I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Marah!


__ADS_3

Di koridor kampus Bayu berjalan cepat menuju toilet pria. Dia membuka pintu utama toilet dengan sangat kasar. Dan membanting pintu itu dengan sangat keras.


"Aaaaaaakkkkhhhh!" teriak Bayu mendaratkan tinju di salah satu sisi tembok toilet.


Beberapa mahasiswa yang ada di dalam toilet keluar dengan buru - buru setelah melihat wajah Bayu yang tampak di penuhi amarah.


"Apa yang sudah aku lakukan!" gumam Bayu pelan.


"Aaaaaaakkhhh!" Bayu kembali meninju dinding di depannya.


Seorang mahasiswa yang mengenal Bayu datang menghampiri Bayu.


"Kau kenapa Bay?" tanyanya pelan memegang pundak Bayu.


Bayu tidak menjawab, dia langsung keluar tanpa bicara apapun dan tanpa menoleh sedikit pun pada orang yang bertanya padanya.


Mahasiswa yang bertanya pada Bayu menggelengkan kepala nya heran, tanpa berani mengejar Bayu.


# # # # # #


Sore hari Alexander masuk ke gerbang gedung perkantoran tempat kantor Jova berada. Dia melihat Jova sudah berdiri di depan lobby. Alexander menghentikan mobilnya saat melihat sebuah mobil di depannya berhenti di depan Jova.


Terlihat seorang laki - laki turun dari pintu kemudi dan menghampiri Jova. Mereka terlihat sedikit mengobrol. Lalu laki - laki itu membuka pintu penumpang untuk Jova. Jova masuk ke dalam mobil itu dengan senyum di bibirnya. Mobil itu melaju meninggalkan gedung perkantoran.


"Beraninya kau ingkar janji padaku" gumam Alexander memukul kemudi.


Sekelebat kemarahan muncul di matanya. Dengan cepat dia mengemudikan mobilnya mencoba mengikuti mobil yang membawa Jova. Sampai beberapa kilo meter Alexander tidak menemukan mobil itu. Di tambah jalanan yang macet membuatnya sulit untuk melaju dengan kecepatan tinggi.


"Aaakhh!" kesal Alexander memukul kemudi mobilnya.


Akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke apartemennya.


# # # # # #


Jam 7 malam Alexander masih duduk di sofa ruang tengah menunggu Jova yang tak kunjung terlihat batang hidungnya.


"Kemana dia jam segini belum pulang juga!" gumam Alexander kesal.


tampak di layar ponsel Alexander tertulis nomor ponsel Jovanka dengan sebuah nama yang bukan nama asli Jova. Alexander memang punya nomor ponsel Jova saat meminta seseorang untuk mencari info lengkap tentang Jova. Tapi tentu saja Jova tidak punya nomor Alexander.


Alexander mengirim pesan WA pada salah satu nomor kontaknya.


Lacak keberadaan nomor ini sekarang!


Siap tuan. Balasan dari seseorang tanpa perlu Alexander menunggu lama.


Alexander memutar - mutar ponsel di tangannya. Lama tak mendapat pesan yang di tunggu Alexander membanting ponselnya ke sofa di sebelahnya.


Ting . .


Sontak Alexander mengambil ponselnya kembali setelah mendengar pesan WA masuk. Terlihat posisi Jova sedang berada di sebuah Cafe.

__ADS_1


"Shiitt!" umpat Alexander. "Bocah ingusan itu cari masalah denganku!" geram Alexander. "Awas saja!" gumam Alexander kesal.


Sampai jam 8 malam Alexander masih duduk di ruang tengah dengan TV menyala tanpa di lihatnya. Dia hanya duduk dengan dada kembang kempis menahan kesal.


Ceklekk


Pintu apartemen Alexander terbuka. Alexander tidak menoleh sedikit pun ke arah pintu.


"Dari mana kau!" tanya Alexander ketus tanpa menoleh saat merasa Jova sudah memasuki ruang tengah.


"Em.. Hai!" sapa Jova dengan senyum tak berdosa nya.


Jova menghampiri Alexander, berdiri di belakang sofa Alexander. Meletakkan kedua tangannya di atas sandaran sofa.


"Apa kau sengaja pergi sebelum aku datang?" tanya Alexander tanpa melirik Jova sedikit pun.


Raut kemarahan jelas berkobar di wajah Alexander. Jova yang semula senyum berubah merinding saat melihat aura wajah Alexander dari samping. Dia menelan ludahnya dengan sangat susah.


Sepertinya aku dalam bahaya. Aahh, apa yang sudah aku lakukan. Batin Jova gemetaran.


"Emm, maaf tadi aku tidak sengaja di jemput Bayu. Lalu di ajak ke Cafe Indira, karena aku tidak punya nomor ponselmu, jadi aku tidak memberi kabar padamu" ucap Jova gugup.


Alexander diam, tak sedikit pun ada niat untuk membalas ucapan Jova.


"Aku membawa makan malam untuk kita, apa kau mau makan sekarang? atau kau sudah makan?" tanya Jova dengan mengumpulkan keberanian.


