
Alexander berhenti di anak tangga pertama, dia menajamkan telinganya menangkap suara yang samar - samar terdengar dari ruang belakang. Dia berjalan pelan ke ruang belakang, melewati dapur. Suara yang dia dengar semakin jelas di telinganya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alexander setelah melihat Jova duduk di kursi setrika dengan memunggungi Alexander.
"Hai! aku sedang menyetrika bajumu yang waktu itu aku cuci" jawab Jova menoleh sekilas Alexander
"Kau tidak perlu menyetrikanya. Nanti juga ada yang menyetrikanya" ucap Alexander bersandar di dinding pembatas.
"Eh, ini kan tugas ku sebagai pelayanmu satu minggu. Dan ini hari ke enam, besok adalah malam terakhir aku tinggal di sini" ucap Jova santai sambil menyetrika baju.
Kalau pun aku tinggal di sini lebih lama, aku tidak akan keberatan. Sedih rasanya lusa tidak dapat berdebat lagi denganmu. Saat di kampus kau pasti jadi pak Alex yang dingin. Ucap Jova sedih dalam hati.
Alexander tidak berkata sepatah katapun setelah mendengar kalimat terakhir Jova. Dia tampak memikirkan sesuatu.
Kenapa aku hanya mengajukan satu minggu. Harusnya satu bulan, batin Alexander.
"Apa kau mau sarapan sekarang?" tanya Jova melihat ke arah Alexander yang hanya diam.
"Iya!" Alexander berlalu dari ruang belakang tempat mencuci, menjemur dan setrika baju.
Jova menyelesaikan baju terakhir, lalu mematikan setrika dan berjalan menyusul Alexander yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Kau mau makan yang mana?" tanya Jova setelah duduk di samping Alexander.
"Yang ini dan ini" Alexander menunjuk dua menu buatan Jova.
Jova mengambilkan nasi dan dua menu yang di tunjuk Alexander ke piring Alexander. Lalu Jova mengambil untuk dirinya sendiri.
"Tumben sekali kau masak sampai beberapa menu? bukankah kau tidak pandai memasak?" tanya Alexander sebelum memakan makanannya.
"Mumpung hari minggu, aku belajar beberapa resep baru dari ibu yang aku dapat darinya semalam. Besok aku kuliah dan berkerja, jadi besok aku tidak akan masak untuk sarapan. Minggu depan juga aku sudah tidak disini, heheh" ucap Jova tersenyum memaksa menghadap Alexander.
Alexander menghembuskan nafas kasar. Tidak tau apa yang dia rasakan dan tidak tau harus bicara apa. Dia mulai mengambil sendokan pertama, di ikuti oleh Jova yang juga mulai memakan sarapannya.
"Ganti bajumu, ikut aku!" ucap Alexander setelah mereka selesai dengan sarapannya.
"Kemana?"
"Cepat!" ketus Alexander tanpa melihat Jova.
"Iya iya!"
__ADS_1
Jova berjalan cepat ke kamarnya. Dia mandi terlebih dahulu baru kemudian mengganti bajunya. Dia menyisir rambutnya asal. Lalu mengambil tas kecilnya dan segera keluar dari kamarnya. Terlihat Alexander duduk di sofa ruang tengah dengan ponsel di tangannya.
"Aku sudah siap!" ucap Jova di belakang sofa yang di duduki Alexander.
"Ayo!"
Alexander berdiri, berjalan beriringan dengan Jova sampai mereka di parkiran mobil Alexander.
"Mobil siapa ini?"
Alexander tidak menjawab, dia masuk ke mobilnya, di ikuti Jova masuk di kursi penumpang. Alexander mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota yang tidak terlalu ramai dengan mobil sport mewahnya.
"Mobil mu banyak sekali", ucap Jova sambil melihat - lihat interior mobil Alexander. Mencoba memecahkan keheningan di antara mereka. Alexander tidak menanggapi ucapan Jova, dia tetap fokus pada jalanan di depannya.
Merasa tidak di tanggapi, Jova kembali memperbaiki posisi duduknya. Jova melirik Alexander di sampingnya yang semakin tampan saja saat mengemudikan mobil mewah.
Alexander memarkirkan mobilnya di parkiran VIP di salah satu mall mewah di Jakarta. Mereka turun bersama dan masuk ke mall itu. Saat di pintu masuk mall Jova melihat ada banyak logo Perusahaan Group G.
