I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Andai ...


__ADS_3

# # # # # #


"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan padamu?" Alex berada di ruang kerjanya.


"Gadis bernama Jovanka Lovata Barraq yang anda cari itu anak pertama dari pasangan Saddam Barraq dan Tania Lovata. Jovanka kini menjadi CEO di perusahaan Ayahnya yang sempat terhenti karena Ayahnya terkena serangan jantung sekitar 2 tahun lalu. Dan pusat perusahaan Saddam Barraq itu berada di gedung milik Group G yang ada di depan kampus anda. Mereka menyewa 4 lantai di sana. Lebih tepatnya lantai 11 - 15. Lebih detailnya akan saya kirim ke email anda sekarang," jelas suruhan Alex panjang lebar.


Alex hanya mengangkat kedua alisnya tanda setuju.


# # # # # #


"Segera selesaikan tujuan kita kesini hari ini!" ucap Putra Gibran yang sedang duduk di singgasananya.


"Baik tuan muda," jawab Rakha


Mereka membuka tumpukan berkas yang di bawa sekretarisnya. Terjadi diskusi yang benar - benar terlihat sangat serius antara mereka berdua.


3 jam berlalu belum ada tanda - tanda akan selesai. Pimpinan masing - masing divisi secara bergantian di panggil ke ruangan CEO. Bagi yang aman dari masalah, mereka akan keluar dengan senyum tenang. Tapi ada juga yang keluar dengan wajah tegang. Entah apa yang sedang terjadi.


2 jam kemudian, mereka berdua menutup berkas terakhir yang berada di tangan masing - masing. Keadaan ruangan sudah sepi, sisa sang CEO dan Asisten.


"Akhirnya selesai juga. Tinggal membasmi serangga berdasi", ucap Rakha menyandarkan kepalanya.


"Pesankan makan siang untuk kita!"


"Siap, tuan muda," Rakha mengambil ponselnya.


Putra Gibran membuka email yang di kirim Rakha melalui ponselnya. Dia tampak sangat serius memperhatikan ponselnya.


Clekk!


Pintu terbuka tanpa terdengar ketukan sebelumnya. Mereka spontan menoleh ke arah pintu.


"Maaf tuan muda, saya sudah melarangnya, tapi nona ini memaksa. Karena beliau membawa surat izin dari tuan besar untuk memasuki lantai 30," ucap Mira yang ikut masuk. Dengan tubuh gemetaran dia menjelaskan pada bosnya.


"Keluarlah," perintah Rakha pada Mira.


"Baik tuan," ucap Mira. Mira keluar menutup pintu kembali.


Rakha sangat malas melihat siapa yang datang. Dia berdiri, berjalan menuju sofa, dan menjatuhkan tubuhnya di sana.


Wanita itu berjalan ke arah sang CEO. Sebelum sampai di meja Putra Gibran, dia menoleh pada Rakha.


"Hai, keluarlah!" ucapnya tegas pada Rakha.


"Saya akan keluar kalau boss saya yang meminta saya keluar," balas Rakha dengan sangat santai, bahkan tanpa melihat gadis itu. Dia masih asyik bermain ponselnya.


"Huh! mengganggu saja," wanita itu melempar tatapan benci pada Rakha. Percuma saja, bosnya tidak akan mengusirnya, batinnya.


Tapi Rakha tetaplah Rakha. Tidak perduli dengan apapun yang di ucapkan orang lain, selain bosnya.


"Sayang, apa kau tidak menyuruhnya keluar?" ucap wanita itu pada Putra Gibran dengan nada yang di buat - buat.


"Mau apa kau kemari?" tanya Putra tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.


"Sayang," ucapnya manja, dia berjalan ke belakang kursi Putra Gibran yang bahkan tidak menoleh padanya sama sekali.

__ADS_1


"Aku hanya mau bertemu denganmu. Beberapa kali aku kesini, tapi tidak pernah melihatmu," lanjutnya dengan melembutkan kalimatnya. Tangannya merangkul pundak Putra Gibran dari belakang.


