
Carissa menatap Rakha dengan penuh rasa kesal. Tapi dia tau, kalau dia melawan Rakha sama halnya dia memasukkan dirinya ke bara api.
"Heehm!" Carissa menghembuskan nafas kesalnya dengan menghentakkan kakinya Lalu berbalik meninggalkan ruangan Rakha.
Rakha menatap punggung Carissa dengan tatapan kebencian yang teramat sangat.
Dengan bermodal pura - pura rindu, pada anaknya. Carissa berhasil mendapat surat izin untuk menaiki lantai 30 dari sang presdir yang dia temui di rumahnya.
# # # # # #
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Jova keluar dari gedung perkantoran nya dan melajukan mobilnya menuju apartemen.
Setelah sampai di apartemen dia naik ke lantai 25 menggunakan lift. Dia berjalan ke apartemen Alex.
"Lah! aku kan belum di kasih sandi apartemennya!" ucap Jova saat sudah di depan pintu apartemen Alex. "Coba telfon deh!" Jova mengeluarkan ponselnya. "Lah, aku kan juga gak punya nomor ponselnya. Tch! bodoh sekali. Masa iya aku harus nunggu disini!"
10 menit sudah Jova berdiri bersandar di dinding dan sesekali mondar mandir di depan pintu apartemen Alex.
"Lama sekali dia!" Jova mulai kesal sendiri. "Apa ada jam mengajar sore ya? sebaiknya aku tunggu di apartemen ku saja. Nanti aku akan kembali jam 6, pasti dia sudah pulang!" dia berjalan meninggalkan apartemen Alex.
Dia masuk ke apartemennya di lantai 10. Dia menyalakan lampu - lampu lalu mandi dan mengganti bajunya dengan baju rumahan. Setelah menyisir dan mengikat rambutnya asal Jova berbaring di tempat tidurnya. Memainkan ponselnya, tak berselang lama matanya terlelap.
# # # # # #
Jam 5 sore Alex melajukan mobilnya menuju apartemen. Dia langsung masuk lift setelah sampai di lobby. Menekan angka 25 menuju apartemennya.
Dia masuk ke apartemennya, di dalam masih gelap yang menandakan tidak ada orang di dalam sana.
"Apa dia belum pulang?" gumam Alex pelan. "Tch! aku lupa tidak memberinya sandi."
Dia berjalan menaiki tangga, masuk ke kamarnya. Lalu bergegas ke kamar mandi. Dia berendam di bathub.
Selang 20 menit dia membilas tubuhnya di bawah guyuran shower. Setelah bersih, Alex keluar menggunakan jubah mandi. Memilih baju rumahan di walk in closet dan memakainya. Lalu menyisir rambutnya rapi.
"Kenapa dia belum datang juga!" gumam Alex saat melihat jam dinding menunjukkan jam 6 sore.
Dia berjalan keluar apartemen, menuju lift dan turun ke lantai 10. Dia berjalan ke apartemen no 97. Dia menekan sandi apartemen Jova.
Dia membuka pintu, terlihat lampu menyala. Dia berjalan ke pintu kamar Jova. Dia membuka pintu pelan. Dia diam bersandar di daun pintu.
Ternyata dia tidur disini, batin Alex.
Alex berjalan ke arah ranjang Jova. Mendudukkan dirinya di sisi lain ranjang Jova. Alex merebahkan tubuhnya di sebelah Jova menghadap langit - langit kamar Jova. Menjadikan kedua tangannya sebagai bantal. Lalu menoleh ke kiri, dimana Jova sedang tidur miring ke kanan menghadap dirinya.
__ADS_1
Selang beberapa saat, dia memiringkan tubuhnya menghadap Jova. Menumpukan kepalanya pada tangan kirinya. Alex menatap lekat wajah Jova. Tangan kanannya terangkat menyisihkan anak rambut Jova yang menutupi wajah Jova.
Siapa kau sebenarnya? kenapa aku bisa terperangkap olehmu. Aku pernah berjanji untuk tidak ... batin Alex tidak mau melanjutkan kalimatnya.
Dia tersadar dengan apa yang dia lakukan. Alex menarik tangan kanannya. Membaringkan kembali tubuhnya menghadap langit - langit. Membiarkan tangan kirinya tetap menjadi bantal.
"Tch!!" Alex berusaha membuang jauh apa yang baru saja terlintas dalam pikirannya. Dia kembali menoleh ke arah Jova.
"Hey!" ucap Alex. Tapi Jova terlihat tak terusik.
