
Sepanjang perjalanan di dalam ragunan, Alexander tak sedikitpun melepaskan genggamannya. Dia mengajak ngobrol Jova layaknya sepasang kekasih. Bahkan Alexander beberapa kali mengambil foto berdua menggunakan ponselnya dengan pose mesra yang dia ciptakan. Tentu saja kini Jova yang jadi salah tingkah dengan sikap Alexander yang semakin jail menggodanya.
Mereka bergandengan tangan menuju kandang jerapah. Alexander memberi makan wortel pada jerapah, di dampingi petugas kebun binatang tentunya.
"Ayo sayang, sekarang giliran mu" ucap Alexander lembut menyerahkan wortel pada Jovanka.
Jova menerima wortel dari Alexander dengan wajah bersemu merah karena malu dan senang di panggil sayang, walaupun Alexander hanya akting. Di tambah beberapa orang di sekitarnya melihat kedekatan mereka. Alexander tersenyum jahil melihat rona wajah Jova. Dia semakin mencoba menggoda Jova.
Jovanka mengarahkan wortel ke arah jerapah di depannya. Tangan Alexander yang semula menggenggam tangan Jova, berpindah memegang pinggang Jova. Jangan di tanya, Jantung Jova serasa ingin melompat sekarang juga.
Yaa Tuhan.. bisa - bisa aku pingsan di sini, batin Jova.
"Sudah sayang, ayo kita pergi!" Alexander meraih tangan kanan Jova, dan menariknya pelan.
"Romantis sekali sih kalian!" ucap Ibu - Ibu di dekat mereka.
Alexander yang biasanya akan cuek dengan apapun yang di katakan orang lain. Kini dia tersenyum manis ke arah ibu - ibu rempong itu.
Baru kali ini aku lihat dia senyumin omongan orang, batin Jova.
Alexander menggenggam tangan Jova menuju stand minuman.
"Kau mau minum apa sayang?" tanya Alexander tersenyum manis melihat Jova di depannya.
"Ehm, air putih saja" jawab Jovanka gugup di panggil sayang di depan penjual minuman.
"Ok"
Alexander hanya membeli satu botol air putih. Setelah membayar Alexander membuka tutup botol dan memberikannya pada Jova. Jova meminum langsung dari botolnya. Ia minum sampai beberapa teguk air. Karena sejak tangannya di genggam Alexander Jova merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
Alexander mengambil botol minum dari genggaman Jova setelah Jova selesai. Lalu dia meminumnya langsung dari botol yang sama. Jova membelalakkan matanya melihat apa yang di lakukan Alexander.
"Apa kau tidak jijik? itu kan bekas ku?" tanya Jova setelah Alexander menghabiskan air dalam botolnya.
"Kenapa? bukankah semakin romantis?" tanya Alexander tersenyum menggoda pada Jova.
"Kau ini gila!", bisik Jova di telinga Alexander.
"Aku gila karena mengabulkan keinginanmu!" ucap Alexander dengan senyum misterius. "Ayo sayang!" ajak Alexander dengan suara lebih keras.
Alexander kembali meraih tangan Jova, Jova ikut saja kemana pun langkah Alexander. Mata Jova sesekali melihat kanan kiri dan juga tangannya yang di genggam Alexander. Senang dan malu bercampur menjadi satu.
Jam 2 siang mereka baru keluar dari ragunan. Mereka berjalan bersama sampai di parkiran mobilnya. Alexander membuka pintu penumpang untuk Jovanka.
"Makasih" ucap Jova. Ya ampun, manis sekali, batin Jova.
__ADS_1
Alexander berputar membuka pintu kemudi lalu masuk. Dan melajukan mobilnya untuk kembali ke apartemen.
Jovanka tertidur dalam mobil, sehingga hanya kesunyian yang di rasakan Alexander.
Ternyata bibirmu itu bisa diam juga ya, batin Alexander melirik Jova yang tidur di sampingnya. Lucu sekali hari ini membuatmu salah tingkah. Batin Alexander tertawa mengingat mimik wajah Jova selama di ragunan.
Jova terbangun saat mobil Alexander memasuki parkiran apartemen. Alexander turun dari mobilnya. Jovanka masih diam di dalam mobil. Alexander berjalan menjauh dari mobilnya.
"Sial! aku kira dia akan membukakan pintu untukku!" gumam Jova kesal sambil membuka pintu mobilnya.
Dia berlari kecil mengejar Alexander yang akan masuk ke dalam lift.
"Kau ini!" Jova memukul lengan Alexander saat sudah berhasil mengejar Alexander.
