I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Alexander Gibran?


__ADS_3

Alexander menuruni tangga dengan pakaian casual yang membuatnya terlihat keren pagi ini. Dia melihat Jova yang sedang menata sarapan di atas meja makan.


Jova melihat Alexander yang berdiri tidak jauh dari meja makan, sedang menatap menu sarapan yang di pesannya.


Dia tampan sekali pagi ini, batin Jova.


"Ayo makan!" ucap Jova, menyadarkan dirinya dari pemandangan menakjubkan di depan matanya.


"Hemm" jawab Alexander.


Mereka sarapan bersama tanpa banyak bicara.


"Kau sudah siap?" tanya Alexander setelah selesai menyantap sarapannya.


"Tentu saja!" jawab Jova girang.


"Ayo!" Alexander berdiri, menengadahkan tangannya untuk di sambut Jova.


Jova menatap telapak tangan Alexander dengan gugup. Tak butuh berfikir lama, dia langsung meraih tangan kiri Alexander. Mereka berjalan bergandengan keluar apartemen menuju parkiran.


Alexander membuka pintu mobil untuk Jova. Setelah Jova masuk dia menutupnya pelan. Lalu memutari mobil masuk ke pintu kemudi. Alexander melajukan mobilnya meninggalkan parkiran apartemen mereka. Jova terlihat sangat menikmati perjalanan mereka.


"Kita mau kemana?" tanya Jova melihat Alexander.


Aku semakin tergila - gila melihatmu setampan ini. Aku harus mendapatkan cintamu sepenuhnya Alexander, batin Jova.


Alexander hanya menoleh pada Jova dengan senyum manisnya. Jova melihatnya dengan memanyunkan bibirnya. Sampai akhirnya Mobil Alexander masuk ke area Bandara.


"Untuk apa kita ke Bandara?" tanya Jova penasaran.


Lagi - lagi Alexander hanya menoleh sekilas pada Jova dengan senyum misteriusnya.


"Kau mau menculik ku!" tanya Jova panik.


"Iya!" jawab Alexander santai.


"Apa!" Jova tersentak, "aku akan meminta ayah menjemput ku sebelum kau menculik ku!" Jova mengeluarkan ponselnya, mendial nomor sang ayah.


Alexander hanya tersenyum dengan tingkah Jova.


"Sial! nomor ayah tidak aktif!" Jova panik.


"Ah! ibu juga tidak aktif!"


"Tristan cepat angkat!" Jova kesal sendiri. "Ah Tristan kan sekolah!"


Mobil Alexander sudah berhenti di parkiran Bandara dan tidak di sadari Jova. Jova masih sibuk mencari nomor yang bisa dia hubungi. Alexander turun dari mobilnya, membuka pintu Jova.


"Ayo turun!" ucap Jova pelan.


"Tidak mau!"

__ADS_1


Alexander menundukkan kepalanya, mensejajarkan dengan kepala Jova.


"Sudahlah, aku tidak akan menculik mu. Ayo turun" ucap Alexander lembut.


"Apa jaminannya!" tanya Jova cemberut menyilangkan tangannya di dada tanpa melihat sedikitpun ke arah Alexander.


Alexander semakin tidak kuat menahan diri untuk tidak gemas dengan tingkah Jova. Alexander menatap lekat wajah Jova, menyunggingkan senyum manisnya.


Tanpa menjawab pertanyaan Jova, Alexander mendekatkan wajahnya pada Jova, mengecup sekilas bibir Jova. Jova tersentak kaget, tapi dia hanya diam tanpa protes ataupun marah. Jantungnya mendadak berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.


Alexander memberi jarak antara bibirnya dan bibir Jova. Jarak bibir mereka hanya 2 cm, sehingga saling merasakan nafas satu sama lain. Jantung Jova semakin berdegup kencang. Lalu ia mengarahkan pandangannya menatap mata Alexander yang menatap balik dengan tatapan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


Jova hanyut dalam tatapan lembut seorang Alexander. Rasanya dia ingin di cium lagi. Kalau perlu dia sendiri yang mencium Alexander. Tapi gengsinya muncul begitu saja.


Tangan kiri Alexander meraih leher bawah telinga kanan Jova. Tangan kanannya bertumpu pada sandaran kepala kursi Jova.


"Aku akan menjagamu, aku tidak akan membiarkan mu dalam masalah sekecil apapun. Aku hanya ingin kau tau sesuatu" ucap Alexander lembut. "Ikutlah dengan ku, sayang".


Seperti terhipnotis, Jova langsung mengangguk pelan. Alexander tersenyum, lalu mengusap lembut rambut Jova, menyelipkan rambut Jova ke belakang telinga. Kemudian mencium dahi Jova dalam. Seolah menyalurkan perasaan cinta yang masih di sembunyikan.


Alexander mengeluarkan kepalanya, di susul Jova yang mengeluarkan kaki kirinya. Setelah Jova keluar, Alexander menutup pintu pelan. Tangan kirinya meraih tangan kanan Jova.


