
Hari - hari berlalu dengan begitu indah bagi dua sejoli yang sedang jatuh cinta itu. Jova sudah kembali masuk kuliah di semester 8, dan dia sedang di sibukkan dengan persiapan skripsi saat ini.
"Hai, Ndi!" sapa Jova pada Indira di kantin kampus.
"Halo Jov!" jawab Indira.
"Bayu dimana ya? lama sekali aku tidak melihatnya!"
"Ada! dia kuliah kok! hanya saja selalu pulang lebih cepat!"
"Oh ya!"
"Iya!" jawab Indira, "kau tidak mungkin tidak tau kan Jov, kalau sebenarnya Bayu punya rasa sama kamu?"
"Iya, aku tau!"
"Dan semenjak kau bersama Pak Alex, dia jadi sedikit menjauh darimu bahkan dariku. Mungkin itu cara dia untuk melupakanmu"
"Aku ingin bertemu dengannya Ndi! aku ingin meminta maaf! karena aku memang tidak bisa membohongi perasaanku!"
"Aku tidak pernah menyalahkan kamu Jov!" ucapnya, "dari pada kau menerimanya tapi tidak serius. Dia pasti akan lebih sakit hati ujung - ujungnya"
"Itulah sebabnya aku tidak pernah memberinya harapan Ndi. Aku menyayangi Bayu hanya sebagi sahabat terbaikku saja. Sama seperti aku menyayangimu"
"Kau sudah benar Jov!" Indira menepuk pelan pundak Jova.
"Oh ya, bagaimana dengan skripsi mu?"
"Belum ada ide lagi!" ucap Indira malas, "kalau kau?"
"Sepertinya akan aku pasrahkan pada Pak Alex!" ucap Jova dengan senyum mengembang.
"Hahaha sialan kau!" umpat Indira, "kau sih enak, calon suamimu Dosen mu sendiri!"
"Hehehe, semenjak jatuh cinta aku malas memikirkan hal seperti ini!"
"Untung kau tidak punya cita - cita Jov! haha!"
"Enak saja! punya lah!"
"Aku tidak pernah mendengar mu ingin menjadi apa suatu hari nanti"
"Aku ingin menjadi pengangguran kaya raya!" ucap Jova dengan senyum tidak berdosa nya.
Glodak!
"Hah!" Indira menganga tak percaya menatap Jova, "itu bukan cita - citamu dodol! itu cita - cita seluruh umat!"
"Hahahaha! iya juga ya!"
"Setelah skripsi mu selesai, keinginanmu juga pasti terwujud!"
"Oh ya!"
"Setelah skripsi kau kan menikah! dan suamimu itu pengusaha kaya raya. Dan kau pasti akan jadi pengangguran kaya raya!"
"Iya juga ya!" Jova tertegun, "kau tau Ndi! sampai sekarang aku merasa masih tak percaya, kalau Dosen yang ku benci itu sekarang calon suamiku. Dan aku masih tidak percaya kalau dia adalah anak seorang Haidar Gibran"
"Kalau jodoh tidak akan kemana Jova, dan tidak akan tertukar! kita ini kan tulang rusuk laki - laki yang hilang. Pasti kembali ke tempatnya!"
"Iya Ndi! semoga kami berjodoh dunia akhirat!"
"Aamiin!"
"Bagaimana usahamu mendekati Rakha?"
"Hemm 10%!"
"10%?" pekik Jova.
"Iya! kau taulah seperti apa galaknya Rakha padaku!" ucap Indira malas, "bahkan sampai sekarang aku belum punya nomor ponselnya!"
"Kau butuh bantuan ku, untuk nomor ponselnya?"
"Tidak Jov! aku akan mendapatkannya dengan caraku!" ucap Indira tersenyum manis pada Jova.
"Kau yakin bisa?"
"Yakin!" ucap Indira yakin.
"Good! ya sudah Ndi, aku mau makan siang dengan Dosen tampanku!"
