
Toyoran berasal dari tangan mulus seorang Indira.
"Apa kau pikir aku terpesona dengan senyum menyebalkan mu itu!" ucap Indira mengerucutkan bibirnya.
Bayu tersenyum kikuk menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Siapa tau salah satu dari kalian tergoda" sahut Bayu pelan, tapi masih bisa di dengar Indira.
"Mimpi!" ucap Jova dan Indira bersamaan.
"Astaagaah! apa aku sejelek itu sampai kalian berdua tidak pernah melirik ku sama sekali?" tanya Bayu mengangkat kepalanya heran dengan dua gadis di depannya.
"Iya!" jawab mereka bersamaaan.
"Kalau kalian tidak melirik ku karena tampang ku, kalian masih bisa melirik dari bibit bebet atau bobot ku. Papi ku kaya raya, dan aku adalah anak tunggal. Apa kalian tidak tertarik?", lanjut Bayu mencari pembelaan kwalitas diri.
"Tidak ada yang tertarik!" ucap Jova dan Indira lagi.
Bayu menganga tak percaya melihat kekompakan dua gadis di depannya. Menelan ludah dengan sangat susah kemudian.
"Apa kalian ini kembar beda jalan?" tanya Bayu penasaran.
"Beda jalan apa maksudmu?" tanya Indira menatap Bayu.
"Beda jalan keluarnya" jawab Bayu santai.
"Jalan keluar??" tanya Jova bingung.
Indira menatap Jova dengan penuh pertanyaan. Bayu bingung mau menjelaskan seperti apa.
"Tch! Dasar anak perawan" gumam Bayu kemudian.
"Heh!" bentak Jova pelan dengan menyenggol keras lengan Bayu. "Pikiran mu pasti kotor!" Jova menunjuk pelipis Bayu.
"Hehehe" Bayu tersenyum kikuk. "Maksudku kalian kembar tapi lahir dari orang tua yang berbeda. Begitu maksud ku" Bayu salah tingkah.
Jova dan Indira tidak menjawab mereka hanya saling tatap dan sama - sama menaikkan sudut sebelah bibirnya malas.
"Lupakan kegilaan makhluk halus di sampingmu itu Jov!" ucap Indira menyindir Bayu.
"Makhluk halus?" tanya Bayu yang tidak di hiraukan Indira.
"Ayo cepat cerita, apa masalahmu? apa yang membuat mukamu kau tekuk seperti tadi?" tanya Indira tidak sabar, yang membuat Jova menunduk malas. "Apa kau mulai menyukai Pak Alex?" tebak Indira.
Sontak Jova mengangkat kepalanya menatap Indira. Bayu merasakan denyut jantung nya tidak stabil saat pertanyaan itu muncul dari Indira untuk Jova.
Semoga saja tidak, batin Bayu bergetar menunggu jawaban Jova.
"Aku tidak tau aku menyukainya atau tidak. Yang jelas tadi pagi saat tiba - tiba dia mencium ku, karena aku mengganggu tidurnya, aku tidak marah. Justru aku merasa senang" ucap Jova tersenyum mengingat tadi pagi Alexander menariknya ke dalam pelukan.
__ADS_1
Duaaarr!!
Bagai di sambar petir di siang bolong, hati Bayu berkecamuk tidak karuan. Dia menutupi dengan wajah datar yang dia munculkan pada dua gadis itu.
"Apa dia juga mulai menyukaimu?" tanya Indira lagi.
"Mana aku tau" jawab Jova cemberut, "kadang dia baik, kadang dia menyebalkan", mengingat perlakuan Alexander selama satu minggu ini. "Tapi satu yang aku suka dari dia" Jova menjeda kalimatnya.
"Apa?" tanya Indira dan Bayu bersamaan.
Jova melihat mereka berdua bergantian. Dia ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Jova hanya tersenyum. Membuat kedua sahabatnya gemas sendiri.
"Dia tidak pernah memandang ku dengan tatapan ***** seorang pria normal. Padahal selama satu minggu ini kami hanya berdua di apartemennya. Aku bahkan pernah bersandar di pundaknya saat dia meminta ku menemaninya main game tengah malam, tapi aku mengantuk. Lalu kami berdua tertidur di sofa" Jova bercerita dengan senyum mengembang mengingat saat - saat kebersamaannya dengan Alexander.
Hati Bayu terasa patah tapi tak terlihat. Remuk tak berdarah. Hancur tanpa kepingan. Teriris tanpa pisau. Kemudian dia menunduk pelan.
"Lalu apa yang membuatmu diam dan terlihat kesal?" tanya Indira.
"Apa karena besok kesepakatan kalian berakhir?" sahut Bayu melihat ke arah Jova.
