
"Saya tidak tau om, saya tidak tau rasanya jatuh cinta. Hanya saja saya pernah merasakan hal yang sama 15 tahun yang lalu. Tapi hanya sesaat, karena saya tidak pernah bertemu lagi sejak pertemuan pertama waktu itu", jelas Alexander.
Ayah Jova tersenyum mendengar curhatan dosen putrinya itu. Melihat penampilannya yang maskulin, serasa mustahil jika dia tidak pernah di kejar perempuan. Ayah Jova menempatkan diri sebagai sesama laki - laki.
# # # # # #
Hari - hari berlalu dengan cepat. Sudah 2 minggu Jova koma. Setiap malam Alexander tidur di sofa atau di kursi samping tempat tidur Jova. Jika pagi dia akan ke kampus, lalu pulang ke apartemen, hanya untuk mandi dan mengganti baju. Lalu kembali ke rumah sakit lagi. Jika weekend dia hanya akan pulang untuk mandi dan mengganti bajunya.
Ayah Jova setiap sore datang ke rumah sakit. Sekarang beliau menggantikan Jova di kantor untuk sementara. Jika weekend dia akan menemani Alexander menjaga Jova.
Ibu Jova setiap pagi datang ke rumah sakit untuk membawakan Alexander sarapan. Dan menggantikan menjaga Jova, jika Alexander ke kampus. Awalnya ibu Jova kecewa dan menahan kesal pada Alexander. Namun lambat laun dia merasa kalau Alexander menyukai putrinya. Sehingga dia menganggap Alexander seperti putranya sendiri.
Tristan pun setiap pagi mengantar ibunya ke rumah sakit. Sepulang sekolah dia akan kembali menjemput ibunya dan pulang saat hari hampir gelap.
Indira dan Bayu sesekali datang saat pulang kuliah. Setiap kali bertemu Alexander, Bayu akan diam. Tidak sedikitpun menyapa Alexander.
Malam ini tepat malam ke 14 Jova berada di ruang VVIP, dan sekarang sudah di perbolehkan untuk di kunjungi lebih dari dua orang. Luka goresan dan luka kepala Jova sudah mulai mengering. Hanya belum sepenuhnya mengelupas.
Alexander tertidur di kursi samping kamar Jova. Dia meletakkan kepalanya di samping tempat tidur Jova dengan menggunakan satu tangan sebagai bantal, menghadap kaki Jova.
Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Alexander merasa ada yang menyentuh dan mengusap kepalanya. Dia mengerjap kan mata, meyakinkan dirinya bahwa dia tidak bermimpi. Seingatnya dia hanya menjaga Jova sendiri setiap malam. Dia menarik tangan seseorang yang seolah suka mengusap kepalanya.
Setelah meraih tangan itu, Alexander segera mengangkat kepalanya. Mencari pemilik tangan. Matanya membulat sempurna saat melihat mata Jova terbuka. Dia memukul pipinya sendiri, meyakinkan dirinya jika dia tidak sedang bermimpi.
Alexander menggenggam erat tangan kanan Jova. Senyum terbit dari bibirnya, setelah menyadari dia tidak sedang bermimpi.
"Kau sudah bangun?", tanya Alexander antusias, seolah tak percaya, mata yang tertutup berminggu - minggu itu terbuka. Meski tidak terlihat ada sedikitpun senyum darinya.
Alexander mencium tangan Jova berkali - kali. Dia mengusap kepala Jova. Dia bangun dari duduknya, mencium kening Jova.
"Terima kasih kau mau membuka matamu lagi", ucap Alexander dengan mata berkaca - kaca. "Kau mau apa? akan aku ambilkan".
"Mi . . num", ucap Jova dengan suara yang sangat lirih, tapi masih bisa di dengar Alexander.
Alexander segera menuang minum ke dalam gelas. Mengubah tempat tidur Jova menjadi sedikit bersandar. Lalu membantu Jova meminum airnya.
Setelah selesai, Alexander menekan tombol untuk memanggil dokter.
Tidak berapa lama dokter datang dengan seorang perawat. Memeriksa keseluruhan kondisi tubuh Jova. Jova yang belum sadar sepenuhnya, hanya matanya saja yang mengikuti gerak gerik dokter yang memeriksanya. Sesekali melirik Alexander yang tidak berhenti tersenyum melihat mata Jova yang terbuka.
Setelah selesai, dokter melepas semua alat medis di tubuh Jova kecuali infus di tangan kiri Jova.
"Nona Jovanka masih harus di rawat sampai kondisinya benar - benar pulih tuan. Dan tolong jangan terlalu di ajak banyak bicara. Biarkan dia menormalkan tubuhnya terlebih dahulu", ucap dokter pada Alexander.
