I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Pergi!


__ADS_3

Tengah malam Jova duduk di sofa tidur dekat jendela kaca, menatap malam gelap Ibukota. Dia menyandarkan kepalanya dan menyilang kakinya lurus.


Dia mengingat semua kebenciannya pada Putra Gibran bermula. Kemudian dia mengingat tentang awal - awal bersama Alexander. Hukuman yang hampir setiap hari dia dapatkan.


Sampai dia mengingat saat pertama kali dia di apartemen Alexander karena pingsan. Perlakuan hangat Alexander saat itu. Untuk pertama kali dia berada dalam pelukan hangat Alexander. Yang mana dia merasa sangat nyaman, bagai menemukan tempat pulang terbaiknya.


Jova memejamkan matanya mengingat setiap pelukan hangat, dan ciuman hangat bersama Alexander. Dia tersenyum simpul seolah merindukan momen itu.


Lalu matanya terbuka saat ingat Alexander Gibran muncul dari pintu dekat tangga. Berjalan dengan gaya dinginnya menuju podium.


"Andai kau mengatakannya dari awal, mungkin aku tidak akan kecewa seperti ini," gumam Jova. "Apa tujuan mu menciptakan produk yang mengubur produk ku, tapi kau bilang cinta padaku? apa tujuanmu? kau bahkan memberi Hasan kesempatan untuk bergabung dengan mu. Yang mana membuat perusahaan ayah sekarang di ambang kehancuran."


Ekspresi wajah Jova mulai berantakan, dipenuhi emosi dan kebencian. Air matanya menetes setelah itu.


Sungguh keadaan Jova sedang susah di tebak. Dia senyum, marah dan menangis sepanjang malam.


Hingga menjelang pagi Jova terus duduk dan memandangi luar jendela kamarnya. Sampai pada akhirnya matanya terlelap di sofa itu.


# # # # # #


Alexander uring - uringan di dalam kamar VVIP yang dia tempati. Pengawal yang dia tugaskan menjaga di depan pintu apartemen Jova mengatakan Jova tidak keluar sama sekali. Sementara ponsel Jova tidak dapat di hubungi.


Pagi - pagi sekali Alexander mendial satu nomor penting di ponselnya.


"Halo!"


"Mulai hari ini kau harus berusaha membawanya padaku!"


"Iya iya! jangan khawatir!"


"Ingat, jangan coba - coba memanfaatkannya atas namaku!"


"Iya, tuan Alexander. Don't worry! seperti aku ini serigala saja!"


"Kau memang bukan serigala, tapi buaya!"


"Hahaha Jadi buaya itu enak bro, kau saja belum tau rasanya. 29 tahun masih perjaka!"


"Jangan bicara yang tidak penting. Ingat! jangan sekalipun menyentuh Jova!"


"Siap komandan! aku tidak akan mengambil jatah mu. Aku tau diri, lagi pula aku sudah sering. Jadi walau Jova cantik aku akan menyerahkan dia padamu dalam keadaan utuh"


"Bagus!"


Alexander mengakhiri panggilannya. Lalu menatap layar ponselnya yang menunjukkan wajah Jova saat akan berangkat ke pesta.


"Aku mohon, jangan marah padaku sayang," mengusap layar ponselnya. "Aku melakukan semua itu untukmu," gumam Alexander pelan.


# # # # # #


Jam 9 pagi Jova terbangun dari tidurnya. Dia masuk ke kamar mandi, untuk mencuci muka. Setelah itu dia memesan makanan di restoran bawah menggunakan telpon apartemen. Jova mencari dompetnya sambil menunggu pesanan datang.


Tok Tok Tok


Jova berjalan ke arah pintu utama, dia membuka pintu. Yang menunjukkan seorang waiters mengirim makanan. Dan ada dua orang berpakaian hitam di kanan kiri pintunya. Jova hanya melihat sekilas mereka, dari baju yang di pakai dia tau dua orang itu suruhan siapa.


Jova membayar makanannya dan meminta waiters untuk segera pergi. Dia meletakkan makanan di atas meja, lalu kembali ke pintu.

__ADS_1


"Sejak kapan kalian di sini!" tanya Jova ketus.


"Tadi pagi, nona. Sebelumnya sudah ada dua orang rekan kami yang mengikuti anda semalam," ucap salah satu dari mereka.


"Apa?" Jova kaget. "Pergi kalian dari sini! katakan pada tuan mu itu untuk tidak mengganggu ku lagi!"


"Tapi nona, kami bisa di pecat kalau tidak menjaga nona di sini."


"Katakan pada tuanmu itu, aku akan lompat dari gedung ini kalau kalian tidak pergi!" ucap Jova tegas. "CEPAT!", menatap tajam dua pengawal itu bergantian.


"Baik, nona. Kami permisi."