Alexander diam tak menjawab sepatah katapun, dan tanpa ekspresi apapun untuk menanggapi pertanyaan Jova. Jova salah tingkah dibuatnya.


Lalu berjalan ke arah kamarnya melewati Alexander yang masih diam menatap layar televisi yang menyangkan kejayaan Group G. Jova menutup pintu kamar lalu bersandar di balik pintu itu, mengelus dadanya pelan.


"Jantung ku hampir saja lepas. Apa iya kalau dia benar - benar marah akan sangat menakutkan?" gumam Jova pelan. "Tapi kenapa dia marah aku pulang terlambat?" Jova tampak berfikir. "Huuuffffft" Jova melepas nafas panjangnya.


Jova berjalan ke kamar mandi, setelah membersihkan dirinya di kamar mandi dia mengambil baju tidurnya. Lalu menyisir rambutnya dan mengikatnya asal.


Jova keluar dari kamarnya, matanya langsung tertuju pada televisi yang sudah mati. Dan sudah tidak terlihat Alexander di sofa ruangan itu. Jova menghembuskan nafas lega.


Jova berjalan ke arah meja makan, lalu membuka nasi goreng yang dia bawa dari Cafe Indira. Lalu memakannya sendiri tanpa mencari Alexander. Dia membiarkan makanan untuk Alexander di sampingnya.


"Rasanya ada yang aneh makan sendiri di meja ini" gumam Jova menatap nasi goreng untuk Alexander.


Jova menyelesaikan makannya dengan sangat malas tanpa menghabiskan nasi gorengnya.


Setelah selesai makan malam Jova masuk ke kamarnya setelah mengedarkan pandangan nya di lantai bawah dan tidak menemukan keberadaan Alexander.


Jova menurunkan kopernya dari atas almari. Dia memindah baju dan barang - barang dari dalam lemari ke kopernya. Menyisakan satu setel baju untuk di pakai besok pagi. Jova juga merapikan semua belanjaan yang dia beli menggunakan kartu Alexander kemarin.


Setelah semua rapi, Jova duduk di tepi ujung ranjang. Mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar.


"Aku akan merindukan kamar ini. Besok aku akan kembali ke apartemen ku" gumam Jova memanyunkan bibirnya.


Jova membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit - langit kamarnya.

__ADS_1


"Kemana ya perginya Alexander? apa dia di kamarnya?" gumam Jova pelan.


Tanpa terasa Jova tertidur di ujung tempat tidur.


Alexander duduk di balkon kamarnya. Menyalakan rokok dan sesekali menghisapnya. Pikirannya tertuju pada Jova yang di jemput oleh Bayu, dan jam 8 lebih baru pulang.


Alexander melewatkan makan malamnya malam ini. Dia tak merasakan lapar sedikitpun. Matanya memandang lurus ke depan. Memperlihatkan indahnya Jakarta saat malam.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi rasa kantuk belum juga menyerangnya. Dia berjalan keluar kamar. Menuruni anak tangga dan berhenti di depan pintu kamar Jova.


Tok Tok Tok


Alexander mengetuk pintu pelan. Saat tak mendapat jawaban, Alexander membuka pintu Jova pelan. Jantung Alexander serasa dihantam batu saat melihat koper Jova di samping tempat tidur beserta paper bag belanjaan kemarin.


Matanya langsung tertuju pada Jova yang tertidur di ujung tempat tidur tanpa bantal. Alexander mendekati ranjang Jova. Menatap lembut pada Jova yang terlelap. Namun berubah menjadi tatapan kesal saat mengingat Jova di jemput Bayu.


Lalu kembali berubah saat melihat mata Jova yang terlelap. Alexander berjongkok menghadap wajah cantik Jova saat terlelap. Tangannya terarah menyentuh kepala Jova lembut. Menyingkirkan anak rambut yang berantakan di wajah cantik Jova.


Punggung jari telunjuk dan jari tengahnya mengusap pipi Jova. Alexander menatap dalam wajah Jova.


Berikan aku jawaban, siapa dirimu sebenarnya? ucap Alexander dalam hati.


Alexander menghembuskan nafas panjangnya pelan. Lalu berdiri mengangkat pelan tubuh Jova dan meletakkan kembali dengan pelan pada tempat tidur dengan posisi yang benar.


Alexander menarik kedua tangannya dari bawah tubuh Jova, lalu mengecup kening Jova dengan lembut. Menyempatkan tangannya mengelus pelan kepala Jova.


Setelah memastikan Jova tidur dengan benar, Alexander menyalakan lampu tidur di atas nakas. Lalu berjalan ke arah pintu dan mematikan lampu utama kamar. Dan menutup kembali pintu kamar Jova.


Jova membuka matanya saat mendengar pintu kamarnya tertutup.




Hai reader, selamat membaca.


Meskipun saat ini sedang pandemi, saya membuat cerita ini seolah tidak ada pandemi yaa.


Semoga kita semua di beri kesehatan dan Pandemi segera berakhir.



Jangan lupa berikan dukungan teman - teman untuk novel pertama ku ini ya.



Terima kasih,



Salam Lovallena

__ADS_1


__ADS_2