
Hingga pagi Alexander tidak tidur. Dia hanya berbaring di tempat tidur memandangi foto Jova dan dirinya di ponselnya. Jari - jemarinya meraba setiap inchi dari foto - foto yang di geser berkali - kali.
Seorang dokter dan seorang perawat masuk dan memeriksa Alexander yang bahkan tak bicara apapun, dan tidak menunjukkan reaksi apapun saat mereka masuk.
"Maaf tuan, hari ini anda masih harus istirahat. Dan jangan melepas infus terlebih dahulu. Nanti malam infus anda sudah bisa di lepas", ucap dokter dengan hati - hati.
Alexander tak menggubris apapun yang di katakan dokter. Dia tetap berbaring dan menatap layar ponselnya. Hingga dokter dan perawat keluar.
Beberapa saat kemudian, dia berdiri menarik tiang infus dan membawanya berjalan ke luar ruang rawatnya. Di sambut oleh penjaga yang menjaganya 24 jam. Mereka berjalan beriringan dengannya menuju ruang ICU. Tentu saja penjaga yang membawa tiang infus.
Dia masuk mendekati tempat tidur Jova. Alexander menggenggam tangan kanan Jova. Tangan kirinya mengusap kepala Jova.
"Maafkan aku Jova. Semua ini salahku", raut kesedihan muncul di wajah seorang dosen dingin. "Aku berjanji akan memohon ampun pada orang tua mu. Aku akan menemuinya, walau aku akan di bunuh sekalipun", ucap Alexander pelan.
Alexander mencium punggung tangan Jova. Tangan kirinya tak henti mengusap kepala Jova, sesekali meraba wajah cantik Jova yang di penuhi bekas goresan kaca.
Cukup lama dia di sana dengan hanya berdiri memandangi Jova. Hingga perawat datang dan memintanya kembali ke ruang rawatnya.
Alexander berjalan ke ruang rawatnya di ikuti penjaga yang membawa tiang infus. Dia masuk ke ruang rawatnya sendiri.
# # # # # #
"Ibu Jova bilang, Jova tidak bisa di hubungi. Di apartemen dan kantor juga tidak ada. Kemana dia Bay?", tanya Indira pada Bayu saat mereka bertemu di kantin
"Dosen sialan itu juga tidak masuk hari ini. Apa yang dia lakukan pada Jova", ucap Bayu geram.
"Kita harus mencari Jova Bay!"
"Ya! kalau sampai dia menyakiti Jova, aku tidak akan segan menghajarnya!", Bayu mengeratkan giginya menahan amarah.
Indira mengusap punggung Bayu pelan.
# # # # # #
Kirimkan mobil untukku sekarang!.
Pesan Alexander pada seseorang di sebrang sana.
*Tuan mau kemana?.
Jangan banyak bertanya! cepat lakukan perintahku! 30 menit mobil ku tidak datang, maka kau akan jadi korban pertamaku!
*Baik tuan, mobil tuan akan segera datang.
# # # # # #
"Hemmh.. enak sekali jadi bos ya. Cukup mengeluarkan senjata andalan. Semua urusan lancar", gumam orang yang diperintah Alexander.
"Ke ruangan ku sekarang!", perintahnya pada seseorang melalui telpon.
Tidak lama kemudian seseorang mengetuk pintu ruangannya.
Laki - laki berpakaian hitam itu masuk setelah mendapat perintah.
"Kau antar kan mobil pada tuan di rumah sakit. Waktu mu hanya 25 menit!", ucapnya memberi kunci mobil.
__ADS_1
"Ini mobil yang mana tuan?", tanya laki - laki berpakaian hitam.
"Tch!! di situ kan ada STNK, kau cari saja mobil mana yang plat nomornya sama dengan STNK itu!", ucapnya kesal.
"Tapi tuan, saya akan butuh waktu lama untuk mencari. Mobil tuan kan ada banyak"
"Itu urusanmu!", ucapnya Cuek. "Cepat pergi waktumu hanya 20 menit dari sekarang!".
"Baik tuan", laki - laki berpakaian hitam segera keluar dari ruangan itu.
# # # # # #
40 menit menunggu, Akhirnya seseorang datang mengantar kunci mobil untuk Alexander.
"Kau telat 10 menit!", ucapnya ketus.
"Maaf tuan", laki - laki berpakaian hitam itu menunduk.
Alexander berjalan keluar dari ruang rawatnya dengan kesal.
"Jangan ada yang mengikuti ku!", ucapnya tegas pada dua orang penjaga di depan ruang rawatnya.
Alexander berjalan ke ruang ICU, dia masuk ke ruangan ICU. Mendekat ke tempat tidur Jova. Menggenggam tangan kanan Jova, lalu mencium keningnya.
