I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Fitness


__ADS_3

Tari adalah mantan ART di rumah Jovanka. Yang mengundurkan diri karena akan dilamar seseorang waktu itu dan memutuskan pulang kampung untuk seterusnya.


Jova naik ke kamarnya di atas. Lalu membersihkan dirinya, mengganti baju dan bersantai di balkon kamarnya. Tak lama kemudian terlihat mobil ayahnya datang. Jova berlari turun ke ruang tamu.


"Kenapa ayah tidak mengajakku?" tanya Jova pada ayahnya yang baru saja masuk rumah.


"Belum juga duduk sudah di ajak ngobrol!" jawab ayah.


"Siapa suruh kakak tidak tinggal di rumah!" sahut Tristan.


"Karena kakak sibuk!"


"Kamu dapat salam dari mbak Tari," ucap ibu pada Jova.


"Wa'allaikum salam," jawab Jova duduk di sofa depan TV


Mereka yang baru datang masuk ke kamar masing - masing untuk mandi, meninggalkan Jova di ruang tengah.


Beberapa saat kemudian Ibu dan Tristan menyusul Jova di ruang tengah.


"Kamu bilang seminggu di apartemen," tanya ibu.


"Iya bu. Aku rindu kalian jadi aku mampir ke sini. Sebentar lagi juga aku harus kembali ke apartemen"


"Kenapa kau buru - buru sekali?" sahut ayah yang baru keluar dari kamarnya.


"Pekerjaanku banyak yah, suatu saat ayah akan tau sesuatu yang tidak ayah duga"


"Apa?" tanya ayah dan ibu bersamaan.


"huh! kalau aku bilang sekarang ayah taunya sekarang, buka suatu saat" ucap Jova mengerucutkan bibirnya.


"Haha benar juga!" ayah dan ibu tertawa.


# # # # # #


Jam 5 sore Alexander sampai di apartemennya. Lampu di apartemen mati, pertanda tidak ada kehidupan di sana. Alexander menyalakan lampu satu persatu.


"Kemana dia? dia kan sudah tau sandi apartemen ini!" gumam Alex berjalan menaiki tangga.


Alexander berjalan ke walk in closet. Mengganti bajunya dengan baju untuk fitnes. Dia masuk ke ruang gym. Mulai menggunakan beberapa alat olah raga gym.


Jova sampai di apartemen Alexander jam setengah enam sore. Dia membawa makan malam dari rumah untuknya dan Alexander.


"Apa Alexander sudah pulang?" gumam Jova masuk ke ruang tengah. "Kemana dia? sepi sekali!"


Jova masuk berjalan ke arah dapur menata makanannya di atas meja makan di dapur. Setelah itu dia masuk ke kamarnya meletakkan tas dan kunci mobilnya. Dia kembali keluar berjalan menaiki tangga menuju kamar Alexander.


Jova mengetuk pintu beberapa kali tidak ada jawaban. Dia mencoba membuka pintu kamar Alexander, dan mengintipnya.


"Kosong! kemana dia?"


Jova berniat untuk turun tapi telinganya menangkap suara dari salah satu ruangan. Dia mendekati ruangan itu dan membukanya pelan.


"Wow! ternyata dia punya banyak alat gym dan fitness pribadi!" gumam Jova pelan.


Jova berjalan mendekati Alexander yang sedang menggunakan salah satu alat olah raga.

__ADS_1


"Kau baru datang?" tanya Alexander saat melihat pantulan Jova di cermin yang memenuhi salah satu sisi dinding.


"Iya!" ucap Jova sambil melihat - lihat banyaknya alat gym yang ada di ruangan itu.


"Pantas saja badan mu bagus! hobi mu seperti ini," ucap Jova melirik Alex yang sedang memainkan marble.


"Ini bukan hobi, ini kebutuhan!" ucap Alexander menghentikan aktivitasnya.


"Apa boleh aku mencoba alat - alat disini?"


"Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan!" meletakkan marble yang di genggamnya.


Jova mencoba mengangkat marble yang baru saja di letakkan Alexander.


"Aaaakkkkhhh!!" Jova yang susah payah mengangkat marble.


Alexander tersenyum lucu melihat Jova yang keberatan.


"Tangan mu bisa patah kalau kau langsung mengangkat itu!" ucap Alex memperhatikan tingkah Jovanka. "Mulai dari yang paling kecil!"


"Ooh, kenapa tidak bilang dari tadi!"


"Kau tidak bertanya kan!"


Jova memanyunkan bibirnya. Mengambil marble berukuran paling kecil. Alexander berjalan mendekati Jova. Membenarkan posisi tangan Jova agar tidak keseleo. Mengingat ini pertama kalinya Jova mencoba peralatan fitness.


