I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Maaf Gagal Lagi


__ADS_3

"Begini, Perusahaan Ayah sekarang sudah membaik berkat bantuan mu nak!" ucap Ayah, "kalau kamu ingin mengambil semua saham yang kamu tanam untuk menolong Ayah waktu itu, kamu sudah bisa mengambilnya. Tapi jangan tanyakan keuntungan mu dulu ya. Ayah berusaha menata semuanya dulu, agar tidak merepotkan mu lagi"


"Tidak kok Yah, aku memberikan saham itu untuk Ayah. Aku tidak akan menarik baik itu saham maupun keuntungannya" ucap Alexander tulus.


"Jumlah itu terlalu besar nak!"


"Itu hanya saham kecil, Yah"


"Saham kecil?" Ayah mengerutkan keningnya, "Itu bahkan sebesar saham Ayah semula!"


"Uang segitu tidak terlalu penting Yah!"


Ayah tertegun dan sedikit shock, Ayah hampir lupa kalau dia berhadapan dengan Group G. Uang berapa pun tidak ada artinya bagi mereka. Jova yang tidak tau berapa saham yang di berikan Alexander, hanya diam saja. Tapi dia juga berfikir, jika sekarang saham Ayahnya 50% maka saham yang diberikan Alexander sebesar 50%.


Banyak sekali! batin Jova, melirik Alexander.


"Ayah tidak perlu memikirkan saham itu. seluruh saham itu akan saya ubah atas nama Ayah"


"Apa!" pekik Ayah, "tapi bagaimana dengan Papa mu? apa kau tidak takut kalau papa mu marah?"


"Papa sudah tau semuanya"


"Apa!" Ayah semakin kaget.


Ayah melihat Jova yang ikut tertegun mendengar ucapan Alexander. Jova memutar badannya menatap Alexander.


"Apa kamu yakin, Sayang?" tanya Jova tak percaya.


"Iya!" jawab Alexander yakin.


Tok Tok Tok


"Masuk!" ucap Alexander.


Rakha membuka pintu ruangan CEO, seketika membulatkan matanya, melihat posisi mereka yang tidak berubah bahkan di depan Ayah Jova. Rakha menggelengkan kepalanya pelan menatap Alexander. Alex hanya menyebikkan bibirnya.


"Nona, ini pesanan Nona!" ucap Rakha.


"Terima kasih, Rakha!" ucap Jova tersenyum, "kamu beli banyak sekali!" setelah melihat kantong kresek berisi 10 box.


"Biar semua bisa ikut makan!"


"Oh! ya sudah, ayo kita makan!" ucap Jova berdiri dari pangkuan Alexander, "Ayah juga belum makan siang kan?"


"Belum!"


Mereka semua pindah ke Sofa, Jova mengambil 4 kotak dan membagikan satu - satu. Sisanya di berikan pada Lisa dan Security di luar ruangan CEO.


Mereka makan tanpa bicara sampai makanan mereka habis. Setelah itu mereka berbincang - bincang ringan di sofa itu. Setelah cukup lama, Ayah Jova memilih kembali ke kantornya.


"Hati - hati di jalan Ayah!" ucap Jova.


"Iya!" Ayah Jova keluar dengan di bukakan pintu oleh Rakha.


Alexander kembali ke kursi singgasananya, begitu juga Rakha, dia kembali duduk di kursi depan meja Alexander. Jova masih memainkan ponselnya di sofa sambil tiduran.


Alexander dan Rakha terlibat perbincangan serius mengenai perusahaan. Jova yang sudah mulai malas berhadapan dengan bisnis memilih tidak peduli dengan perbincangan mereka yang tidak jauh dari kata bisnis.

__ADS_1


Sesekali Alexander melirik Jova di sofa, Rakha menarik nafas dan membuangnya pelan melihat bucin di depannya. Tapi Alexander menyadari kelakuan Rakha.


"Kau sudah bosan hidup, Kha!" tanya Alex dingin.


Seketika Jova menoleh pada mereka berdua.


"Hah! tidak, Tuan!"


