I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
25D


__ADS_3

Setelah mengikuti mata kuliahnya, Jova keluar dari ruang kelasnya. Baru beberapa langkah Indira sudah mensejajari langkahnya.


"Dari tadi kau menungguku?"


"Tidak juga!" jawab Indira dengan senyum manisnya.


"Lalu, kenapa kau sudah ada di sini?"


"Kau kan tau, sejak malam itu aku berusaha untuk menemui mu. Tapi selalu kau tolak. Jadi aku antisipasi menunggu jam kuliahmu berakhir. Dan aku langsung ke sini"


"Oh!"


"Jov, ikut aku!"


Indira menarik tangan Jova menuruni tangga, menuju taman belakang kampus. Jova hanya mengikuti tangannya yang di tarik Indira.


Mereka duduk bersebelahan di kursi taman. Jova tau jika sudah seperti ini, Indira pasti ingin bicara serius.


"Jova?" melihat Jova di sampingnya.


"Hemm?" jawab Jova menatap balik Indira. Indira balik menatap ke depan, setelah di respon Jova.


"Jov, kau sekarang pasti sudah tau kan? apa yang terjadi setelah kita meninggalkan pesta?"


"Iya, aku tau" jawab Jova pelan.


"Jika kita pikirkan secara matang, produk Jeyskin di luncurkan saat kau belum mengalami koma. Dan saat itu kau masih tinggal di apartemennya. Itu brarti, sebenarnya sudah lama tuan Alexander menyukaimu"


"Apa hanya ini yang ingin kau katakan padaku?" Jova sedikit kesal.


"Dengarkan aku Jov, aku hanya tidak ingin kau menyesal. Aku yakin selama kalian di Singapura berdua, pasti banyak momen romantis yang tercipta. Tidak mungkin secepat itu kau lupa kan? apa selama itu kau tidak merasakan ketulusan seorang Alexander?"


Indira menatap tajam mata Jova, sebelum Jova mengalihkan pandangannya, karena merasa ucapan Indira benar.


"Aku yakin selama satu minggu kau berdua di Singapura, walaupun mungkin kalian tidur terpisah. Pasti ada momen di mana kalian berperilaku seperti pasangan suami istri!"


"Apa maksudmu Ndi!" tanya Jova tegas. "Aku tidak pernah sekali pun melakukan hal kotor seperti itu. Dan Alexander bukan laki - laki biad*p seperti itu!"


"Tch! aku tau Jov! maksud ku kalian pasti pernah, berciuman. Atau bahkan tuan Alexander sudah pernah menyentuh benda lain di tubu*h mu! Kalau kau tidak mau kembali padanya, apa kau mau suamimu kelak mendapatkan bibirmu yang pernah di cium oleh tuan Alexander. Atau bagian tubuhmu yang pernah di sentuhnya."


"Apa mau mu sebenarnya Ndi!" Jova sudah tidak sabar.


Indira menghembuskan nafas panjangnya, setelah berapi - api memberi penjelasan pada Jova.


"Dengarkan penjelasan tuan Alexander terlebih dahulu. Dia pasti punya alasan mengapa melakukan semua itu. Nyatanya produk yang menyaingi produk mu sudah di tarik!"


"Aku akan memikirkannya lagi Ndi," jawab Jova malas.


"Jov, jangan sampai kau menyesal. Aku yakin kalian berjodoh. Banyak yang menginginkan sosok tuan Alexander. Dan kau satu - satunya gadis yang beruntung. Carissa secantik itu saja di tolak mentah - mentah. Berfikir lah sejernih mungkin Jov."


Jova tidak menjawab kalimat Indira. Dia hanya menghembuskan nafas kasarnya.


"Aku pulang dulu!" pamitnya pada Indira.

__ADS_1


"Iya, ingat kata - kata ku Jov!"


"Hemm"


Jova berjalan keluar kampus, menghentikan taksi yang lewat untuk pulang ke apartemennya.


Di dalam taksi Jova membuka ponselnya. Melihat pesan WA Alexander.


Terakhir di lihat tetap kemarin pagi. Padahal tadi pagi dia di depan apartemen ku! Dia juga kenapa tidak pernah langsung masuk. Padahal jelas - jelas dia tau sandi apartemen ku. Kenapa dia tidak memberiku kejutan dengan tiba - tiba tidur di sampingku seperti waktu itu, atau merayuku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Malah selalu menemui ku di depan pintu. Ucap Jova dalam hati.


Jova juga menimbang perkataan Indira tadi. Karena memang ada benarnya. Memang dia tidak pernah melakukan hubungan intim dengan Alexander. Tapi mereka pernah berciuman dengan penuh hasrat. Sampai lupa sopan santun antara mahasiswi dan dosennya.


Jova turun dari taksi, dan menaiki lift sendirian menuju lantai 10. Tempat apartemennya berada. Lagi - lagi dia melihat Alexander di depan pintu apartemennya.


