meskipun tertata rapi dan terlihat bersih. Dia membuka laci satunya, dan beruntung, dia menemukan beberapa ****** ***** pria yang masih dalam kotaknya. Dia mengambil satu lalu memakai semua yang di ambilnya tadi.
Kemudian dia masuk ke kamar mandi yang berada di walk in closet itu. Lagi - lagi dia melihat kamar mandi yang mewah.
Setelah mencuci muka dia keluar, matanya tertuju pada keranjang baju kotor. Dia mengambil baju itu dan mengingat - ingat sesuatu.
__ADS_1