
Di gedung menjulang tinggi seorang asisten tampan sedang duduk berhadapan dengan seseorang yang berusaha keras untuk bisa bergabung dengan perusahaan raksasa Group G.
"Kau sudah membaca syarat awal yang di ajukan oleh CEO kami?" tanyanya pada orang di depannya.
"Tentu saja sudah tuan Rakha. Saya tidak akan mungkin melewatkan kesempatan emas seperti ini. Bekerja sama dengan Group G adalah impian terbesar saya" ucap Hasan.
"Lalu?"
"Saya akan segera menarik semua saham saya di perusahaan lain"
"Tapi kau tau kan, kalaupun semua saham mu terkumpul, itu tidak menjamin kau lolos seleksi untuk bisa bekerjasama dengan kami?"
"Saya tau tuan"
"Dan kau siap dengan resikonya? bisa saja jika kau gagal, mereka menolak bekerja sama denganmu lagi"
"Saya yakin saya tidak akan gagal tuan, saya akan bersungguh - sungguh berbisnis dengan perusahaan ini"
"Kau yakin 100%?"
"Tentu saja!" ucap Hasan yakin.
"Bagus!, aku mau satu minggu sebelum HUT Group G kau sudah memenuhi semua syarat yang kami ajukan. Kau lihat berkas di sana" Rakha menunjuk tumpukan berkas di rak buku. "Itu semua adalah berkas pengusaha - pengusaha yang lolos seleksi awal untuk mengajukan kerja sama pada kami. Jadi kau bisa lihat berapa banyak saingan mu" ucap Rakha dengan senyum sinis.
"Saya mengerti tuan Rakha" Hasan mengangguk pelan. "Siapa yang tidak mengenal Group G. Perusahaan terhebat di negeri ini. Mendapat kesempatan bergabung adalah suatu kehormatan" ucap Hasan dengan nada berlebihan.
Dasar penjilat! batin Rakha.
Rakha menanggapi ucapan Hasan dengan senyum sinis.
# # # # # #
"Kau ini kelaparan?" tanya indira melihat Jova makan dengan sangat lahap.
"Iya!, gara - gara adu mulut dengan dosen centil itu aku jadi lapar dua kali lipat" ucap Jova sambil mengunyah makanan.
"Kenapa lagi dia?"
"Seperti waktu itu. Dia menarik tangan ku dan mengancam ku jika aku masih dekat - dekat dengan pak Alex, dia akan membuat ku di keluarkan dari kampus ini"
"What?" Indira kaget bukan kepalang. "Lalu selanjutnya? apa kau di tampar lagi seperti waktu itu?"
"Tidaklah! kali ini aku yang menamparnya" tegas Jova lalu menengguk minumannya.
"Itu baru namanya Jova!" seru Indira. "Hujan dan badai adalah penyemangat!" ucap Indira tertawa.
"Tumben pintar kau!" ucap Jova melirik Indira.
Eeghm!
Suara deheman keras berasal dari belakang mereka. Serentak mereka menoleh bersamaan. Terlihat Alexander menatap Jova dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Kedua tangannya berada di saku celananya.
Tak luput juga beberapa mahasiswi yang sontak kaget. Untuk pertama kali dosen itu ada di kantin kampus. Dan lagi - lagi karena Jova. Mereka curi - curi pandang melihat Alexander yang selalu terlihat tampan. Jova tersenyum kikuk, dan Indira pun ikut salah tingkah.
__ADS_1
"Aku menunggumu dari tadi, dan kau malah mengobrol disini" ucap Alexander ketus.
"Hehe maaf, keasyikan" Jova tersenyum menunjukkan semua gigi putihnya.
Alexander menghela nafas kemudian berbalik dan langsung berjalan tanpa berkata apa - apa lagi. Jova reflek pamit duluan pada Indira. Indira hanya mengangguk, karena dia pun sedikit kaget dosen itu muncul di saat mereka membicarakan Jova dan Julie.
"Apa tadi beliau dengar ya?" Jova tampak berfikir.
# # # # # #
Jova berjalan cepat mengikuti langkah lebar seorang Alexander di koridor menuju parkiran. Alexander membuka kunci otomatis mobil dan mereka berdua masuk sendiri - sendiri.
"Keluarkan ponselmu!" perintah Alexander saat mereka sudah duduk di dalam mobil.
Jova mengeluarkan ponselnya, secepat kilat Alexander merebut ponsel Jova. Jova kaget dengan ulah Alexander.
"Berapa sandinya?"
"Sama seperti sandi apartemen ku, itu kalau kau masih ingat" ucap Jova membuang muka ke jendela.
Tentu saja Alexander ingat. Dia segera memasukkan nomor ponselnya. Lalu menghubungi nomor ponselnya sendiri.
"Agar aku mudah menghubungimu!" ucapnya mengembalikan ponsel Jova.
Jova hanya mengangguk mengerti. Sebenarnya itu hanyalah alasan Alexander. Karena sebenarnya dia sudah punya nomor ponsel Jova. Hanya supaya tak terlihat saja.