"Apa?" tanya Alexander tidak mengerti.
"Kenapa kau meninggalkan ku di mobil?" tanya Jova saat mereka sudah masuk ke dalam lift.
"Kenapa aku harus menunggumu. Memangnya siapa kau?" tanya Alexander menahan senyum.
"Tch!! tadi kau membukakan pintu untukku. Setelah sampai kau malah meninggalkan aku di mobil" ucap Jova bersungut - sungut kesal.
"Hahahaha Hey! bukankah tadi di ragunan kita hanya akting!" Alexander menyentil dahi Jova. Mereka hanya berdua di dalam lift.
"Yaa setidaknya akting sampai di sini kek!" kesal Jova melipat tangan.
Tanpa aba - aba Alexander menggendong Jovanka ala - ala bridal. Jovanka yang kaget tiba - tiba di gendong seperti itu reflek melingkarkan tangannya di leher Alexander.
"Hey! percuma akting di sini tidak ada yang melihat!" kesal Jova memukul pelan dada Alexander.
Alexander hanya tersenyum melihat tingkah Jovanka.
"Tapi kau senang kan di gendong laki - laki tampan seperti ku?" tanya Alexander sambil menekan sandi apartemennya.
"Hiih!" desah Jova kesal. Apa semudah itu otakku di baca olehnya, batin Jovanka.
Alexander masuk ke apartemennya, meletakkan Jova pelan di sofa ruang tengah.
"Kau sudah puas kan?" tanya Alexander duduk di samping Jova. "Atau kau mau lanjut?" goda Alexander.
"Apa maksudmu?" tanya Jova bingung.
"Lanjut akting jadi sepasang kekasih seperti tadi"
"Memangnya siapa yang akan melihat?"
__ADS_1
"Tidak perlu ada yang melihat, cukup kita saja yang merasakan" Alexander tersenyum menggoda Jova.
"Merasakan apa??" Jova semakin bingung.
"Seperti ini" Alexander mendekatkan wajahnya pada Jova.
Jova yang menyadari pergerakan kepala Alexander yang semakin dekat dengan wajahnya membuat jantungnya berdetak sangat kencang.
Apa dia akan mencium ku? batin Jova. Jova sedikit memiringkan wajahnya takut, dia menutup mata nya, seolah siap dan mau jika di cium Alexander.
Setelah beberapa saat tidak ada apapun yang mendarat di wajahnya, Jova membuka matanya. Matanya menangkap wajah Alexander yang tergelak melihat tingkahnya.
"Hahahaha jadi benar kau mau kita melanjutkan akting?" Alexander tergelak melihat Jova yang merah padam karena malu dan kesal.
"Kau selalu saja menyebalkan!" Jova memukul keras lengan Alexander.
"Kalau kau mau aku mencium mu tidak perlu akting. Kau tinggal bilang saja padaku" Alexander tergelak.
Jova berdiri dengan kesal, berjalan cepat ke kamarnya. Dia membanting pintu kamarnya keras. Alexander tertawa melihat tingkah Jova.
Di dalam kamar Jova menjatuhkan tubuhnya id ranjang menghadap langit - langit kamarnya.
"Bodoh kau Jova! mana mungkin laki - laki seperti Alexander mau mencium mu!" gumam Jova kesal.
"Lagian kenapa juga aku berharap dia benar - benar mencium ku. Kalau dia mencium ku, aku pasti malu sendiri. Karena akan jadi ciuman pertama ku" Jova kesal tidak karuan.
"Dari pada aku menahan kesal, mumpung aku masih tinggal di sini aku mau mencoba alat fitness milik Alexander"
Jova bangkit sari tempat tidur lalu mengganti bajunya dan keluar dari kamarnya. Dia sudah tidak melihat Alexander di ruang tengah. Dia berjalan menaiki tangga. Masuk ke ruang fitness milik Alexander.
Jova menggunakan alat yang bisa dia gunakan. Karena banyak alat yang hanya bisa dia lihat tanpa tau cara menggunakannya.
Alexander keluar dari kamarnya, berjalan mendekati tangga. Tapi telinganya menangkap suara yang berasal dari ruang fitness. Dia berjalan mendekati pintu ruang fitness. Memegang handle pintu, mendekatkan telinganya ke pintu.
Terima kasih, untuk teman - teman yang masih setia membaca novel pertama author ini.
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar yaa..
Dan terima kasih bagi yang memberikan Vote, semoga rejekinya di lancarkan. Aamiin..
__ADS_1
Salam Lovallena.