
Alex turun ke lantai 10 dengan menggunakan lift. Setelah lift terbuka dia berjalan mencari apartemen no 97B. Dia berhasil menemukannya.
Alex menekan sandi pintu, lalu dia masuk setelah membuka pintu apartemen Jova. Dia meneliti dinding yang terpajang beberapa foto Jova. Dia mengangkat kedua alisnya.
Hanya ada dua pintu di dalam apartemen Jova, satu ke kamar mandi tamu, satu lagi pintu ke kamar Jova. Alex masuk ke kamar Jova, dia tersenyum samar melihat desain kamar Jova yang di dominasi warna biru dan putih. Juga ada satu foto di atas meja kerja Jova yang sempat di lirik Alex.
Alex masuk ke pintu yang ada di dalam kamar itu. Pintu menuju walk in closet. Dia mencari baju milik Jova, dia mengambil satu kemeja berwarna biru dan celana jeans panjang. Lalu dia membuka laci mencari pakaian dalam Jova.
Dengan sedikit menutup mata dia mengambil asal satu br* dan satu cel*na dal*m. Dia segera memasukkan ke dalam lipatan baju dan celana jeans.
"Sial! mimpi apa aku semalam berhadapan dengan beginian," gumam Alex pelan.
Dia keluar mencari tas kecil untuk membawa baju. tapi dia tidak menemukan kantong apapun. Dia hanya menemukan beberapa kertas kado di meja kerja Jova. Akhirnya dia membungkus baju itu dengan kertas kado.
Setelah itu dia berjalan keluar, mengunci pintu lagi. Dan menuju lift yang mengarah ke lantai dasar apartemen.
# # # # # #
Di apartemen Alex, Jova berjalan - jalan mengelilingi ruang tamu, ruang tengah, melihat pemandangan luar dari sana.
"Apartemennya sangat luas, rapi dan bersih. Aku tidak menyangka dia seperti ini. Sungguh diluar dugaan ku. Lalu apa tanggapan dia melihat apartemen ku yang kecil itu hihihi. Apa mungkin dia akan mengatai apartemen ku gubuk? Bahkan aku jarang membersihkannya," gumam Jova pelan.
Dia berjalan ke dapur mencari makanan. Tapi dia tidak menemukan makanan apapun.
"Apartemen seluas ini tidak ada makanan sama sekali. Memangnya dia makan apa!" gumam Jova. "Huh!", membuang nafas kasarnya
"Dia lama sekali yaa, apa nyasar. Dia kan tadi tidak tanya apartemen ku di lantai berapa. Tau ah!"
Jova berjalan kembali ke sofa. Mengambil majalah di bawah meja dan membacanya.
"Semua majalah business," gumam Jova pelan. Lalu menutup majalah itu dan meletakkan kembali di bawah meja.
"Perutku lapar, dia lama sekali sih. Apa dia tidak buru - buru ke kampus apa," Jova melipatkan tangannya di dada.
# # # # # #
Alex masuk ke salah satu restauran yang buka dua puluh empat jam di lantai dasar. Dia memesan nasi goreng 2 porsi dan satu cup kopi cappucino untuk di antar ke ke apartemennya.
Beberapa orang di lobby dan restauran melihat aneh pada Alex. Karena pagi - pagi membawa bungkusan kado. Meskipun lobby masih sepi.
Setelah itu dia kembali menaiki lift kembali ke apartemennya. Tanpa memperdulikan tatapan mereka.
# # # # # #
Clekk..
Pintu terbuka, Alex masuk membawa bungkusan kertas kado.
"Apa itu pak?" tanya Jova penasaran.
"Tentu saja produk yang khusus tercipta untukmu?" ucap Alex melempar bungkusan itu ke sofa sebelah Jova.
"Hah?" Jova mengerenyitkan dahinya.
__ADS_1
Tanpa curiga dia membuka bungkusan itu. Alangkah terkejutnya dia saat membuka dan terpampang nyata isinya. Jova salah tingkah dan malu, dia membuang muka dan menutup cepat bungkusan itu. Lalu berlari ke kamar Alex di atas.
Alex menatap kepergian Jova dengan senyum simpul. Lalu dia menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Yaa ampun, apa reaksinya saat membuka lemari ku. Apa dia tidak malu mengambil semua ini. Aku saja semalu ini," gumam Jova yang sudah di kamar mandi Alex.
"Aku tidak bisa membayangkan ekspresinya. hihi," Jova tersenyum geli.
Jova mandi di kamar mandi Alex, setelah itu dia keluar dan menyisir rambutnya kembali di cermin yang sama.
"Aku malu bertemu dengannya. Bagaimana ini?" ucap Jova menghadap cermin. "Ah! tau ah!" Jova keluar dari walk in closet dan kembali turun ke lantai bawah.
Di bawah Alex membuka pintu karena pesanannya datang. Setelah membayar dia membawa kantong berisi makanan ke meja makan.
Jova yang masih berdiri di tangga melihat Alex membawa kantong seperti box makanan. Lalu mengikutinya ke meja makan.
"Sarapan lah dulu!" ucap Alex mengambil 2 pasang sendok garpu. Lalu memberikan pada Jova satu pasang.