"Aku akan menemui orang tuamu", ucap Alexander di depan wajah Jova yang terbaring.
Sesaat kemudian dia meninggalkan rumah sakit, menggunakan mobil yang baru saja di antar oleh pengawalnya.
Beberapa saat kemudian dia sampai di depan rumah Jova. Dia memarkirkan mobilnya di depan rumah Jova, Dia keluar dari mobil menuju pintu utama rumah Jova. Dia masih diam berdiri di depan pintu. Dia ragu untuk mengeruk pintu itu.
Tristan turun dari motornya, mendekati mobil yang terparkir di depan rumah. Dia menoleh ke arah pintu utama rumahnya dan melihat seorang laki - laki tampan yang juga sedang melihatnya dengan tatapan teduh. Tristan berjalan mendekati Alexander.
"Apa orang tuamu ada di rumah?", tanya Alexander sebelum di tanya duluan oleh Tristan.
"Ada", jawab Tristan dengan pikiran yang bertanya - tanya siapa laki - laki tampan ini.
"Boleh saya bertemu mereka?"
"Em.. boleh. Masuk saja kak", ucap Tristan sambil membuka pintu rumahnya. "Ayo kak!"
Tristan masuk di ikuti Alexander di belakangnya.
"Duduk kak. Aku akan panggilkan ayah dan ibu"
Alexander hanya mengangguk. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar ruang tamu. Ada beberapa foto Jova saat tersenyum yang terpajang di dinding. Yang membuatnya seketika merasa sedih, mengingat Jova kini hanya terbujur tanpa bisa bergerak.
"Maafkan aku Jova", gumamnya pelan.
Orang tua Jova berdiri di perbatasan ruang tengah dan ruang tamu. Mereka melihat heran, siapa gerangan laki - laki tampan yang bertamu di rumahnya.
"Selamat siang tuan, nyonya", Alexander berdiri dengan sedikit menunduk.
"Siang", jawab mereka bersamaan. Lalu duduk bersebelahan.
__ADS_1
"Duduklah", perintah ayah Jova. "Anda siapa ya?", tanya ayah Jova setelah Alexander duduk kembali.
"Sebelumnya saya minta maaf tuan, nyonya", Alexander mengambil nafas. "Nama saya Alexander, saya dosen di kampus putri anda, Jovanka", Alexander mengambil nafas kasar lagi.
"Oh", ucap ayah. Ini toh yang kata Jova dosen gila. Ucap ayah dalam hati, dengan menyimpan senyum.
Brarti ini dosen gila yang di maksud Jova, padahal sangat tampan. Ucap ibu dalam hati, dengan senyum ramah yang dia tunjukkan.
"Ada apa ya bapak kesini, sudah seminggu lebih Jova tinggal di apartemennya. Dan dari kemarin kami kesulitan menghubunginya. Apa dia juga tidak masuk kuliah?", tanya ibu Jova.
Alexander menunduk, tidak tau haru mulai bicara dari mana. Orang tua saling pandang melihat Alexander yang tampak bingung.
"Maaf tuan, nyonya", Alexander menarik nafas panjang dan membuangnya pelan. "Sebenarnya Jova kecelakaan bersama saya", Alexander menunduk.
"APA!", pekik ayah dan ibu bersamaan.
"Bagaimana bisa?", tanya ayah Jova panik.
"Ayah, kendalikan emosi ayah", ucap Ibu pelan mengelus punggung suaminya. "Dimana dia sekarang?", ibu Jova tak kalah panik.
Tristan yang berada di ruang tengah mendengar percakapan itu segera keluar dan duduk di kursi lainnya.
Alexander menatap mereka bertiga secara bergantian, dengan penuh rasa bersalah.
"Maafkan saya tuan, nyonya. Kemarin saya tidak bisa mengendalikan emosi saya. Sehingga saya membawa mobil dengan kecepatan tinggi di jalan tol. Dalam perjalanan, kami sempat berdebat. Jova melepas sabuk pengamannya dan ingin melompat. Saya hilang kendali sehingga menabrak truk kontainer yang berhenti karena pecah ban", Alexander menunduk dalam.
Ayah Jova mulai mengatur nafasnya, mengingat dia punya penyakit jantung
"Lalu dimana Jova sekarang?", tanya ayah Jova.
"Jova koma di rumah sakit tuan"
"Apa?", Ibu Jova lemas tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Ayah Jova mengatur jantungnya. Tristan merangkul ibunya yang menangis. Melihat semua yang ada di depannya, membuat Alexander semakin bersalah.
Hai reader, enaknya Jova di bangunin apa nggak yaa?
Kasih saran dong.. Atau peran utamanya jadi Indira nih.. hehehe
Jangan lupa tinggalkan Like dan dukungan kalian ya.
Terima kasih,
Salam Lovallena.
__ADS_1