Boss, insting mu kuat sekali! batin Rakha.


Jova bangun dari tidurannya, berdiri lalu berjalan ke arah Alexander. Rakha melihat Jova berdiri, begitu juga Alexander yang segera merentangkan tangannya.


Hemm.. kuatkan matamu Kha, kau seorang Rakha Leonard, sudah banyak gadis bermain di pangkuan mu! jangan tergiur dengan kelakuan dua bucin baru ini! ucap Rakha dalam hati.


Jova langsung saja duduk di pangkuan Alexander. Sama sekali tidak risih di lihat Rakha. Jova melingkarkan lengan kanannya di leher Alexander, dan menyandarkan kepala di lengannya, menempelkan hidungnya di telinga Alex. Alexander mendekap erat pinggang Jova dengan tangan kirinya.


Mereka melanjutkan diskusi seriusnya tanpa sedikit pun terusik oleh Jova yang memainkan tangannya di dada Alexander membentuk garis - garis abstrak. Tiba - tiba tangan kiri Jova yang bermain di dada Alexander jatuh lemas, seolah tak bertenaga. Alex menyadari itu dan langsung mengalihkan pandangan matanya ke tangan Jova, lalu melirik Jova yang tertidur. Rakha pun tak luput dari apa yang di lihat Alex.


"Tuan, Nona tertidur!" ucap Rakha pelan.


"Buka pintu kamar pribadi ku!" perintah Alexander pada Rakha.


Rakha membuka kamar pribadi Alex yang ada di ruangan itu, lalu kembali duduk. Alexander menggendong Jova menuju kamar pribadinya. Meletakkan tubuh Jova pelan di tempat tidur itu, menyelimutinya. Setelah itu mengecup lama kening Jova. Barulah Alexander keluar dari kamar itu.


Alex melanjutkan diskusinya bersama Rakha. Setengah jam berlalu, Rakha keluar dari ruangan Alexander. Karena diskusi mereka sudah berakhir. Alexander memeriksa sedikit berkas yang harus di tanda tangani.


Setelah selesai, Alex masuk ke kamar pribadinya, melihat Jova yang masih tertidur pulas, hanya posisinya saja yang berubah. Alexander melepas jas nya, dan ikut berbaring di samping Jova. Masuk ke dalam selimut yang sama, kemudian mencium kening Jova dan memindah kepala Jova ke lengannya, lalu ikut memejamkan matanya.


Sore hari, Rakha masuk ke ruangan bosnya setelah mengetuk pintu berulang kali tapi tak ada jawaban. Ruangan CEO terlihat sangat sepi. Kunci mobil bosnya masih di atas meja.


Rakha mengambil berkas di atas meja dan kembali ke ruangannya.


Jova menggeliat di pelukan Alexander, dia mencium parfum yang sangat dia hafal dan merasakan ada tangan yang melingkar. Jova mengerjap kan matanya, bibirnya tersenyum saat melihat Alexander terlelap di sampingnya.


Jova memiringkan tubuhnya menghadap Alexander, memeluk erat tubuh Alexander. Lalu mengangkat kepalanya mencium setiap inchi dari wajah Alex. Kepala Alex sedikit bergerak tapi matanya masih tertutup. Jova tersenyum menatap wajah mantan Dosennya itu.


Aku tidak menyangka, Dosen gila ku kini jadi calon suami ku. Ah! aku masih tidak percaya aku jatuh cinta pada Dosen batu ini! ucap Jova dalam hati, dengan senyum yang terus mengembang.


"I love you Dosen gila ku" gumam Jova mengecup singkat bibir Alexander.


Saat hendak mengangkat kepalanya, Alexander menahan leher belakang Jova. Alex mencium bibir Jova, menggigitnya pelan, lalu melepas bibir dan tangannya yang menahan leher Jova. Barulah dia membuka matanya.


"Ehm!" Jova memukul pelan dada Alex, "kau tidak tidur ternyata!"


Alex tidak menjawab, dia menatap lembut wajah Jova. Membuat Jova jadi salah tingkah.


"Kau berani sekali mencuri bibir Dosen gila mu ini!" ucap Alexander kemudian.