Jova menerima dengan mata berbinar. Alex menahan senyum melihat ekspresi girang Jova.
"Waah! bapak tau saja kalau saya lapar!" Jova tersenyum menunjukkan giginya.
Alex hanya melihat sekilas. Dia langsung memakan nasi goreng yang dia pesan dengan perlahan. Berbeda dengan Jova. Dia memakan dengan sangat lahap. Tidak perduli ada dosen di depannya yang sedang memperhatikan cara dia makan.
"Kau sudah seperti satu minggu tidak makan," ucap Alex. Sebenarnya dia senang melihat Jova makan nasi goreng pesanannya selahap itu.
"Aku memang belum makan dari kemarin pak," ucap Jova di sela - sela mengunyah nasi gorengnya.
uhukk uhhuk uhhuk uhhukk
Alex segera menuangkan air dan memberikan pada Jova. Jova meminum hingga habis setelah tersedak nya berhenti.
"Mangkanya, pelan - pelan kalau makan!"
"Maaf, pak," ucap Jova tersenyum
Oh Tuhan, Jantung ku hampir saja berhenti berdetak melihat senyumnya, batin Jova tanpa berani melihat Alex.
Jova melanjutkan makannya sambil sesekali melirik Alex di depannya. Alex sadar dia di lirik Jova. Tapi dia diam saja, karena dia sudah biasa melihat wanita mencuri curi pandang padanya.
Setelah makanan Jova habis dia langsung minum. Begitu juga Alex.
"Em, pak Alex tau dari mana apartemen saya di lantai 10?" Jova membuka obrolan.
"Sebelum kau pingsan, kau menekan tombol lift angka 10. Dan aku yakin itu lantai apartemen mu!"
"Oh, lalu bagaimana bapak bisa secepat itu mengingat sandi yang saya berikan? padahal saya sengaja ngomong secepat kilat"
"Apa itu penting?" jawab Alex seolah tak berdosa.
Jova mengangkat kepalanya, melihat Alex.
Batunya muncul lagi, batin Jova.
__ADS_1
"Pak, ada kuliah jam 9 kan?" Jova mengalihkan pembicaraan.
"Hemm," jawab Alex.
"Kalau begitu saya permisi pak. Saya harus ke kampus sebelum dosen batu saya menghukum saya," ucap Jova.
"Eeghm!" Alex berdehem keras. "Dosen batu?" tanya Alex menaikkan satu alisnya. Karena dia tau yang di maksud adalah dirinya.
"Hehe maaf, pak. Jangan hukum saya pak please pak. Saya masih kurang enak badan pak," mohon Jova mengatupkan kedua tangannya di de depan dadanya.
"Hehhm," Alex membuang nafas beratnya. "Keluarlah!" ucap Alex.
"Ok pak, Terima kasih banyak bapak dosen tampan dan terima kasih juga nasi gorengnya," ucap Jova tersenyum. Lalu berjalan menuju pintu.
Clekk..
Dia kembali menutup pintu dan berbalik menemui Alex yang masih menikmati kopi.
"Ada apa?" tanya Alex melihat Jovanka balik lagi ke meja makan.
"Pak, tas saya dimana ya?"
"Di sofa kamar saya!"
"Oh. Ok pak. Saya ambil ya pak?"
Alex hanya sedikit mengangguk pelan. Dia melihat Jova naik ke ke lantai dua apartemennya. Lalu menyeruput lagi kopinya.
Di dalam kamar Alex, Jova ingat baju Alex yang tadi dia pakai. Dia berjalan ke kamar mandi lalu mengambil baju itu dan membawanya.
Sesaat kemudian Jova turun membawa tasnya.
"Pak baju bapak yang tadi saya pakai, saya akan mencucinya di apartemen saya. Permisi pak!" sapa Jova.
Alex tidak menjawab. Dia hanya menatap punggung Jova yang berlalu pergi.
"Baru kali ini ada gadis yang menginap di apartemen ku," gumam Alex pelan. "Baru saja gadis itu membuat kebisingan di apartemen ini, sekarang sudah sepi lagi," Alex mengangkat kedua alisnya.
Setelah itu dia berjalan menaiki tangga. Menuju kamarnya. Dia mandi dan bersiap - siap untuk ke kampus.
# # # # # #
Di apartemennya, Jova segera masuk ke ruangan baju - bajunya. Dia masih membayangkan ekspresi Alex saat mengambil pakaian dalamnya.
Dia tersenyum geli bercampur malu tak berujung.
"Aaahh! Aku nanti pasti benar - benar kehilangan muka di depannya," ucap Jova.
Jova segera mengemasi perlengkapan kuliahnya. Lalu keluar dan kembali mengunci apartemennya. Dia menekan tombol lift, dia menunggu sesaat sampai akhirnya lift terbuka.
Dia masuk ke dalam lift, sudah ada beberapa orang di dalam lift. Jova berdiri paling dekat dengan pintu.
Tanpa di sadari Alex ada di dalam lift yang sama dengannya. Dia bersandar di dinding lift. Memperhatikan Jova sampai lift terbuka di lobby.
__ADS_1