"Ok Jov! bye!"
"Bye!" ucap Jova berjalan meninggalkan kursinya.
__ADS_1
Jova berjalan ke arah parkiran, dari jauh Jova melihat Bayu masuk ke mobilnya.
"Itukan Bayu!" gumam Jova, "Baay!!!" teriak Jova.
Tapi Bayu sudah menutup pintu mobilnya dan memundurkan mobilnya meninggalkan tempatnya memarkir mobil.
"Bay!" teriak Jova berlari kecil ke arah mobil Bayu. Tapi mobil Bayu sudah keluar dari area parkir.
"Bay! apa kau menghindari ku?" gumam Jova setelah berhenti dari lari kecilnya, "maafkan aku Bay"
Akhirnya Jova memilih untuk masuk ke mobilnya yang tidak jauh dari posisinya berhenti. Jova melajukan mobilnya meninggalkan kampus.
"Maafkan aku, Jova! sungguh aku tidak sanggup jika harus melihat senyummu! karena kau pasti akan tersenyum padaku!" gumam Bayu mengemudikan mobilnya.
# # # # # #
Jova memarkirkan mobilnya di parkiran khusus tamu perusahaan Group G. Jova turun dari mobilnya, berjalan ke arah pintu lobby. Dari kejauhan Jova melihat wanita berpakaian seksi sedang berbincang dengan security penjaga pintu lobby. Terlihat terjadi perdebatan di antara mereka.
"Siapa itu?" gumam Jova.
Jova terus berjalan, jaraknya dengan pintu lobby semakin dekat. Hingga dia tau siapa wanita yang tengah berdiri membelakanginya itu.
Hemm, ternyata jal*ng! batin Jova.
Jova berjalan ke meja receptionist, membisikkan sesuatu pada dua receptionist itu. Jova langsung berjalan cepat masuk ke lobby setelah receptionist itu mengangguk mengerti. Jova masuk ke dalam lift khusus Presdir dengan buru - buru.
"Sayang!" sapa Jova pada Alexander setelah membuka pintu ruangan CEO.
"Hai Sayang!" jawab Alex merentangkan tangannya.
Jova menutup pintu, dan berjalan ke arah Alexander, meletakkan tasnya di kursi tamu sambil melepas kancing blezer nya dan melemparnya ke lantai dekat kursi Alexander. Menyisakan tank top crop tali kecil Jova yang berwarna pink dan rok hitamnya. Jova langsung duduk di pangkuan Alex dengan gaya manjanya. Melingkarkan tangan kanannya erat di leher Alex. Alex sedikit merasa aneh dengan tingkah Jova, tapi dia sama sekali tidak keberatan dan memeluk erat pinggang Jova.
"Sayang! kita makan siang di mana?" tanya Jova.
"Kamu mau nya dimana?" tanya Alex balik sambil membelai rambut Jova yang tergerai.
"Emm.. di resto Jepang favorit ku bagaimana?"
"Kenapa tidak, Sayang!" jawab Alex.
Jova mencium bibir Alexander, Alexander gelagapan dengan ciuman mendadak Jova. Jova samar - samar mendengar keributan di luar. Jova semakin mengeratkan rangkulannya dan ******* bibir Alex dengan agresif. Alex mengeratkan tangannya di pinggang ramping Jova.
Braakk!!
Pintu terbuka dengan keras, seketika Alex dan Jova melepas pagutan bibir mereka bersamaan. Alex langsung melihat ke arah pintu. Terlihat Lisa dan dua security yang seketika menunduk di belakang seorang wanita yang berpakaian super mini.
Dengan cepat Alexander menarik jasnya di sandaran kursinya, menutupi punggung Jova. Jova tak sedikitpun menoleh ke arah pintu, Jova menghadapkan badannya sepenuhnya ke arah Alex. Kedua tangannya melingkar di leher Alex, begitu juga kepalanya yang seketika di sandarkan di lengannya dan menempel di leher kiri Alex.
