
Di lantai 25 apartemen, Devan berjalan ke pintu nomor 25C, setelah mendapat kabar dari Alexander kalau Eyang tidak ikut ke pesta. Devan menekan sandi pintu 25C, lalu masuk ke dalamnya yang bernuansa gold. Warna kesukaan sang Eyang, yang menyukai kemewahan.
"Eyaaang??" panggil Devan.
"Apa Devander?" jawab Eyang yang sedang duduk di ruang tengah, tak jauh dari beliau seorang wanita berpakaian pelayan berdiri menghadap Eyang.
"Eyang?" sapa Devan mencium pipi Eyang, "kenapa Eyang tidak ikut ke pesta Alexander?" duduk di samping Eyangnya.
"Eyang malas melihat keluarga yang tidak sepadan dengan kita!"
"Eyang," ucap Devan lembut, "jangan melihat seseorang dari harta dan tahta. Itu tidak akan membuat Eyang hidup bahagia. Yang penting mereka saling menyayangi dan saling menerima apa adanya"
"Tapi tetap saja Eyang tidak suka dengan selera Alexander kali ini"
"Lalu selera Eyang seperti siapa? Carissa?" tanya Devan.
"Dulu Carissa memang cocok saat dia masih kaya. Tapi sekarang dia bahkan jadi budak nafsu laki - laki liar di luar sana!"
"Hah!" pekik Devan, "Eyang tau dari mana?" Devan menganga tak percaya, sampai merubah posisi duduknya.
"Devander, meskipun Eyang sudah tua dan hanya punya dua mata, tapi Eyang punya banyak mata - mata di luar sana. Semua yang berhubungan dengan keluarga kita, Eyang harus tau latar belakangnya dan kesehariannya!" jelas Eyang.
Devan menatap Eyang tak percaya, Dia tidak menyangka kalau sang Eyang se detail itu.
"Brarti Eyang tau kan, kalau Jova itu berasal dari keluarga baik - baik?"
"Tentu saja!" jawab Eyang cepat, "Eyang hanya tidak suka dengan derajatnya yang tidak sepadan dengan kita!"
Devan menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Eyang? Eyang jangan melihat Jova dari segi harta. Nyatanya Jova adalah gadis yang tulus dan hanya Jova yang mampu membuat seorang Alexander Gibran si batu karang itu jatuh cinta"
"Kau sama saja dengan Alexander! tidak tau apa itu cinta! bisa saja gadis itu hanya mengincar harta Alexander!"
"Devander memang belum pernah jatuh cinta setulus Alexander, Eyang. Tapi Devander tau mana yang tulus dan mana yang hanya mengejar harta!"
"Diam kau, Devander!"
"Eyang jangan marah. Suatu hari Eyang akan tau, kalau derajat tidak selamanya membuat kita bahagia"
"Nyatanya Eyang bahagia dengan harta Eyang dan harta almarhum Eyang Kung mu yang bersatu, dan setelah kami menikah perusahaan kami semakin besar"
"Karena dari awal Eyang dan Eyang Kung saling mencintai, harta sebagai warna saja di antara kalian berdua yang sama - sama memiliki garis keturunan ningrat. Coba kalau kalian tidak saling mencintai, dan menikah hanya karena harta, pasti kalian tidak akan bahagia" jelas Devan.
Eyang hanya menyebikkan bibirnya malas mendengar penjelasan cucunya. Devan tersenyum melihat Eyangnya.
"Malam ini Devander akan menemani Eyang tidur di sini!" ucapnya, "Eyang sudah makan?" tanya Devan.
"Sudah! kamu sudah makan?"
"Sudah dong, Eyang!"
# # # # # #
__ADS_1
Hari - hari sudah kembali normal. Semua keluarga yang datang di hari pertunangan itu sudah kembali ke negara mereka masing - masing. Jova pun tengah libur kuliah.
Sehingga hari - hari nya hanya berkunjung ke kantor Alexander, atau ke Cafe Indira. Karena Perusahaan Group B kembali di pegang oleh Ayahnya.
"Jova, kau tidak lupa untuk membuatku dekat dengan Rakha kan?"
"Sabar, aku sedang memikirkan cara supaya kau bisa dekat dengan Rakha"
"Baguslah!" Indira tersenyum puas.
"Tidak biasanya kau mengejar laki - laki?" ucap Jova, "biasanya kau yang di kejar - kejar!"
"Entahlah, aku hanya merasa sangat ingin dekat dengan seorang Rakha! aku belum pernah merasakan hal seperti ini" Indira tampak berfikir.
"Oh ya?"
"Iya! aku merasa menemukan tempat terbaik untuk pulang saat bersama Rakha! Meskipun dia galaknya minta ampun!" Indira cemberut.