"Apa kau tidak pernah melakukan olah raga seperti ini?"


"Tidak! Hobi ku memanah, menembak, aku juga suka bela diri"


"Tentu saja! apa kau bisa?"


Alexander hanya tersenyum sinis menanggapi pertanyaan Jovanka.


Jovanka mencoba beberapa alat olah raga lainnya. Alexander memainkan Lat Pull down Machine.



Sesekali matanya melirik Jovanka yang hanya bergonta ganti alat fitness tanpa mengeluarkan keringat.


Alexander menghentikan olah raganya. Matanya mengikuti arah gerak Jovanka yang pindah - pindah alat olah raga. Dia tersenyum kecil dan menggeleng - gelengkan kepalanya melihat tingkah aneh Jovanka.


"Apa kau hanya akan menyentuh alat - alat ku tanpa mencobanya dengan benar?" tanya Alexander berjalan mendekati Jovanka.


"Hehe, aku belum tertarik untuk mencoba dengan serius!" jawab Jovanka turun dari Treadmill. "Apa kau sudah selesai?"


"Hemm", jawab Alexander berjalan keluar di ikuti oleh Jovanka.


"Aku membawakan mu makanan, mandilah aku menunggumu di bawah!"


"Hemm" jawab Alexander cuek.


Alexander mengeringkan keringatnya di kamar sambil memainkan ponselnya. Setelah benar - benar kering dia mandi di bawah guyuran air shower.


Setelah selesai dengan ritual mandi, Alexander mengganti bajunya dengan baju rumahan. Kemudian turun ke bawah menuju meja makan. Tampak Jova sudah duduk di kursi meja makan dengan memainkan ponselnya.


"Hai! ayo makan! aku sudah menghangatkannya," ucap Jova.

__ADS_1


"Apa kau yang memasak ini?" tanya Alexander duduk di depan Jovanka.


"Ibuku, tapi aku juga membantu sedikit - sedikit" Jova tersenyum kaku.


Jova mengambilkan nasi dan lauk untuk Alexander. Alexander tertegun melihat apa yang di lakukan Jovanka.


"Makanlah!" suruh Jova saat melihat Alexander diam saja melihat makanan di depannya. "Apa kau tidak suka makanan ini?"


"Suka. Aku tidak pilih - pilih makanan. Aku juga tidak ada alergi" Alexander menyantap makanan di piringnya dengan lahap.


Jovanka tersenyum melihat Alexander yang lahap dengan makanannya. Mereka makan tanpa berbicara hingga makanan mereka lenyap dari piring masing - masing.


Alexander berdiri berjalan ke arah sofa depan TV. Jova membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor.


Setelah itu dia berjalan ke ruang tengah. Terlihat Alexander menonton berita di TV yang rata - rata menyiarkan kesuksesan Group G di tangan CEO baru.


"Semua berita isinya CEO itu!" ucap Jova duduk di samping Alexander berjarak satu meter.


"Memangnya kenapa?"


"Aku bosan, cuma beritanya saja. Orangnya tidak pernah muncul!"


"Kalau muncul?" tanya Alexander melirik Jovanka.


"Aku ingin menelannya hidup - hidup!" jawab Jova dengan tampang kesal.


"Kenapa?" Alexander mengerutkan keningnya.


"Aku membencinya!"


"Benci?" Alexander melihat raut wajah Jova. "Bukankah bagus, dia bisa menjadi contoh generasi muda untuk berusaha sukses di usia muda"


"Aku yakin dia orang yang sombong dan egois!"


"Kau tidak pernah bertemu dengannya, kenapa kau bisa seyakin itu?"


"Karena dia mengeluarkan produk termahal sampai termurah dan bahkan menyaingi produk ku! Mangkanya perusahaan ku hampir bangkrut karena tidak ada peningkatan omset! Ditambah investor yang mulai menarik sedikit demi sedikit saham mereka. Walaupun tidak semua melakukan itu. Dia kan sudah kaya, bisnisnya ada di mana - mana dan dia menguasai seperempat kekayaan negeri ini. Kenapa masih mengeluarkan produk kecantikan untuk kelas menengah ke bawah. Itu menyaingi produk dari perusahaanku!" jelas Jova panjang lebar.


Alexander hanya manggut - manggut mendengar cerita Jovanka.


"Jadi karena itu kau membencinya?"




Selamat membaca para Reader.


Tunggu up besok ya.



Terima kasih,



Salam Lovallena

__ADS_1


__ADS_2