Sebenarnya Jova malu memakai tank top crop yang hanya menutupi bagian dadanya di hadapan karyawan Alexander dengan posisi seperti itu di kantor. Tapi demi menjatuhkan kepercayaan diri Carissa, Jova rela melakukan apa saja. Ya! wanita berpakaian mini dan ketat itu tak lain adalah Carissa Birdella.
Carissa menatap tajam pada Jova yang memunggunginya. Nafasnya menggebu, menahan kesal melihat blezer berwarna pink tua di lantai.
"Kalian kembali bekerja!" ucap tegas Alexander menahan amarahnya.
"Baik, Tuan!" ucap mereka bertiga serempak, tanpa melihat Tuannya.
Lisa menutup pintu ruangan CEO, dan kembali duduk di kursinya dengan jantung berdebar, karena tidak berhasil menahan Carissa.
Di dalam ruangan CEO, Carissa menyilangkan tangannya menghadap Jova dan Alexander yang masih di kursinya. Alexander tak kalah tajam menatap Carissa. Jova masih menyembunyikan wajahnya di tengkuk leher Alex.
"Dasar gadis sok polos! katanya tidak pernah pacaran! kau lihat kelakuanmu!" ucap Carissa pada Jova dengan sinisnya.
Jova masih diam, dia hanya mendengarkan kalimat Carissa. Alexander masih melihat gerak gerik Carissa.
Jadi ini yang membuat Jova bertingkah sedikit berlebihan, batin Alexander.
"Mau apa kau kemari!" tanya Alex pada Carissa, "bukankah aku sudah pernah bilang, jangan injakan kaki mu di ruangan ini lagi!" ucap Alex tegas.
"Aku hanya ingin membuka matamu Alexander!" ucap Carissa, "kau lihat kelakuan gadis di pangkuan mu itu!" menunjuk Jova dengan dagunya, "apa kau yakin kalau dia masih perawan seperti yang di banggakan keluargamu! sampai - sampai Papamu menolak memberiku izin untuk naik ke lantai ini!" ucap Carissa dengan kesal.
Nafas Jova mulai berat, menahan kesal mendengar kalimat kotor Carissa. Jova mengeratkan pelukannya di leher Alexander. Alex tau apa yang di rasakan Jova, dia mengepalkan tangannya. Tatapan matanya mengisyaratkan dia menahan amarah yang luar biasa.
"Kenapa kau diam saja Jovanka?" tanya Carissa, "apa kau mengiyakan kata - kataku, kalau sebenarnya kau tak lebih dari seorang jal*ng yang merayu laki - laki kaya seperti Alexander!"
Kali ini Jova mengangkat kepalanya, menarik jas mahal Alexander yang menutupi punggungnya. Dan meletakkan jas itu di atas meja. Jova berdiri, berjalan mendekati Carissa yang berdiri dengan angkuhnya.
"Apa kau ingin bukti aku masih perawan atau tidak!" tanya Jova sinis.
"Haha! apa kau yakin kau bisa membuktikan?" tanya Carissa sinis, "kau lihat dirimu! yang di agungkan berasal dari keluarga baik - baik. Tapi ternyata sama saja!"
"Atas dasar apa kau mengatai ku seperti itu!"
"Apa ada gadis baik - baik hanya memakai beginian di pangkuan laki - laki yang belum sah menjadi suaminya!" ucap Carissa merasa menang.
Jova menyadari Alexander memang belum menjadi suaminya. Dia hanya menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Kau lihat kan Alexander! dia tidak bisa menjawab! sebaiknya kau tinggalkan dia! aku yakin gadis ini sudah tidak peraw.."
PLAAKKK!!
"Aakkh!!" pekik Carissa.
Tamparan keras Jova menghentikan kalimat Carissa.