"Singkirkan tanganmu!" ucap Putra Gibran tegas.


"Kenapa kau galak begini sih sayang," tangannya sudah mengusap dada Putra Gibran.


"Aku bilang singkirkan tanganmu! Apa kau tuli!" teriak Putra Gibran


wanita itu menoleh ke arah Rakha, merasa sedikit malu di bentak di hadapan Rakha. Lalu menarik tangannya perlahan.


Rakha yang meliriknya merasa sangat jijik. Dia memang playboy. Tapi dia tidak akan jatuh di pelukan wanita murahan seperti wanita yang sedang merayu bosnya itu.


Aku saja jijik melihatmu, apalagi bos. batin Rakha dengan senyum mengejek.


"Katakan, apa yang kau mau?"


"Em, bisa tidak kita bicara berdua saja?"


"Tidak!" Putra Gibran menjawab cepat.


Wanita itu salah tingkah, dia bingung harus mulai bicara dari mana. Merasa tidak punya harga diri jika Rakha mendengar apa yang akan dia katakan.


"Uang?" tebak Putra Gibran dengan sinis.


Lama menunggu dia jengah karena wanita itu tidak kunjung menjawab.


"Carissa!" teriak Putra Gibran membuat yang di sebutkan namanya terlonjak kaget. "Cepat katakan, apa yang kau mau!"


"Emm ..." Carissa duduk di kursi depan CEO. "Dompet ku kecopetan. Semua uang dan kartuku hilang," ucapnya pelan berusaha agar tidak di dengar Rakha.


"Kecopetan?" ucap Putra Gibran pelan menatap Carissa dengan penuh kebencian. "Bukankah kau baru saja jalan - jalan ke luar negeri bersama seorang pria dan kau yang membiayai semuanya?" ucap Putra Gibran mengangkat sebelah alisnya.


Carissa semakin salah tingkah, bingung harus menjawab apa. Dia sudah kehilangan muka.


Bagaimana dia bisa tau sih, pasti laki - laki sialan itu yang mengawasi aku. batin Carissa melirik Rakha yang duduk di sofa.


"Kenapa kau diam saja?"


"Maafkan aku, dia hanya teman ku. Kasian dia tidak pernah jalan - jalan ke luar negeri. Jadi aku ajak saja saat aku ada pemotretan di luar negeri," ucap Carissa mencari alasan.


"Kau pikir aku percaya begitu saja?" ucap Putra Gibran sinis. "Di luar sana banyak gelandangan yang belum pernah keluar negeri, kenapa mereka tidak kau bawa?"


Carissa semakin tersentak kaget mendengar ucapan CEO tampan itu. Dia semakin bingung harus menjawab apa. Carissa tau betul watak keras laki - laki di depannya ini.


"Ma.. maaf," hanya itu yang keluar dari bibir Carissa.


Putra Gibran mengeluarkan cek dan menuliskan angka Rp. 500.000.000,-. dan melempar cek itu ke wajah Carissa yang duduk di depannya.


"Ingat! sekali lagi kau muncul di hadapan ku dengan penjelasan palsu mu itu. Semua bukti kejahatan yang kau buat akan aku berikan pada Papa ku. Dan aku pastikan dia tidak akan memberi mu surat izin untuk bisa masuk ke lantai ini lagi! Paham!" ucap Putra Gibran tegas.


"Ba ... baik. Terima kasih," ucap Carissa ragu dengan senyum yang di buat - buat. Lalu mengambil cek yang jatuh di lantai itu.


Nanti aku akan pikirkan cara lagi, kau tidak boleh lepas dari genggamanku. batin Carissa saat berjalan keluar. Dan masih sempatnya dia melirik Rakha di sofa.


"Awasi dia terus, kumpulkan semua bukti kejahatannya!" ucap Putra Gibran setelah Carissa menghilang di balik pintu.

