I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Mie Goreng


__ADS_3

Alex mengeratkan pelukannya. Meletakkan dagunya di pundak kiri Jovanka, lalu memiringkan kepalanya melihat wajah merah merona Jovanka yang sudah tidak ada lagi tawa.


"Sekali lagi kau menertawai ku, aku akan merubah isi surat perjanjian. Kau tidak lupa kan, aku berhak merubah isi surat perjanjian?" ucap Alex pelan disertai senyum sinis.


"Aku bisa merubah isi surat perjanjian dengan membuat mu harus melayani ku!" ucap Alex dengan nada menggoda. "Kalau kau tidak mau itu terjadi, jangan sekalipun menertawai ku!"


Alex mengecup leher Jovanka sebelum akhirnya melepaskan tangannya dari perut Jovanka. Jovanka merasa hampir saja kehabisan nafas. Dia masih tidak bisa bergerak walau pun Alex sudah kembali duduk. Jantungnya masih berdetak cepat.


"Apa kau akan diam saja seperti itu?" ucapan Alex berhasil membuyarkan lamunan Jovanka. Tentu saja Alex tersenyum sinis setelahnya.


Sialan, apa yang aku lakukan. Harusnya aku memukul wajahnya tadi. Berani sekali dia seperti itu padaku. Tapi kenapa aku deg deg an. Aku benar - benar sudah di kerjain dosen batu itu, batin Jova.


Jovanka segera memasak semua yang sudah dia siapkan. Dia menata menjadi dua piring dan membawanya ke meja makan. Meletakkan di hadapan Alex. Alex tersenyum aneh melihat menu yang di hidangkan Jova.


"Kau hampir saja memindah supermarket ke apartemenku, dan yang kau hidangkan hanya Mie Goreng?" tanya Alex menatap Jovanka penuh tanda tanya dan heran.


"Hehe!" Jovanka tersenyum kaku. "Maaf, tuan, sebenarnya saya tidak bisa memasak banyak menu. Dan belanjaan yang tadi saya tidak tau cara mengolahnya, saya kembalikan," ucap Jova meringis menahan malu.


"Apa!" Alex kaget dengan pengakuan Jova. "Pantas saja belanjaan satu troli tinggal segitu!"


"Iya, tuan."


"Memalukan! harusnya kau bayar saja. Kalau kau tidak bisa memasaknya, bisa kau berikan pada orang di luaran sana. Untung aku tidak ikut membayar!" ucap Alex menggelengkan kepalanya.


"Maaf, tuan!" Jova menundukkan kepalnya. "Saya pikir itu pemborosan, jadi lebih baik saya kembalikan," ucap Jova membela diri.


"Ya sudah, makanlah!" Alex merubah intonasi menjadi pelan saat melihat Jova menekuk wajahnya. "Besok untuk sarapan kau pesan saja!"


"Baik, tuan!" ucap Jova tersenyum melihat Alex.


Mereka makan malam tanpa bicara sampai mereka selesai makan malam.


"Masakan mu standar!" ucap Alex setelah meneguk setengah gelas air.


"Dari pada tidak bisa memasak sama sekali," Jova membela diri.


Alex memiringkan bibirnya lalu berjalan masuk ke ruang kerjanya.


Jova membereskan meja makan dan mencuci piring sisa makan malam. Setelahnya dia berjalan ke ruang tengah.


Pasti dosen batu itu sengaja membuat berantakan kulit kacang ini, batin Jova kesal.


Jova membereskan semua kulit kacang yang berserakan. Mulutnya komat - kamit mengungkapkan kekesalannya pada Alex.


"Ternyata kau sangat pandai mengomel ya!" ucap Alex bersandar di ambang pintu.

__ADS_1


Jova yang sedang duduk di lantai antara meja dan sofa terlonjak kaget sampai sikunya menatap meja. Jova melihat Alex dengan rasa cemas.


"Hehe!" Jova tersenyum kaku menahan saki yang menjalar akibat sikunya menatap meja. "Maafkan hamba, tuan!" ucap Jova menunjukkan senyumnya.


"Kau pikir senyummu cantik!" ucap Alex memiringkan bibirnya lalu berjalan ke atas menuju kamarnya.


Jova memanyunkan bibirnya melihat Alex berjalan ke atas.


Alex mengganti bajunya dengan baju tidur. Lalu naik ke tempat tidur, menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur. Mengambil ponselnya di nakas. Bermain - main dengan ponselnya.


Jova sudah menyelesaikan pekerjaannya, waktu sudah menunjukkan jam 9 malam. Jova masuk ke kamarnya, mengganti bajunya dengan baju tidur. Lalu berbaring di tempat tidur merangkul guling nya, menutup matanya. Berharap segera terlelap.