"Beraninya kau menamparku bocah sialan!" ucap Carissa kesal, "kau lihat kan Alexander, apa pantas gadis bar - bar seperti ini mendampingi mu?" Carissa menghadap Alexander dengan memegangi pipinya yang terasa panas.
"Lalu, apa kau pikir jal*ng seperti mu pantas mendampingi seorang Alexander!" tanya Jova dengan nada tinggi.
"Beraninya kau mengatai ku jal*ng!"
"Lalu apa julukan yang pantas untukmu!"
Carissa mengangkat tangannya, hendak menjambak rambut Jova, tapi Jova lebih dulu mendorong pundak Carissa hingga Carissa jatuh terduduk.
"Aauwh" pekik Carissa lagi.
Alexander tersenyum sinis melihat Carissa jatuh. Dia hanya melihat santai pertengkaran dua wanita beda usia itu. Karena dia yakin, kalau sekedar Carissa saja bukan batu sandungan untuk seorang Jova. Jova bukan gadis manja yang mudah menyerah.
"Alexander! apa pantas calon istrimu menganiaya orang!"
Alexander hanya mengangkat sudut bibirnya.
"Diam kau!" bentak Jova.
"Sebaiknya kau pergi dari sini Carissa! apapun yang kau lakukan, tidak akan membuatku merubah apa yang sudah aku putuskan!" ucap Alex dengan nada dingin, "kecuali kau ingin babak belur di sini, silahkan saja. Kau tidak mengenal dengan baik siapa lawan mu!"
Carissa berdiri, menatap tajam pada Jova dan Alexander bergantian. Carissa membuang nafasnya kasar. Lalu membuka pintu dengan kasar dan menutupnya keras.
Awas kau Jovanka! batin Carissa berjalan menuju lift.
Carissa yang semula ingin menggoda Alex dengan tubuhnya, justru kalah dengan Jova yang sudah lebih dulu di pangkuan Alexander. Dengan baju yang sudah tidak lengkap.
Di ruangan Alexander, Jova mengambil ponselnya di dalam tas dan mendial satu nomor.
Alexander berdiri memakai jasnya, dan mengambil jaket Jova di lantai, lalu berjalan mendekati Jova yang berdiri menghadap jendela kaca menunggu sambungan telfon.
"Halo Jova? ada apa?"
"Ayah! Jova mau pernikahan Jova dan Alexander di percepat!"
"Apa?" ucap Ayah kaget, "kenapa?"
"Pokoknya Jova mau pernikahan kami di percepat! kalau perlu hari ini"
"Tapi kenapa Sayang? kalian tidak melakukan kesalahan kan?" tanya Ayah panik.
"Ayah jangan bertanya tentang hal itu, sama sekali tidak ada hubungannya!"
"Iya! Iya! Ayah akan menemui Tuan Haidar"
"Terima kasih, Ayah"
"Iya, Sayang"
Jova mematikan panggilannya, lalu menghadap Alexander di sampingnya yang menunggunya bicara dengan sang Ayah.
Jova menatap mata Alexander yang menatapnya balik dengan lembut. Air mata Jova meluncur bebas. Lalu memeluk tubuh kekar Alexander.
"Apa kau juga meragukan ku seperti Carissa?" tanya Jova pelan.
Alexander tersenyum, mengecup kepala Jova dan mengusapnya pelan.
"Sama sekali tidak, Sayang!" ucap Alex yakin.
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja!" ucap Alexander santai, "Ayo! kita makan siang di rumah Papa saja!"
Jova menganggukkan ajakan Alexander. Alexander memakaikan blezer Jova, dan mengancingkan kembali. Mereka meninggalkan kantor yang sebagian karyawannya sudah beristirahat.
OTW nikah nih! hehehe
Spesial sesuai request, panjang banget BAB ini. sampai 1770 kata loh teman - teman.
Jangan lupa tinggalkan Like, Komentar dan sebagainya.
Terima kasih yang sudah memberikan dukungan untuk novel receh Author.
__ADS_1
Salam Lovallena.