
Senin pagi Jova bersiap untuk berangkat ke kampus. Hari ini dia ujian akhir semester tujuh. Dia berangkat dengan penuh semangat. Jova melajukan mobilnya, membelah kemacetan Ibukota di pagi hari.
Sampai mobilnya terparkir di parkiran untuk Mahasiswa. Ini hari pertama Jova masuk ke kampus setelah kepergiannya ke Singapura waktu itu.
"Enak sekali ya, jadi kekasih seorang Alexander Gibran! bisa masuk kuliah seenaknya!" suara dari belakang Jova yang sedang berjalan di koridor kampus.
Jova membalikkan badannya, lalu memutar bola matanya malas begitu melihat Bu Julie yang menyilangkan tangannya di dada dan menyandarkan pundaknya sebelah di dinding. Melihatnya dengan tatapan benci.
"Apa Bu Julie belum merasa kalah?" ucap Jova santai.
"Saya memang kalah telak denganmu, Jova. Dan saya pun sudah tidak tertarik mengejar Pak Alex, setelah tau dia adalah Alexander Gibran" ucap Julie angkuh.
"Lalu, apa yang menjadi masalah anda sekarang?" tanya Jova tak kalah sinis.
"Saya hanya ingin mengingatkanmu saja. Carissa tidak akan melepas mu begitu saja. Dia pasti akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Walaupun dia juga sudah kalah!" ucap Julie sinis.
"Maaf, Bu Julie yang terhormat! bagi saya Carissa bukanlah batu sandungan!" ucap Jova yakin, "kalau anda yang merupakan Dosen di kampus saya saja, saya berani menampar anda. Apalagi Carissa yang tidak ada hubungan penting dengan saya!" Jova menyilangkan tangannya di dada, " Bu Julie perlu ingat, saya tidak pernah menganggap Carissa sebagai lawan maupun kawan! jadi saya tidak sedikitpun takut pada seorang Carissa!" ucap Jova tegas.
"Terserah kau saja Nona Jovanka! aku mengenal siapa Carissa!" ucap Julie dengan senyum sinisnya.
"Dan saya tidak peduli sama sekali! permisi!
Jova langsung membalikkan badannya meninggalkan Julie.
"Sombong!" gerutu Julie yang masih bisa di dengar oleh Jova.
Jova masuk ke kelasnya bersiap untuk ujian.
# # # # # #
Sebuah mobil sport mewah berhenti di depan lobby perusahaan Group G, semua tau itu mobil siapa. Ya! mobil Alexander. Hari ini untuk pertama kalinya Alexander memerankan dirinya sendiri sebagai CEO semenjak operasi.
Devan sudah kembali ke England, semenjak Alexander menyatakan siap untuk kembali bekerja kemarin.
Tidak lama setelah mobil Alexander berhenti, mobil sport sang asisten berhenti di belakangnya. Mereka turun bersamaan dan memberikan kunci mobil pada security yang membukakan pintu mereka.
Mereka berjalan beriringan menuju lobby. Rakha berhenti di meja receptionist, Alexander tetap melanjutkan jalannya menuju lift.
"Jika Nona Jovanka mencari Tuan Alexander, kalian harus segera mengantarnya ke atas. Dan ingat! Nona Jovanka punya akses bebas untuk keluar masuk perusahaan ini!" ucap tegas Rakha pada dua receptionist dan satu security yang bertugas.
"Baik, Tuan!" ucap mereka kompak.
Rakha berjalan masuk lift, meninggalkan receptionist dan security yang sedang bertanya - tanya.
"Apa kamu tau seperti apa wajah Nona Jovanka?" tanya security.
"Tidak!"
"Nona Jovanka kan belum pernah di perkenalkan ke publik" sahut yang lain.
Alexander duduk di singgasananya. Papan nama yang dulu bertuliskan CEO Group G, sekarang sudah berubah menjadi Alexander Gibran di bawahnya bertuliskan CEO.
# # # # # #
Menjelang siang hari Jova sudah selesai dengan ujiannya di hari pertama. Dia keluar kelas berjalan di koridor kampus menuju parkiran.
"Ndi!" teriak Jova melihat Indira yang berjalan ke arah mobilnya.
"Hai, Jova!" berhenti menunggu Jova yang berlari ke arahnya.
"Ndi, aku penasaran! apa yang kau maksud menagih janji pada Rakha?" tanya Jova setelah berhasil menghampiri Indira.
"Hehe, sorry ya Jova," ucap Indira ragu, "Waktu itu Rakha menemui ku, meminta bantuan ku untuk membujuk mu agar mau ikut dengan Tuan Alexander. Dan aku mengajukan persyaratan untuk mentraktir ku nonton dan shopping. Lalu dia menyetujuinya. Setelah aku tau kau sudah bersama Tuan Alexander, aku mulai menagih janjinya. Tapi dia selalu menghindar. Dan satu - satunya cara adalah meminta bantuan mu, hehe!" jelas Indira.
"Hemm dasar kau!" ucap Jova, "kau suka pada Rakha?"
"Gadis mana yang tidak suka dia Jov!" ucapnya, "mungkin hanya kau yang tidak tertarik, karena kau sudah mendapatkan Tuannya!"
__ADS_1
"Haha, iya!"