Mereka berjalan masuk menuju Bandara. Di sepanjang perjalanan mereka, Alexander beberapa kali mencium punggung tangan Jova. Jova sampai salah tingkah, karena orang - orang di sekitar memperhatikan gerak gerik mereka yang terlihat romantis.


Sampai mata Jova menangkap sebuah pesawat pribadi berlogo G.



Jova di penuhi dengan pertanyaan yang masih dia simpan. Dia hanya mengikuti langkah kaki Alexander sekarang.


Alexander mendudukkan Jova di kursi, dan memasangkan seet belt. Lalu dia duduk di kursinya dan memasang seat belt nya sendiri. Mereka hanya berdua.


Seorang pramugari menginformasikan bahwa pesawat akan segera lepas landas.


Setelah pesawat lepas landas, Alexander membuka seat belt nya. Lalu ke kursi Jova dan membuka seat belt Jova. Jova hanya tertegun dengan semua yang di lakukan Alexander hari ini.


Alexander menarik tangan Jova untuk berdiri. Alexander duduk di kursi yang tadi di duduki Jova. Lalu menarik pinggang Jova untuk duduk di pangkuannya. Jova yang seolah pikirannya sedang tidak penuh, hanya mengikuti saja apa yang di perintahkan Alexander padanya.


Jova duduk di pangkuan Alexander menatap luar jendela pesawat. Tangan kiri Alexander memegang pinggang Jova. Tangan kanannya meraih tangan kanan Jova lalu menciumnya sekilas. Jova memperhatikan semua yang di lakukan Alexander padanya. Dia terlihat sangat menikmati perlakuan lembut Alexander padanya.


"Aku tau otakmu ini di penuhi banyak pertanyaan" ucap Alexander menunjuk dahi Jova dengan jari telunjuknya.


Jova menepis pelan tangan Alexander. Lalu menatap mata Alexander, mencari jawaban apakah Alexander akan serius jika dia bertanya.


"Tanyalah" Alexander tersenyum manis pada Jova.


"Apa ini pesawat milik keluargamu?" tanya Jova menatap serius mata Alexander.


Alexander menyandarkan kepalan di sandaran kursi, siku tangan kanannya bertumpu pada pegangan kursi. Dia menyunggingkan senyum manis pada Jova.


"Apa kamu tidak lihat logo di badan pesawat pribadi ini?"

__ADS_1


"Group G?" tanya Jova yang di anggukkan oleh Alexander.


"Kau menyewa?" tanya Jova menatap Alexander.


"Menurutmu?"


"Aku tau di belakang nama Alexander masih ada huruf G. Apa itu sama seperti logo pesawat ini?" tanya Jova penasaran. Jantungnya berdetak kencang menunggu jawaban Alexander.


Alexander hanya tergelak, yang membuat Jova kesal dan memukul pelan dada Alexander.


"Jawab!" ucap Jova kesal.


"Menurutmu apa aku pantas menjadi anak seorang Haidar Gibran?" tanya Alexander memainkan jemarinya di pipi kanan Jova.


"Bisa saja kan? Kau terlihat sangat kaya. Selera mu juga kelas atas" jawab Jova, matanya menyusuri setiap inchi wajah Alexander yang menurutnya semakin tampan di jarak sedekat ini.


Alexander tergelak. Wajahnya menunjukkan ekspresi datar.


"Jawab Alexander!" kesal Jova. "Apa iya nama lengkap mu Alexander Gibran? Apa mungkin kau CEO yang menyebalkan itu? Kalau iya, brarti kau anak si Haidar Gibran itu"


"Jangan membicarakan orang yang belum kau kenal" ucap Alexander mengusap bibir Jova dengan ibu jari tangan kanannya. Matanya fokus menatap bibir yang seolah menjadi candunya, sejak kecupan pertama tadi.


"Maksudnya?" tanya Jova bingung.


"Kau tidak mengenal baik sosok Haidar Gibran dan keluarganya kan? kau hanya mendengar tentang mereka berdasarkan katanya dan artikel tentang kejayaan Group G. Kau tidak tau seperti apa mereka sebenarnya. Itu artinya kau belum mengenal mereka. Bisa saja CEO itu melakukan hal yang kau benci untuk menyelamatkan perusahaan kecil seperti perusahaan ayahmu" jelas Alexander.


"Iya juga sih" ucap Jova pelan.


Alexander menatap lekat wajah Jova, dia merasa ada yang menjalar di hatinya setiap menatap wajah Jova denan lekat.


"Jova?" panggil lembut Alexander.


"Hemm?" jawab Jova menoleh pada wajah Alexander di samping wajahnya.


"Boleh aku mencium mu?" tanya Alexander sambil mengusap lembut bibir Jova.


Seketika jantung Jova berdetak dengan sangat kencang. Matanya melihat manik mata Alexander yang hanya fokus pada bibirnya. Jova reflek mengangguk. Alexander tersenyum tipis.




Eh eh eh Alexander belum ngomong cinta loh, main cium aja.


Hehe tunggu up selanjutnya ya teman - teman.



Terima kasih,


__ADS_1


Salam Lovallena.


__ADS_2