__ADS_1


"Siap, tuan muda," jawab Rakha pasti. Aku tidak sabar menunggu kehancuran mu Carissa!. batin Rakha.


# # # # # #


Carissa Birdella Louis adalah anak dari sahabat tuan besar Haidar Gibran. Tuan besar Haidar Gibran pernah berhutang budi pada Mark Louis, papa Carissa. Saat Group G di ambang kebangkrutan.


Insiden kecelakaan pesawat yang mengakibatkan Mark Loius dan istrinya meninggal membuat tuan besar Haidar merasa kasihan pada Carissa, sehingga dia menganggap Carissa seperti anaknya sendiri.


Hanya saja karena sifat Carissa yang liar, perusahaan peninggalan ayahnya hancur dan bangkrut. Carissa bisa menjadi model karena bantuan tuan besar Haidar pada saat itu.


Hingga suatu hari Carissa bertindak lebih tidak tau diri. Dia memohon pada tuan besar Haidar untuk di jodohkan dengan Putra semata wayangnya. Tentu saja bukan karena cinta, tapi karena harta.


Tapi tuan besar Haidar dan istrinya tidak begitu saja merestui. Mereka menyerahkan keputusan di tangan anaknya. Karena sebenarnya mereka juga tau kelakuan seorang Carissa yang liar. Hanya saja mereka menjaga perasaan Carissa, karena menghormati mendiang orang tuanya.


# # # # # #


Sore hari Jovanka dalam perjalanan pulang mengendarai mobilnya menyusuri jalanan kota. Matanya tidak hanya fokus pada jalan di depannya. Tapi juga fokus pada pinggiran kanan kiri jalanan. Berharap bertemu Alex.


Tapi sampai di depan rumahnya, dia tidak menemukan Alex. Dia masuk ke rumah dengan kecewa.


Setelah mandi, Jova turun untuk makan malam bersama keluarganya.


"Selamat malam, Ayah, Ibu!" ucap Jova duduk di kursi bersebelahan dengan Tristan.


"Malam, sayang," Ayah dan Ibu menjawab.


"Lama sekali sih kak, aku kelaparan menunggumu," ucap Tristan menahan kesal.


"Maaf adik ku sayang," Jova menebar senyum manisnya.


Tristan membuang muka dan langsung saja mengambil menu makanan yang sudah di siapkan ibunya.


Selesai makan malam, mereka berpindah ke ruang keluarga. Tristan menyalakan tv dan menggonta ganti chanel tv karena tidak ada yang menarik menurutnya.


"Jova, bagaimana dengan kuliah mu?" tanya ayah membuka obrolan.


"Tadi Jova kuliah kok yah, tapi Jova tidak bertemu dosen Jova yang killer itu. Beliau cuti."


"Oh, lalu bagaimana dengan perusahaan?"


"Yaa begitulah yah. Belum ada perkembangan yang signifikan," ucap Jova sedih. "Tapi ayah jangan khawatir, Jova pasti tidak akan patah semangat," ucap Jova mengangkat satu tangannya yang terkepal ke atas kepalanya.


"Ayah percaya sama kamu."


"Ayah, Ibu, Jova naik ke atas ya, ada tugas dari dosen yang harus Jova kerjakan."


"Iya Jova," jawab Ibu.


Jova naik ke kamarnya, duduk di kursi meja belajarnya. Membuka buku untuk menyelesaikan tugasnya.


Setelah tugasnya selesai dia masuk ke kamar mandi, rutinitas sebelum tidur. Selanjutnya mengganti bajunya dengan baju tidur berwarna Coklat. Lalu naik ke atas tempat tidurnya, mengambil ponselnya di atas nakas.


"Andai aku jatuh cinta, ingin rasanya aku jatuh cinta pada mu," Jova menggeser beberapa foto di galerinya.


Setelah puas menatap foto - foto yang di ambilnya diam - diam saat menguntit, dia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Dan segera memejamkan matanya. Berharap besok bisa bangun pagi.

__ADS_1


__ADS_2