Alexander mengemudikan mobilnya keluar dari kampus. Membelah jalanan Ibukota yang padat oleh orang - orang yang berlalu lalang karena waktu menunjukkan jam makan siang.
Dia menyimpan dengan nama siapa?. Ucap Jova dalam hati. Alexander? bukan. Pak Alex? tidak ada. Dosen Alex? tidak ada juga.
Jova memainkan bibirnya karena jadi pusing sendiri.
Aahhh.. kenapa aku bodoh sekali. Liat di panggilan keluar lah.
Jova membulatkan matanya saat membaca nama yang di gunakan Alexander untuk menyimpan nomornya di ponsel Jova.
"Handsome!" pekik Jova pelan. Lalu melihat Alexander di sampingnya.
"Kenapa?" tanya Alexander yang tau Jova sedang membaca nama yang dia buat.
"Kenapa kau percaya diri sekali?" tanya Jova menatap tak percaya pada Alexander.
"Aku memang tampan, apanya yang salah" ucap Alexander santai.
"Aku tau, tapi aku tidak menyangka kau sepercaya diri itu menyimpan nomormu dengan nama handsome" Jova melirik kaca depan mobil Alexander.
"Karena aku mensyukuri nikmat, sudah di beri Tuhan ketampanan yang luar biasa" ucap Alexander dengan senyum sinisnya.
Jova tidak menjawab, dia menyebikkan bibirnya malas mendengar kepercayaan diri Alexander.
"Kita mau kemana?" tanya Jova. "Ini kan bukan jalan pulang ke rumah ku?"
"Kita jalan - jalan saja" ucap Alexander.
__ADS_1
Jova tidak menjawab, dia tersenyum girang dengan keputusan Alexander untuk jalan - jalan.
Alexander memarkirkan mobilnya di tepi pantai yang pernah dia datangi bersama Jova beberapa waktu yang lalu.
Tanpa banyak bicara Jova keluar dari mobil dan berlari menuju pantai. Dia berlari - lari di tepi pantai, melompat - lompat di atas pasir. Melihat itu, Alexander segera menghampiri Jova.
"Kau ini baru sembuh, jaga tubuhmu!", ucap Alexander.
"Hihi.. aku sangat senang bermain di pantai. Apalagi pantai ini sepi. Hanya boleh di kunjungi oleh orang - orang yang menyewa villa. Jadi bebas mau apa aja" ucap Jova dengan mata berbinar.
Jova menghadap pantai, rambut panjangnya berterbangan di tiup angin. Dia menghirup dan meresapi angin yang menabrak wajahnya.
Alexander tersenyum melihat Jova yang tampak bahagia. Dia hanya berdiri tidak jauh dari belakang Jova. Dia juga menikmati angin pantai, memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
Jova kembali bermain - main dengan ombak. Bajunya sudah basah kuyup, tapi dia tidak perduli.
"Alexander?" teriak Jova.
Alexander menolah ke sumber suara. Terlihat Jova memanggilnya dengan menggunakan isyarat tangannya. Alexander hanya menggeleng. Dia malas berganti baju pikirnya.
Jova yang sudah basah kuyup berlari ke arah Alexander. Dan memeluk Alexander tanpa aba - aba.
"Jova!" pekik Alexander berusaha melepas tangan Jova yang melingkar di tubuhnya.
"Hahahah.. kau ini takut sekali dengan air laut"
"Aku tidak takut, aku hanya malas!" ucap Alexander yang belum berhasil membuka tangan Jova.
"Kalau begitu ayolah!" Jova menengadahkan wajahnya keatas, menghadap Alexander.
"Kalau kau tidak melepaskan ku, aku akan mencium mu sampai kau tidak bisa bernafas!" ancam Alexander setelah menemukan ide saat melihat bibir Jova yang menggoda dalam posisi sedekat itu.
Sontak Jova melepaskan Alexander, dia mengerucutkan bibirnya kesal.
"Lihat! bajumu sudah basah. Ayolah!" Jova menyeret tangan Alexander ke arah pantai.
Karena sudah basah, dia pun pada akhirnya mengikuti Jova. Bermain - main dengan Jova di pantai. Berkejaran, berlari dan menangkap pinggang Jova dari belakang hingga mereka jatuh di atas ombak yang berdebur.
Mereka tampak bahagia, sama sekali tidak ada kecanggungan di antara mereka. Seolah sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta. Padahal mereka adalah dosen dan mahasiswanya.
"Aku memutuskan tinggal disini sampai benar - benar sanggup melupakanmu. Tapi kenapa kau malah datang ke sini dengan orang yang sedang kau incar. Keromantisan kalian di depan mataku seperti ini, benar - benar membuatku kacau"
.
.
🪴🪴🪴
Selamat membaca, Jangan lupa tinggalkan LIKE dan Komentar ya teman - teman.
Terima kasih untuk segala bentuk dukungan yang kalian berikan.
Salam Lovallena
__ADS_1