"Heey!!" Alex menambah intonasinya. Posisi Alex tetap sama.
"Heeey!!!" teriak Alex tepat di telinga Jova.
"Aaaaahhh!!!" teriak Jovanka memasukkan tubuhnya ke dalam selimut. Dan menutup seluruh tubuh dan kepalanya. Karena yang ada dalam mimpi Jovanka saat ini sedang hujan lebat dan petir menggelegar.
Alex tersenyum lucu melihat tingkah Jovanka. Dia semakin berniat menjahili Jovanka. Alex menarik narik kecil selimut Jovanka. Jova hanya memutar tubuhnya.
Alex menindih kaki Jovanka dengan kaki kirinya. Jova mengibaskan yang menurutnya adalah boneka atau bantal. Alex tersenyum jahil. Dia kembali menindih kaki Jova, kali ini dengan kaki kanannya.
Alex memiringkan tubuhnya dan mendekap erat tubuh Jova dengan senyum licik. Awalnya Jova tidak terusik. Lama - lama di membuka matanya di balik selimut. Dia merasa ada yang aneh. Dia ingat kalau dia sedang di apartemen sendirian.
Setelah berfikir beberapa detik, dia membuka selimut yang menutupi sekujur tubuhnya. Matanya terbuka lebar begitu melihat wajah Alex tepat di atas wajahnya.
"Mimpi apa ini!" ucap Jovanka.
Alex menangkap kedua tangan Jova. Dan menggenggamnya erat agar Jova tidak lagi memberontak.
"Kau tidak bermimpi!. Ini benar aku bodoh!" Alex berbicara dengan intonasi tak kalah keras dari teriakan Jova.
Seketika Jova duduk, Alex pun ikut duduk. Jova melihat sekelilingnya. Meyakinkan dirinya kalau dia masih di apartemen miliknya. Dia menarik tangannya yang di genggam Alex.
"Bagaimana bapak bisa ada di sini?" ucap Jova merasa takut dan was was.
"Kau kan harus pulang ke apartemen ku, tapi kau malah tidur di sini!" ucap Alex santai kembali merebahkan tubuhnya di ranjang Jova.
"Lalu bagaimana bapak bisa masuk? aku yakin aku sudah mengunci kembali tadi," ucap Jova sambil mengingat ingat ketika masuk ke apartemennya.
"Hemm, kau lupa kau pernah memberi tau aku berapa sandi apartemen mu!" ucap Alex menatap Jova tak berdosa.
Jova mengerucutkan bibirnya. Melihat alex tersenyum jahil.
"Tadi saya sudah menunggu bapak, tapi pak Alex tidak datang - datang. Saya kan capek berdiri di depan apartemen bapak. Jadi saya turun lagi kesini mandi dan tertidur," ucap Jova meringis.
__ADS_1
"Sudahlah! sekarang ayo ke apartemen ku!" ucap Alex berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Jova mengikuti langkah Alex, dia mengambil tas dan kunci mobilnya. Lalu keluar dari apartemennya menuju apartemen Alex.
"Buatkan aku kopi!" ucap Alex saat mereka memasuki ruang tengah apartemen Alex.
"Baik, tuan!" Jova berjalan ke arah dapur.
"Hey!" Alex memanggil Jova. Jova berhenti dan berbalik melihat Alex yang sudah duduk di sofa. "Kenapa dari kemarin kau memanggilku tuan, tuan, tuan?" ucap Alex menoleh ke arah Jova.
"Kan selama tujuh hari saya jadi pembantu anda. Dan selama tujuh hari anda menjadi tuan saya."
"Kenapa harus memanggilku tuan?"
"Karena kebanyakan pembantu pasti memanggil majikannya dengan sebutan tuan"
"Memangnya kau merasa jadi pembantuku?"
"Iyalah, tuan nyuruh saya ini, nyuruh saya itu" ucap Jova cemberut.
Alex tersenyum kecil melihat ekspresi Jovanka.
"Terserah kau sajalah!" ucapnya kemudian. "Buatkan aku kopi sekarang!"
Jova tidak menjawab. Dia berbalik ke arah dapur dan membuatkan kopi untuk tuannya.
Hai Reader ku..
Sabar ya untuk update ceritanya. Author selalu berusaha untuk bisa up setiap hari.
Mohon maklum, author adalah Ibu Rumah Tangga. Jadi harus membagi waktu.
Terima kasih,
Salam Lovallena
__ADS_1