"Jov!"
"Apa?"
"Bantu aku untuk bisa dekat dengan Rakha dong!"
"Hah? kenapa aku?"
"Kau pasti bisa Jov! ayolah bantu!" rengek Indira.
"Hemm nanti aku pikirkan caranya!" ucap Jova, "aku saja belum pernah ngobrol dengannya!"
"Oh ya?"
"Iya!"
"Hemm" Indira cemberut.
"Ya sudah ayo pulang!"
"Kau mau pulang?"
"Tidak!"
"Lalu?"
"Aku mau mengobrak - abrik kantor utama Group G!" ucap Jova dengan senyum jahilnya.
"What!" pekik Indira.
"Haha, aku hanya bercanda!" ucap Jova, "aku hanya ingin makan siang dengan pujaan hatiku"
"Hemm mentang - mentang sudah gak jomblo!"
"Iya dong!"
"Bye Ndi!"
Jova berjalan ke arah mobilnya. Melajukan mobilnya meninggalkan kampusnya, menuju kantor pusat Group G. Jova memarkirkan mobilnya, di parkiran khusus tamu. Jova turun dari mobilnya, berjalan ke arah lobby.
Terlihat ada dua orang duduk di balik meja receptionist dan seorang security berdiri di sampingnya.
Jova berjalan mendekati meja. Security sudah melihat Jova dari kejauhan, karena memang tugasnya untuk waspada pada siapapun orang asing yang datang.
"Permisi mbk, saya mau bertemu Tuan Alexander" ucap Jova yang berdiri di depan meja receptionist.
"Maaf, Mbak nya sudah buat janji untuk bertemu hari ini?" tanya salah seorang receptionist.
"Janji?" Jova mengerutkan keningnya, "belum" ucap Jova.
"Maaf mbk, untuk bisa bertemu CEO harus membuat janji dulu" ucapnya sopan.
"Tapi saya ..." kalimat Jova terpotong security yang berdiri.
"Maaf Mbak, itu sudah peraturan perusahaan"
"Oh gitu ya? sebentar!" Jova mengeluarkan ponselnya, Mendial nomor Alexander melalui vidio call.
"Ada apa, Sayang!"
"Sayang, aku di bawah!" ucap Jova.
Seketika dua receptionist dan seorang security saling tatap, tiba - tiba tubuh mereka serasa bergetar.
"Aku belum membuat janji temu denganmu. Aku tidak boleh masuk. Sekarang kita buat janji temu ya? biar aku bisa menemui mu" ucap Jova.
Ekspresi Alexander seketika berubah.
__ADS_1
"Berikan ponselmu pada siapapun yang mengatakan itu padamu!"
"Sebentar!" ucapnya, "Mbak ini!" Jova menghadapkan ponselnya ke receptionist.
"Antar kan calon istri ku ke ruangan ku! apa Rakha tidak memberi tahu mu!" ucap Alexander tegas menahan amarahnya.
"Ma..ma..maaf, Tuan" ucapnya gagap, "sa..saya tidak mengenali Nona Jovanka" kaki receptionist itu bergetar hebat.
"Cepat!" ucap Alexander tegas.
"I..iya Tuan!"
"Sayang, kenapa kau marah?" tanya Jova.
"Tidak apa - apa. Ikuti dia"
"Ok, Sayang!" Jova mengakhiri panggilannya.
"Mari, Nona. Saya antar ke ruangan Tuan Alexander"
"Iya!"
Jova berjalan di belakang salah seorang receptionist, mengikutinya menaiki lift.
Security dan receptionist satunya merasa bingung bercampur khawatir.
"Tuan Rakha pasti marah pada kita!" ucap Security.
"Kau sih! tidak mendengarkan penjelasannya. Main potong orang ngomong!"
"Maaf maaf!"
# # # # # #
"Mari Nona!" ucap receptionist pada Jova saat lift sudah terbuka di lantai 30.
Jova sudah berada di depan ruangan CEO, terlihat seorang sekretaris di meja kerjanya.
"Mbak Lisa, ini Nona Jovanka mau bertemu Tuan" ucapnya pada Lisa, Sekretaris Alexander.
"Oh, mari Nona, silahkan!" Lisa berdiri membukakan pintu untuk Jova.
Jova masuk ke ruangan itu, terlihat ada Rakha yang duduk di depan meja kerja Alexander.
"Saya permisi, Nona" ucap Lisa.
"Iya" ucap Jova menyungging senyum.
"Kemari lah, Sayang!" ucap Alexander merentangkan tangan.
Jova berjalan ke arah kursi Alexander. Alexander menarik Jova untuk duduk di pangkuannya. Jova duduk di pangkuan Alexander tanpa rasa malu pada Rakha. Membuat Rakha memutar bola matanya malas.
"Kha, kau urus anak buah mu itu!"
"Baik, Tuan muda" ucap Rakha berdiri dan berjalan keluar.
Dasar bucin baru! batin Rakha.
Tinggalkan Like dan Komentarnya ya teman - teman.
Mohon dukungannya untuk novel ini.
Terima kasih yang sudah dengan ikhlas memberikan Hadiah, Love dan Vote nya. Semoga rejekinya di lancarkan. Aamiin.
__ADS_1
Salam Lovallena.