Jova menatap kepergian dua pengawal itu sampai tak terlihat. Nafasnya memburu karena menahan amarah. Jova kembali masuk ke apartemen setelah memastikan dua pengawal itu pergi.


Seharian Jova tidak keluar apartemen, dan tidak juga mengaktifkan ponselnya. Dia pun tak sedikitpun menyalakan TV, karena dia yakin TV hanya akan memberitakan acara semalam.


Jova duduk di sofa ruang tamu, membuka majalah bisnis yang tidak pernah dia buka sebelumnya. Dia membelinya beberapa bulan lalu hanya agar terlihat seperti benar - benar mahasiswa bisnis.


Jova melihat sampulnya yang memajang besar foto seorang Haidar Gibran. Dia membuka halaman pertama yang memuat kabar utama Group G pada saat itu. Berita tentang Haidar Gibran siap pensiun, dan di gantikan sang putra tunggal berjuluk Putra Gibran.


Jova meremas halaman pertama itu dengan penuh kebencian hingga sobek. Dia ingat membeli majalah itu saat perusahaannya belum goyah. Dan semua masih berjalan sesuai keinginan Jova.


Tapi kini, ayahnya saja di buat pusing. Tapi entah kenapa ayahnya tidak pernah mengeluh padanya.


# # # # # #


"Bay! kau jadi pulang ke Indonesia hari ini kan?" tanya Indira melalu panggilan seluler.


"Tentu saja, aku ingin menghajar laki - laki bangs*t itu!"


"Kendalikan dirimu Bay, kau ingat kan Papi mu punya bisnis bersama Group G!"


"Baiklah, terserah kau saja. Bye Bay!"


"Bye!"


# # # # # #


Tok Tok Tok


Jova terbangun dari tidurnya di sofa, saat mendengar ketukan pintu. Dia berjalan ke arah pintu. Melihat dari lubang kecil yang tersedia di pintu. Jova kembali duduk saat tau siapa yang datang.


Tok Tok Tok


"PERGI KAU DARI SINI!" teriak Jova dengan sangat marah.


"Ayolah sayang, buka pintunya. Aku mohon,"


"PERGI!"


"Tidak! aku mohon sayang. Keluarlah! aku akan menjelaskan semuanya kepadamu!"


"PERGI!"


"Sayang?"


"Aku jijik dengan panggilan sayangmu!"

__ADS_1


"Tch! tapi aku sangat mencintaimu. Buka pintunya sayang, aku mohon."


"Kalau kau tidak pergi, aku akan melompat dari gedung ini!"


"Jangan sayang! aku mohon! aku akan pergi."


Jova tidak menjawab, dia kembali mengintip di lubang kecil, dan sudah tidak ada siapa - siapa lagi.


# # # # # #


Orang yang mengetuk pintu Jova kembali ke lift dan menekan angka 25.


"Sepertinya aku harus menggunakan cara lain, agar Jova mau melihatku. Aku harus menyusun rencana terlebih dahulu.


# # # # # #


Malam hari Jova membuka pintunya yang di ketuk seorang waiters dengan membawa troli makanan.


"Ada apa?" tanya Jova.


"Saya mengantar pesanan atas nama nona Jovanka."


"Maaf, saya tidak memesan makanan!" Jova menduga Alexander yang memesan makanan itu untuknya.


"Tapi nona, makanan ini sudah di bayar."


"Untukmu saja!" ucap Jova ketus.


"Tapi, nona ..."


"Aku bilang untukmu saja! kalau kau menolak, aku akan membuang makanan itu di sepanjang lantai 10 ini dan kau yang akan aku suruh untuk membersihkan!" ucap Jova tegas.


"Baik, nona. Saya permisi."


Jova tidak menjawab langsung menutup pintu kamarnya.


# # # # # #


Pagi hari Jova berangkat ke kampusnya lebih awal. Dia menaiki taksi menuju kampus, karena mobilnya di rumah.


Meskipun aku tidak tau harus berbuat apa saat bertemu dengan mu di kampus, aku akan tetap berangkat. Ucap Jova dalam hati.


Jova masuk ke halaman kampus. Semua mata tertuju padanya. Ada banyak opini yang sedang beredar di kampus tentang Jova.


Jova yang sedang berjalan di koridor, sadar kalau banyak mata yang mencuri pandang padanya dengan banyak pertanyaan di kepala mereka.


Jova tidak perduli, dia tetap berjalan menuju kelas di lantai dua tanpa menoleh kanan kiri. Dan tak satupun mahasiswa yang berani menyapanya terlebih dahulu.




Selamat membaca part ini teman - teman. Semoga suka, dan tidak bosan.


Terima kasih atas semua bentuk dukungan teman - teman.


Karena dukungan kalian menambah semangat Author untuk up setiap hari.

__ADS_1



Salam Lovallena


__ADS_2