"Galak?"
"Iya!"
"Haha, mereka memang cocok!"
"Mereka? siapa?" Indira mengerutkan keningnya.
"Alexander dan Rakha!" jawab Jova, "kau lupa kalau Pak Alex itu galak dan menyebalkan!"
"Ooohh! Hahahaha" Indira terbahak - bahak mengingat saat Jova mengutarakan kekesalannya pada Alexander dulu. Dan sekarang malah sudah bertunangan dan sama - sama bucin.
"Bedanya, Tuan Alexander itu hanya dingin bagai patung es," ucap Indira, "sementara Rakha Leonard? dia itu playboy!"
"Hehe, iya juga sih!" Jova menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eh, sebentar lagi jam makan siang, aku ke kantor Alexander dulu ya!"
"Oke Jova! bye!"
"Bye!
Jova meninggalkan Indira yang masih diam di kursinya. Jova melajukan mobilnya menuju gedung megah bertuliskan Group G.
Dalam perjalanannya, Jova memikirkan cara untuk mendekatkan Indira dengan Rakha. Mengingat dia sendiri belum mengenal akrab seorang Rakha Leonard yang katanya playboy.
"Playboy bisa galak juga ya sama gadis cantik seperti Indira!" gumam Jova.
Jova memarkirkan mobilnya di parkiran khusus tamu. Security yang jaga di pintu gerbang sudah hafal itu mobil siapa. Jova belum turun, dia masih memikirkan cara ampuh untuk membuat Rakha mau mengenal Indira lebih dekat.
"Ah! aku tau!" Jova memukul kemudi mobilnya, "rencana ini butuh bantuan kuat dari Pangeran ku! haha!"
Jova turun dari mobilnya, berjalan menuju pintu masuk lobby. Security dan Receptionist yang berjaga mengangguk sopan pada Jova. Jova membalas dengan senyum ramah dan langsung masuk ke dalam lift khusus petinggi, menekan angka 30.
"Selamat siang, Nona Jovanka" sapa Lisa.
"Siang!" jawab Jova dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Jova membuka pintu ruangan CEO, yang memperlihatkan Rakha dan Alexander sedang berbincang serius di meja kerja Alexander.
"Sayang!" panggil Jova.
"Hai, Sayang. Kemari lah!" Alexander merentangkan tangannya.
Jova langsung berjalan ke arah Alexander dan duduk di pangkuan Alexander. Melihat Rakha yang duduk di kursi depan meja kerja Alexander. Rakha dan Alexander tetap melanjutkan pembicaraan mereka tentang urusan perusahaan. Tangan kiri Alexander melingkar di pinggang Jova. Tangan kanannya di atas meja memegang keyboard laptopnya.
Jova melingkarkan lengan kanannya di leher Alexander dengan gaya manjanya. Sesekali Jova mencium pelipis Alexander, juga menyisir rambutnya atau pun memainkan dasinya, tanpa peduli tunangannya itu sedang berdiskusi penting dengan Rakha. Jova pun tidak terlalu paham masalah yang mereka bahas. Alexander pun tak terlihat keberatan dengan apapun yang di lakukan Jova. Rakha kini sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu.
"Sayang, kau mau makan apa?" tanya Alexander saat berhenti sejenak dengan diskusinya.
"Emm aku sedang ingin makan nasi goreng yang di Cafe Indira" ucapnya manja.
"Makan di sana?"
"Tidak!" jawab Jova cepat.
"Lalu?" Alexander mengerutkan keningnya.
"Biar Rakha yang membelinya untuk kita!" ucap Jova dengan senyum manjanya, melirik Rakha yang seketika menelan ludahnya menahan kesal.
"Sepertinya Nona bisa pesan OB, pekerjaan saya banyak"
"Sayang, aku mau dia yang membelikan nasi goreng untuk kita di Cafe Indira!" rengek Jova menatap melas pada Alexander, membuat Alexander tidak akan tega menolaknya.
"Kha, selain menuruti ku kau juga harus menuruti keinginan calon istriku!"
"Tapi, Tuan ..." kalimat Rakha di potong dengan tatapan tajam Alexander.
"Kau sudah bosan hidup, Kha?"
"Hemm tidak, Tuan Muda!" jawab Rakha memaksa.
"Kalau begitu cepat belikan!"
"Baik, Tuan Muda"
Rakha melihat Jova yang tersenyum manis padanya. Dan bertingkah manja yang di buat - buat pada Alexander.
Sepertinya aku tau tujuanmu, Nona! batin Rakha.
Like dan Komentarnya jangan lupa di tinggalkan ya.. hehe
Terima kasih juga yang sudah memberi dukungan, hadiah dan vote nya untuk novel receh Author ini.
__ADS_1
Salam Lovallena.