Jova melihat Bayu di sampingnya, lalu melihat Indira di depannya sebelum menjawab pertanyaan Bayu.
"Aku memang sedih, saat mengingat kesepakatan kami akan berakhir besok. Tapi bukan itu yang membuatku kesal hari ini" Jova memanyunkan bibirnya.
"Lalu?" tanya Indira yang tidak sabar mendengar cerita Jova yang tidak langsung pada intinya.
"Iya" jawab Indira.
"Gara - gara itu, barusan aku di seret Dosen centil itu! Dia menamparku, dan mengancam ku akan menyakiti ku lebih dari itu jika aku menggoda atau merayu Pak Alex." ucap Jova.
"Apa?" pekik Bayu kaget ada yang menampar gadis pujaannya.
"Dosen centil?" tanya Indira. "Maksudmu Bu Julie?"
"Iya! siapa lagi Dosen kecentilan di sini" jawab Jova malas.
"Kau takut dengan ancamannya?" tanya Indira.
"Tidak!" ucap Jova tegas.
"Lalu?" tanya Indira.
"Aku ingin membuat Dosen centil itu semakin panas. Tapi aku bingung bagaimana caranya. Kalau aku terang - terangan mengejar Pak Alex, aku akan terlihat sangat murahan bukan?" tanya Jova menatap Indira. "Sementara aku juga tidak tau dia menyukaiku atau tidak. Sikapnya selama ini sangat sulit di artikan. Dia meminta ganti rugi mobilnya yang lecet padaku 150 juta, karena aku keberatan dia mengganti untuk tinggal bersamanya hanya selama satu minggu. Dan kau tau, kemarin dia mengajak ku ke mall, dia menyuruhku untuk belanja sesuka ku dengan kartu yang dia berikan padaku saat hari pertama aku tinggal bersamanya. Dan aku menggunakan kartu itu belanja hingga hampir 100 juta. Aku pikir dia akan marah. Tapi dugaan ku salah, saat aku sibuk belanja ternyata dia justru menambah saldo kartu yang aku bawa. Padahal dia bilang sebelumnya saldo di kartu itu bisa untuk membeli mobilku" cerita Jova panjang lebar.
"Apa!" Indira sedikit kaget dan bingung dengan seluk beluk perlakuan Dosen Alex kepada Jova.
Bayu hanya berusaha menjadi pendengar yang baik saat ini. Meskipun hatinya bergemuruh dan perih.
Aku pun tidak akan keberatan kalaupun kau menguras kartu ku Jova. Apa itu artinya dia juga mulai menyukaimu. Batin Bayu.
__ADS_1
"Saran ku sebelum kau melawan bu Julie sebaiknya kau pastikan dulu. Pak Alex menyukaimu atau tidak. Kalau dia terlihat menyukaimu, sebaiknya kau berjuang terang - terangan. Jangan malu dan jangan takut pada dosen kecentilan itu. Dia akan semakin panas melihatmu" Indira memberi saran.
"Aku juga berfikir begitu, hanya saja bagaimana caranya agar aku tau dia suka pada ku atau tidak" ucap Jova menunduk. "Melihat sikap dan sifatnya yang berubah - ubah aku yakin dia bukan orang yang mudah menyatakan cinta atau suka"
Semua diam tampak berfikir keras. Sesekali mereka saling lirik, tanpa tau jalan keluar.
"Kalau aku tau dia menyukaiku, atau setidaknya dia menunjukkan ketertarikan pada ku aku akan terang - terangan membuatnya jatuh cinta padaku. Dan aku akan terang - terangan melawan Dosen kecentilan itu!" ucap Jova geram mengingat tamparan Julie.
"Tapi bagaimana caranya supaya Pak Alex menunjukkan perasaannya yang sebenarnya padamu?" tanya Indira sambil berfikir.
Jova hanya mengangkat kedua pundaknya, lalu meminum es jeruk yang ada di depannya.
"Aku tau!" ucap Bayu setelah beberapa saat diam.
Sontak Jova dan Indira menoleh ke arah Bayu dengan tatapan serius.
"Apa?" tanya Jova dan Indira bersamaan.
"Sandiwara!"
"Sandiwara?" tanya dua gadis di depannya bersamaan.
"Iya"
"Maksudnya?" tanya Jova bingung.
Bayu membuang nafas panjangnya. Menatap Jova dan Indira bergantian sebelum menjelaskan maksud dari sandiwara yang dia ucapkan.
Selamat membaca part ini teman - teman.
Semoga kita selalu di beri kesehatan dan kelancaran Rejeki. Dan pandemi segera berakhir Aamiin.
Jangan lupa tinggalkan Lika kalian ya.
Dan dukung novel ini.
Terima kasih,
Salam Lovallena.
__ADS_1