"Mau apa lagi kau!"


"Ikutlah dengan ku, aku akan menjelaskan semua padamu"


"Apa lagi yang ingin kau jelaskan?"


"Ada banyak hal yang belum kau ketahui Jovanka"


"Aku sudah tau kalau kau adalah tuan Alexander Gibran yang kaya raya dan bisa berbuat apa saja." ucap Jova dengan senyum sinisnya.


"Bukan itu maksudku!"


"Aku tidak perduli! yang aku tau, kau pembohong, pengkhianat dan serakah!" ucap Jova penuh penekanan.


"Haha nona Jovanka. Hemh!" Jova tersenyum sinis. "Setelah memanggilku sayang - sayang sekarang kau memanggilku nona Jovanka?" Jova menajamkan matanya menatap mata laki - laki yang dikenalnya sebagai tuan Alexander itu.


"Kau akan menyesal mengatai ku seperti itu!"


"Tidak akan!" jawab Jova pasti. "Pergi kau dari sini!" Jova berjalan mendekati pintu.


"Ikutlah dengan ku dulu!"


"Tidak!"


"Setidaknya kalau bukan demi aku, ikutlah dengan ku demi orang yang mencintaimu Jovanka!"


"Hahaha" Jova tertawa. "Kau benar, memang bukan kau orang yang mencintaiku!"


"Ikutlah dengan ku, demi orang yang mencintaimu dan orang yang kau cintai!"


"Baik! aku akan ikut denganmu, tuan Alexander Gibran. Aku akan mendengarkan penjelasan bulshit mu itu!"


"Ayo!"


Jova berjalan mengikuti laki - laki itu memasuki lift. Wajahnya di penuhi kekesalan yang di tahan.


CEO tampan itu menekan angka 25 yang diketahui jelas sebagai lantai tempat apartemen Alexander berada.


Pintu lift terbuka, memperlihatkan 4 pintu apartemen mewah. Dua di kanan, dan dua di kiri lorong. Tapi tidak saling berhadapan.

__ADS_1


CEO itu menghadap pintu bernomor 25D, yang membuat Jova bingung sendiri.


"Bukannya apartemen mu yang itu!" Jova menunjuk pintu nomor 25A menggunakan lirikan mata.


Laki - laki itu tersenyum menatap muka bingung Jova.


"Itu apartemen Alexander, ini apartemen ku!" ucapnya sambil menekan sandi apartemennya.


"Oh, maksudmu itu apartemen Alexander, dan ini apartemen tuan Alexander Gibran?"


"Masuklah dulu, aku akan menjelaskan semua padamu," membuka pintu apartemen.


"Tch!"


Jova masuk ke apartemen itu dan langsung menuju ruang tengah tanpa sungkan. Yang ada dalam pikirannya, sama mewahnya dengan apartemen Alexander di nomor 25A.


"Duduklah!"


Jova duduk di sofa ruang tengah, melihat jendela kaca yang luas. Memperlihat cerahnya langit di saat siang menjelang sore.


"Minumlah!"


Jova tidak menjawab, dia juga tidak mengambil kaleng minum yang di letakkan di atas meja. CEO tampan itu menuang minuman beralkohol di gelas yang di pegang nya. Jova membulatkan matanya lebar.


Sejak kapan dia minum minuman beralkohol? Aku tidak pernah menemukan minuman beralkohol di apartemennya. Apa sejauh ini dia membohongiku! batin Jova.


Kebencian memuncak di hati Jova. Dia merasa di tipu habis - habisan selama ini. Yang Jova tau Alexander hanya merokok, itu pun sangat jarang. Tapi kali ini tiba - tiba menuang minuman beralkohol di depan matanya, dan meneguk stengahnya seolah sudah terbiasa dengan minuman itu.


"Cepat katakan! apa yang ingin kau jelaskan! aku muak melihat tingkah mu ini!" ucap Jova tegas.


Laki - laki itu menatap lembut mata Jova, lalu berdiri dengan membawa gelas minuman di tangan kirinya. Berjalan pelan mendekati jendela kaca. Melihat cerahnya langit Jakarta. Jova mengikuti pergerakan laki - laki itu. Menatap intens tubuh pria tinggi, gagah dan penuh karisma itu.


"Jika Alexander di asing kan sejak berusia 9 tahun. Maka aku di asing kan saat berusia 9 jam" meneguk sedikit minumannya.


Jova mengerutkan keningnya, memiringkan wajahnya, tidak mengerti dengan yang di maksud laki - laki di depannya itu.


Laki - laki itu membalikkan badannya, menghadap Jova yang menatapnya dengan tatapan bingung.




Apa ya maksudnya?


Hehe jawabannya di next episode.



Terima kasih yang sudah setia membaca novel Author sampai di episode ini.



Salam Lovallena.

__ADS_1


__ADS_2