
Alexander mengemudikan mobilnya mengelilingi jalan raya yang sepi, di tengah gelap malam untuk mencari penjual gado - gado dengan Jova yang tersenyum ceria.
Hingga satu jam berlalu, mereka tak kunjung menemukan penjual gado - gado yang menjadi tujuan utama mereka keluar tengah malam.
"Sayang! kamu tau sendiri kan?" tanya Alexander melirik Jova di sampingnya, "tidak ada penjual gado - gado tengah malam seperti ini!"
"Pokoknya harus ketemu!" kekeh Jova, "kalau sampai tidak ketemu aku tidak mau tidur satu kamar dengan mu selama satu bulan!" ucap Jova menyilangkan tangan di dadanya menahan kesal.
"What!" pekik Alexander, "bukankah selama ini semakin bertambah usia kehamilan, kamu semakin menempel kepadaku?" tanya Alexander, "yakin tidak mau tidur satu kamar dengan satu bulan?" goda Alexander dengan senyum jahil.
"Hormon kehamilan mempengaruhi semuanya!" ucap Jova, "jika hari ini aku menempel bisa saja besok aku ogah!" jawab Jova.
"Apa!" pekik Alex, "memangnya bisa seperti itu?" tanya Alex yang seketika raut wajahnya berubah jadi panik.
"Kenapa tidak?" ucap Jova, "kamu tanya saja sama Mama dan Ibu!" lanjut Jova cuek.
Wah gawat! batin Alex.
Alex mulai memikirkan segala cara untuk bisa menemukan ide brilian. Sampai akhirnya senyum sinisnya tersungging begitu saja.
"Sayang! aku ke toilet sebentar ya! kamu tunggu di mobil saja. Aku sudah tidak tahan!" ucap Alex setelah memarkirkan mobilnya di rest area sebuah pom bensin.
"Ok! Sayang! jangan lama - lama!" jawab Jova.
"Iya!" jawab Alex sambil membuka pintu mobilnya.
Beberapa menit berlalu, Alex kembali ke mobilnya. Dan Jova masih terlihat menunggu Alex dengan memainkan ponselnya.
"Ayo, Sayang! aku sudah lapar!" ucap Jova manja.
"Iya, Sayang! sabar!"
Alexander melajukan mobilnya dengan sangat pelan, untuk mengulur waktu.
"Sayang! baru kali ini kamu mengemudikan mobil sport selambat ini!" ucap Jova merasa ada yang aneh.
"Supaya tidak terlewat kalau ada penjual gado - gado, Sayang!" ucap Alexander, "kita harus jeli, karena dari tadi kita sudah muter - muter tapi tidak juga menemukan penjual gado - gado!"
"Huff!" Jova membuang nafasnya malas, "pokoknya harus dapat malam ini! sampai subuh pun tidak masalah! aku akan membuka mataku lebar!" ucap Jova, "kalau sampai besok pagi tidak dapat, brarti kamu tidak dapat jatah selama satu bulan!" lanjut Jova memanyunkan bibirnya.
Seketika Alexander menelan ludahnya dengan sangat susah. Dengan sangat lambat Alexander mengemudikan mobilnya menuju jalan Supriyadi. Satu - satunya jalan yang belum di lewati.
30 menit kemudian, mobil Alex mulai memasuki jalan Supriyadi. Dengan jantung berdebar, Alexander mengemudikan mobilnya menyusuri jalan Supriyadi.
Segudang rasa syukur di ucapkan Alexander dalam hatinya. Karena berhasil menemukan warung bertulis sedia gado - gado. Tapi dia masih berpura - pura tidak membaca tulisan itu.
"Aaahh! akhirnya!" celetuk Jova, "itu Sayang! penjual gado - gado!" ucap Jova menunjuk pedagang kecil yang menjual gado - gado di atas meja panjang dan satu kursi panjang di depannya.