"Haha, kau malah berani sekali meraba paha dan dada mahasiswi mu?" jova menjulurkan lidahnya, "jangan - jangan kamu ini Dosen mesum!" lanjutnya.


"Kau benar, Nona! aku memang Dosen mesum mu!"


Alex mengangkat tubuhnya, menindih tubuh Jova di bawahnya. Kedua tangannya memegangi kedua tangan Jova dengan kuat. Lalu mengecup bibir, dan semua wajah Jova, turun mengecup leher Jova.


Jova tertawa kegelian, mencoba memberontak. Tapi tenaganya tidak ada apa - apanya bagi seorang Alexander.


"Hahahaha! Sayang, ampun!" ucap Jova di tengah kegelian nya.

__ADS_1


Tapi tak sedikit pun di dengar Alexander. Alex terus mengecup dan menjilat leher Jova, menarik sedikit baju Jova yang menutupi pundaknya dengan bibirnya. Jova semakin kegelian, dia benar - benar tak sanggup menahan geli.


"Haha! Sayang, hentikan!"


Barulah Alex berhenti mengecup pundak Jova. Dia masih di atas tubuh Jova, menatap wajah Jova dengan tatapan penuh cinta. Jova menatap balik Alexander dengan senyum manisnya.


Tangan Jova masih di pegang erat oleh Alex. Kemudian Alex menurunkan kepalanya, mencium lama kening Jova. Menyalurkan cinta yang dimilikinya untuk Jova.


Setelah itu Alexander menempelkan keningnya ke kening Jova, begitu juga dengan hidungnya. Keduanya dapat merasakan nafas mereka yang menderu. Keduanya memejamkan matanya.


"I love you" bisik Alex lembut.


Jova membuka matanya, melihat mata Alex yang tertutup.


"I love you too" bisik Jova tak kalah lembut.


Alexander membuka matanya, dan langsung meraih bibir Jova dengan bibirnya. Lagi - lagi ciuman kembali terjadi di antara keduanya.


Entah apa yang ada di pikiran Alexander saat ini. Dia begitu bernafsu menikmati bibir Jova. Alex melepas kedua tangan Jova, spontan Jova merengkuh leher Alexander erat. Seolah enggan untuk melepas pagutan bibir mereka.


Kedua tangan Alexander sudah bermain di dada Jova kali ini, lalu menyelinap masuk dalam baju Jova. Merem*s kedua buah dad* Jova yang masih tertutup br* secara bersamaan. Hasrat keduanya begitu menggebu.


Alexander melepas ciuman nya, menarik baju Jova ke atas hingga terlepas. Alexander menatap buah dad* Jova yang hanya tertutup br" berwarna merah. Alexander hanya diam terpaku menatap benda kenyal yang menyembul itu. Di tambah gerakan dada Jova karena nafas yang menggebu.


Jova berharap Alexander melakukan sesuatu pada dirinya. Tapi ternyata Alexander malah menjatuhkan diri di sisi kanan Jova. Alexander menatap langit - langit kamar.


"Apa yang ada di otak ku?" gumam Alexander pelan.


Jova bingung dengan tingkah Alex. Dia menoleh ke arah Alexander, memiringkan tubuhnya, mengangkat tangan kirinya membelai wajah Alexander.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Jova, "aku pikir kamu akan melakukannya"


Alexander tidak menjawab, dia masih menatap langit - langit kamarnya. Dan sesekali membuang nafas kasarnya. Alexander menoleh pada Jova. Menatap lembut wajah Jova yang juga menatapnya.


"Maafkan aku, Sayang" ucapnya.


"Maaf? kenapa?" tanya Jova.


"Tidak apa - apa! ayo bangun" ucap Alexander.


Tapi Jova masih enggan untuk bangun. Mereka masih berbaring.




Eghm! hampir saja. Heheh



Tinggalkan Like dan Komentarnya ya.


Terima kasih banyak pada teman - teman yang sudah memberikan hadiah dan dukungannya.



Salam Lovallena.

__ADS_1


__ADS_2