"Heemm", jawab Alexander.
Dokter dan suster keluar dari ruang rawat Jova. Meninggalkan Alexander dan Jova.
__ADS_1
Alexander kembali mendekat ke arah Jova. menatap lekat wajah Jova yang masih seperti orang bingung.
"Aku akan menghubungi ayah dan ibumu"
Alexander mengambil ponselnya di atas meja dekat sofa. Dan mencari nomor telfon orang tua Jova.
"Aku kan tidak menyimpan nomor mereka, Sial!", gumam Alexander pelan.
Seketika dia ingat ponsel Jova. Dia mendekati ponsel Jova di dalam nakas. Tapi ponselnya mati karena sudah 14 hari tidak di gunakan.
"Haaah", Alexander membuang nafas kesal. "Maaf om tante, sepertinya belum waktunya kalian tau kabar terbaru Jova", gumam Alexander lalu mencharger ponsel Jova.
"Kau mau makan? atau mau sesuatu?", tanya Jova lembut.
Jova hanya menggeleng.
"Kau mau tidur lagi? ini masih jam setengah tiga pagi. Besok pagi ibumu pasti datang"
Jova mengangguk pelan.
"Tidurlah, tapi kau harus berjanji besok pagi bangun lagi. Jangan tinggalkan aku dan keluargamu", ucap Alexander mengusap kepala Jova dan mencium keningnya.
Dia mengusap lembut kepala Jova sampai terdengar nafas teratur dari Jova.
Kemudian Alexander kembali tidur dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.
# # # # # #
"Apa Jova sudah sadar?", gumam ibunya pelan.
Jova dan Alexander masih sama - sama tertidur. Ibu Jova pun sama sekali tak berniat mengganggu tidur mereka. Ibu Jova mengusap puncak kepala Jova pelan. Lalu melihat Alexander yang masih tertidur.
Terima kasih Alexander, kau begitu tulus merawat Jova. Ucapnya dalam hati.
Beberapa saat kemudian Alexander menggeliat, dan merasakan ada orang lain di dalam ruangan itu. Alexander menoleh ke arah sofa. Tampak Ibu Jova duduk di sana dengan menghubungi seseorang melalui ponselnya. Tentu saja dengan suara yang pelan.
Ibu Jova mengakhiri panggilannya saat menyadari Alexander menatapnya.
"Kau sudah bangun nak?", tanya ibu Jova.
"Iya tante", Alexander meregangkan ototnya melirik Jova. "Jova semalam sudah sadar tante. Tapi saya tidak punya nomor ponsel om dan tante, dan ponsel Jova juga mati. Jadi saya tidak memberi kabar", jelas Alexander.
"Tidak apa - apa nak. Om dan tante senang Jova sudah sadar. Terima kasih selama ini kamu selalu menjaga Jova", ucap ibu Jova tulus.
Alexander hanya tersenyum tipis. Dia melihat ke arah Jova. Mengusap pelan tangan Jova. Lalu berjalan ke arah kamar mandi.
"Ha..us", ucap Jova lemah dengan mata mengerjap.
__ADS_1
Ibu Jova dengan cepat berdiri menghampiri Jova.
"Tunggu sayang, ibu ambilkan", Ibu Jova menuang minun ke dalam gelas.
Lalu membuat tempat tidur Jova sedikit duduk. Dengan hati - hati ibu membantu Jova untuk minum air.
Jova membuka matanya sempurna. Dia sudah menyadari dimana dia berada.
"Ibu sangat bahagia kau sudah sadar nak. Ibu juga senang, selama kau koma Alexander meninggalkanmu hanya untuk ke kampus, lalu kembali menjagamu. Ibu rasa dia sangat menyesali kesalahannya", ucap ibu Jova.
Jova hanya tersenyum kecil, tanpa menjawab sepatah katapun.
Ini bukan sepenuhnya salah Alexander bu, Jova turut berperan atas kejadian ini. Jova lah yang memancing masalah ini. Ucap Jova dalam hati.
Alexander keluar dari kamar mandi. Melihat Jova dan ibunya sedang berbicara.
"Kau mau makan Jova?"
"Iya", ucap jova lemah.
"Ibu akan menyuapi mu. Kau juga makanlah Alexander", ucap ibu Jova melihat Alexander keluar dari kamar mandi.
"Iya tante"
Yeay! Jova sudah sadar.
Tunggu part selanjutnya ya teman - teman.
Sedikit bocoran, part selanjutnya adalah part romantis.
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar teman - teman ya.
Dukungan kalian sangat berharga untuk Author.
Terima kasih,
Salam Lovallena.
__ADS_1