"Wah! Tuhan merestui aku untuk tetap mendapat jatah darimu Sayang!" ucap Alex tergelak.
"Baguslah, aku juga sedang tergila - gila dengan mu Sayang!" celoteh Jova.
"Haha!" gelak Alexander.
Alexander keluar dari mobilnya, lalu membuka pintu untuk Jova. Jova turun dan langsung duduk di depan meja penjual gado - gado.
"Pak, gado - gado dua! makan di sini saja!" ucap Jova spontan.
"Baik, Nona!" ucap sang penjual.
Wah! laki - laki ini terlatih juga! ucap Alex dalam hati, melihat sang penjual yang tampak terbiasa memainkan pisau dan bahan - bahan di depannya.
__ADS_1
Setelah gado - gado siap di atas meja depan Jova, Jova memakannya dengan sangat lahap. Bahkan Alex baru memakan setengah, Jova sudah memesan satu porsi lagi.
"Wah! sepertinya baby twin Daddy kelaparan!" ucap Alex mengusap perut Jova.
"Karena Daddy kelamaan menemukan penjual gado - gado!" celetuk Jova, membuat Alex menelan ludahnya. "Coba keluar dari apartemen tadi kita langsung kesini, pasti baby twin tidak kelaparan!" lanjutnya, membuat Alex membuang nafasnya panjang.
"Maafkan Daddy ya Sayang!" ucap Alex mengalah saja dari ibu hamil yang berada di fase cerewet. "Daddy bukan peramal, yang bisa meramal keberadaan penjual gado - gado yang buka di tengah malam begini!" ucap Alex lembut dengan nada sedikit menyindir.
"Kenapa nada bicara mu seperti itu, Sayang!" tanya Jova menatap Alex dengan memanyunkan bibirnya.
"Apa aku salah bicara?" tanya Alex dengan sangat hati - hati.
"Kamu tadi menyindirku kan!" tanya Jova menahan kesal.
"Tidak, Sayang!" jawab Alex cepat. "Serius!" ucap Alex menggenggam tangan Jova menciumnya beberapa kali, berharap kemarahan Jova tidak berlanjut.
"Yakin?" tanya Jova tegas.
"Iya, Istriku Sayang!" jawab Alex dengan senyum serenyah mungkin.
"Cium!" ucap Jova tanpa malu pada sang penjual.
Tak butuh berfikir dua kali, Alex segera mencium kening, hidung, kedua pipi, dagu terakhir kecupan singkat di bibir Jova. Lalu menyunggingkan senyum manisnya.
Kenapa hari ini dia terlihat aneh sekali. Jauh lebih cerewet dari biasanya! batin Alex.
"Sayang! aku sudah kenyang!"
"Mau bawa pulang tidak?" tanya Alex dengan sangat hati - hati.
"Kamu mau aku jadi super gendut?" tanya Jova membulatkan matanya. Seketika Alex menelan ludahnya.
Jova menyunggingkan senyum manisnya memeluk lengan Alexander.
"Kita pulang sekarang?"
"Iya!" Jova mengangguk pelan.
Alex mengeluarkan uang 100 ribuan sebanyak lima lembar.
"Kebanyakan, Tuan!" ucap sang penjual.
"Ambil saja!" jawab Alex berlalu dari penjual gado - gado itu.
Alexander mengemudikan mobilnya menuju apartemennya.
Akhirnya sesuai rencana! batin Alex sepanjang perjalanan pulang.
Flashback On . . .
Alexander berdiri di depan toilet, sambil celingak - celinguk untuk memastikan Jova tidak turun dari mobil. Alex mendial satu nomor di ponselnya.
"Halo boy! ada apa?" terdengar jawaban malas dari sebrang.
"Ma! bantu Alexander secepatnya!" ucap Alexander dengan nada panik.
"Ada apa, Sayang!" jawab Mama yang seketika duduk di ikuti Papa yang ikut terbangun oleh suara panik istrinya. "Kamu kenapa, dan dimana?"