30 menit berlalu, Alex meletakkan ponselnya. Lalu menurunkan tubuhnya. Meletakkan kepalanya di bantal yang empuk itu. Miring kanan miring kiri terlentang. Tapi dia tidak kunjung menemukan posisi yang nyaman untuk tidur.


"Gadis bodoh itu sudah tidur belum ya?" gumam Alex pelan. Dia turun dari tempat tidur.


Jova di dalam kamar hanya berputar putar, miring kanan miring kiri di dalam selimut. Lalu membuka selimutnya.


"Tch! tempat tidur senyaman ini tidak bisa membuat ku tidur dengan nyaman ternyata!" ucap Jova.


Dia duduk di tepi ranjangnya. Lalu berjalan ke arah pintu. Membuka pintu pelan.


"Pak Alex sudah tidur belum ya?" gumamnya pelan.


Alex berjalan ke arah pintu, membuka pintu pelan. Berjalan mendekati tangga bagian atas.


Alex melihat ke bawah, Jova mendongakkan kepalanya.


Deg! Tatapan mata mereka bertemu untuk beberapa saat.


"Kau mau kemana!" ucap Alex dengan suara keras untuk menutupi malunya tentu saja.


Untung aku belum turun, batin Alex.


"Tuan sendiri mau kemana?" tanya Jova salah tingkah karena dia sudah menginjak anak tangga pertama dari bawah.


"Kau lupa ini apartemen siapa? terserah sayalah mau kemana saja" ucap Alex melipatkan kedua tangannya di dada. "Sekarang jawab aku, kau mau kemana?" mengangkat satu alisnya. "Kau mau ke atas, mengintip aku tidur? begitu?" padahal itu adalah niatnya sendiri. Tapi dia menuduhkan itu pada Jovanka.


"Saya ... saya ..." ucap Jova bingung. Kenapa aku selalu bodoh begini di depannya, batin Jova.


"Saya?" tanya Alex memiringkan kepalanya.


"Saya ..."


"Saya?" Alex bertanya dan turun satu anak tangga.

__ADS_1


"Saya ..." Jova menoleh kanan kiri. "Saya apa ya?" gumam Jova lirih.


"Saya?" Alex turun satu anak tangga lagi.


"Saya ..." Jova semakin bingung melihat ke atas. Kok dia makin turun sih, batin Jova


"Saya?" Alex turun satu anak tangga lagi. Dengan tatapan yang seolah mengintimidasi.


Jova tidak fokus lagi memikirkan alasan kenapa dia di situ. Pikiran nya di penuhi oleh apa yang akan di lakukan Alex menuruni anak tangga.


"Saya rindu. eh!" Jova menutup mulutnya rapat. Kenapa kata itu yang keluar, batin Jova.


Alex menuruni anak tangga dengan lebih cepat dengan senyum sinisnya.


Deg deg deg deg. Jova semakin tidak karuan. Dia menunduk menutup matanya.


"Apa yang kau pikirkan?" Alex bicara di samping Jova. "Hah?" Alex tersenyum mengejek. Dia melewati Jova yang masih menutup mata. Berjalan ke dapur dan mengambil minum. Sungguh kali ini dia berhasil menutupi salah tingkahnya.


Untung dengan cepat aku menguasai pikiranku. batin Alex setelah meminum setengah gelas air.


Jova membuka matanya. Menghentakkan kakinya.


Sial! bagaimana bisa aku selalu bertingkah konyol seperti ini. ucap Jova dalam hati.


Jovanka kembali masuk ke kamarnya. Menutupi dirinya dengan selimut lalu memejamkan matanya.


# # # # # #


Jova berendam di bathub setelah tidur semalaman. Dia berfikir, kenapa dia jadi seperti orang bodoh. Dia selalu mengharapkan perlakuan lembut dari seorang Alexander, si dosen batunya.


"Hey Jova! apa yang kau pikirkan!" Jova memukul kepalanya sendiri.


Setelah berendam dia membersihkan dirinya di bawah guyuran shower. Lalu keluar dengan menggunakan jubah mandi. Dia membuka pintu kamar mandi.


Duaarr! Jova terlonjak kaget melihat Alex duduk di tepi ranjang.


"Hey tuan! apa yang anda lakukan disini?" tanya Jova tegas mendekap tubuhnya sendiri.


Alex diam tanpa ekspresi melihat Jova yang hanya memakai jubah mandi. Kenapa pikiranku jadi kotor begini, batin Alex.


"Lama sekali kau di dalam kamar mandi?" Dengan cepat Alex menguasai dirinya.


"Apa itu penting tuan?" ucap Jova dengan nada sedikit meledek Alex.


"Kau sudah pesankan aku sarapan? aku lapar!" merasa kalah dari Jova.

__ADS_1


"Sekarang saya pesankan tuan. Tapi tuan keluar dari sini!" Jova


"Tch! iya iya!" Alex berdiri berjalan ke arah pintu. "Galak sekali kau ini!" ucap alex.


__ADS_2