"Sepertinya Group G sedang ada event di mall ini", ucap Jova sambil terus berjalan mengikuti langkah kaki Alexander.
Bugh!
"Aauww!" pekik Jova saat kepalanya menabrak lengan Alexander yang tiba - tiba berhenti dan menengok ke lantai dasar, tempat acara yang sedang di gelar Group G.
Alexander bertumpu pada pagar pembatas, Jova reflek mengikuti gerakan Alexander. Mereka memperhatikan acara yang sedang berlangsung.
"Sepertinya Group G meluncurkan produk mahal" ucap Jova pelan. "Harusnya seperti itulah perusahaan sebesar Group G. Mengeluarkan produk untuk kelas menengah ke atas. Bukan malah menyaingi produk ku!", gumam Jova pelan yang masih bisa di dengar Alexander.
"Apa hanya itu yang membuatmu benci pada CEO baru itu?" tanya Alexander tanpa menoleh pada Jova.
"Iya!" sahut Jova pelan. "Kalau bukan karena itu, mungkin aku sama seperti perempuan - perempuan di luar sana. Menantikan CEO yang belum diperkenalkan secara resmi itu", ucap Jova memanyunkan bibirnya.
Alexander hanya diam, tak berniat menanggapi obrolan Jova. Sampai sang Brand Ambassador di munculkan. Jova menajamkan penglihatannya.
"Wow! itu kan Carissa Birdella!" Jova tampak antusias melihat Carissa yang berada di podium. "Beruntung sekali dia jadi BA produk kelas atas dari Group G. Wow!" Jova tampak terkagum - kagum.
"Memangnya siapa dia? apa kau mengenalnya?" Alexander melihat Jova di samping kirinya dengan heran.
"Tidaklah!" Jova mengangkat kedua bahunya. "Dia itu kan model, yang akhir - akhir ini banyak di bicarakan di sosial media. Karena dia mengaku kalau dia adalah calon tunangan CEO misterius itu?"
__ADS_1
"Oh ya?"
"IYA!" Jova menekan jawabannya. "Apa kau tidak pernah mendengar berita tentang dia yang trending sebagai calon tunangan Putra Gibran. Dan sekarang sepertinya aku percaya, buktinya dia terpilih sebagai BA produk Group G untuk kalangan atas. Padahal Group G bisa dengan mudah mendapatkan BA artis kelas atas sekalipun"
"Apa kau punya cita - cita untuk bisa jadi BA?"
"Tidaklah! tampang ku tidak mencukupi. Kau lihat Carissa. Sempurna! Cantik, seksi, putih dan sangat fashionable. Sepertinya akan cocok bersanding dengan CEO yang konon katanya tampan dan nyaris sempurna" ucap Jova
Alexander hanya mengangkat kedua alisnya cuek.
"Terkadang aku juga membayangkan, kalau asistennya saja setampan itu, bagaimana dengan bosnya, hihihi"
"Kau bilang kau membencinya, kenapa kau membayangkan?" tanya Alexander melirik Jova.
"Ketika jiwa normal ku sebagai perempuan muncul tentu saja aku membayangkan ketampanan pria misterius itu" ucap Jova menjulurkan lidahnya.
"Sepertinya kau akan jatuh cinta padanya kalau bertemu dengannya!"
"Never!" jawab Jova cepat. "Gara - gara dia keluarga ku harus hidup hemat. Kau tau? biasanya aku bisa menggunakan 50 persen dari keuntungan bersih perusahaan untuk hidup kami. Sekarang 50 persen seperti 25 persen setengah tahun yang lalu"
"Berapa 50 persen pendapatan mu dulu?"
"Dulu aku bisa menggunakan uang sekitar 150 juta untuk hidup kami satu bulan" jawab Jova. "Sekarang 50 persen penghasilan bersih hanya di kisaran 75 juta. Itupun aku tidak gunakan semua, aku hanya mengambil sekitar 50 juta untuk hidup kami satu bulan. untuk kebutuhan keluarga, kuliah ku, sekolah adik ku dan lain - lain. Aku harus berhemat, karena omset sering turun. Bahkan aku sudah menghilangkan lembur di perusahaanku" curhat Jova.
Alexander tampak antusias mendengar curhatan Jova.
Mohon dukungannya ya teman - teman reader.
Tinggalkan Like dan Komentarnya.
Terima kasih,
Salam Lovallena.
__ADS_1