"Ma.. dengarkan Alexander!" ucapnya, "Jova ngidam ingin makan gado - gado, Alexander sudah berkeliling satu jam lebih tak kunjung menemukan!"
"Ya ampun, Mama kira ada apa!" jawab Mama yang kembali malas, Papa ikut membuang nafas mendengar percakapan istri dan putranya itu. "Usaha dong!"
__ADS_1
"Ini Alexander sedang berusaha!"
"Lalu kenapa telpon Mama?" sahut Mama yang tidak sabar.
"Dengarkan Alexander dulu Ma," ucapnya, "suruh para pelayan bekerja cepat, dan dirikan warung gado - gado dadakan di jalan Supriyadi sekarang juga!" ucap Alex tegas, "karena hanya jalan itu yang belum Alexander lewati. Jalanan itu hanya ada penjual sate!" lanjutnya, "please Ma! bantu Alexander!" mohon Alexander.
"Kasian para pelayan, pasti mereka sudah pada tidur!"
"Alexander yakin! Mama akan lebih kasian kalau Alexander tidak di beri jatah Jova selama satu bulan!" ucap Alex dengan tidak tau malunya. "Karena Alexander pasti gila!"
"Hahahaha!" Papa dan Mama tergelak dengan ucapan putranya itu.
"Rasain!" sahut Papa dengan gelak tawanya.
"Anggap saja puasa!" goda Mama
"Ma! Pa! Alexander sedang serius!" ucapnya, "Alexander mohon, bantu Alexander sekarang juga! please!"
"Iya!" jawab Mama yang masih menahan tawa di sudut bibirnya. "Ya, sudah tutup telponnya! Mama akan atur semuanya!" ucap Mama.
"Yes!" pekik Alexander, "thank you so much, Mom!" ucap Alexander dengan girangnya.
"Iyaa!" jawab Mama sambil mematikan ponselnya.
Tak butuh waktu lama, dengan bantuan seribu tangan, berdirilah warung gado - gado dadakan. Dengan membayar seorang penjual sate sebagai penjual gado - gado untuk sementara.
Papa dan Mama yang memantau Jova dan Alex dari dalam mobil yang tidak jauh dari mereka. Papa dan Mama cekikikan melihat putranya yang dingin itu tunduk di depan istrinya yang sedang hamil.
"Salah sendiri, bikin istrinya hamil!" ucap Papa.
"Kalau tidak menghamili istrinya, dari mana kita dapat cucu!" ucap Mama dengan nada tinggi, "Papa ini kurang ajar ya!" ucap Mama yang tiba - tiba emosinya memuncak.
Papa membulatkan matanya menatap istrinya yang seolah muncul dua tanduk setan di atas kepalanya.
"Sepertinya Alexander lebih beruntung dari Papa!" ucap Papa.
"Apa maksud Papa?" tanya Mama.
"Alexander di galaki istrinya yang sedang hamil itu wajar! Nah Papa?" ucap Papa, "Istri Papa hamil tidak hamil tetap saja galak!" lanjut Papa dengan ekspresi menangis.
"Papa sudah bosan tidur di kamar rupanya!" ucap Mama kesal.
"Bukan begitu Ma! mana mungkin Papa bosan tidur di kamar" ucap Papa dengan senyum kikuknya. "Ampun Ma! ampun!" ucap Papa mengatupkan dua telapak tangannya di depan wajahnya.
"Huh!" Mama membuang nafas kesalnya.
Flashback Off . . .
Jangan lupa, baca kisah **Rakha** dan **Indira** di novel yang berjudul **30 Hari Mengejar Badai**. Masih di platform yang sama.
Terima kasih pada teman - teman yang sudah meninggalkan Like, hadiah dan masih setia membaca sampai episode ini.
Salam Lovallena.
__ADS_1