
Alexander bersama keluarga Jova berjalan ke arah ruang ICU. Ibu Jova menangis tak kuasa melihat anaknya di penuhi alat medis. Ayah Jova menumpukan tangannya di dinding, satu tangannya memegang dadanya.
Ibu Jova masuk terlebih dahulu. Alexander, ayah Jova dan Tristan menunggu di luar. Ibu Jova mencium kening Jova.
"Bangunlah nak, Ibu ada di sini. Kami merindukanmu sayang", ucap Ibu pelan.
Ibu Jova terisak melihat mata Jova yang tampak tertidur lelap. Jari - jemari Jova pun tak merespon sentuhan ibunya.
Cukup lama ibu Jova di dalam ICU, lalu keluar dan ganti sang ayah yang masuk. Ayah Jova mengecup kening Jova juga.
"Bangunlah nak, anak ayah pasti kuat. Kau ingat, saat kau menguatkan ayah, saat itu semangat ayah membara. Kalau kau bisa membuat ayah semangat untuk sembuh, kau pasti bisa membuat jiwa mu jauh lebih semangat. Untuk kami nak", ucap ayah Jova pilu. "Nak, aku melihat ada sesuatu yang lain dari dosen gila mu itu. Ayah akan mendukungmu untuk mencari tau siapa dia. Bangunlah nak".
Ayah Jova berusaha mengajak bicara sesuatu yang mungkin akan membuat Jova antusias jika dia sadar dari komanya. Ayahnya mengusap lengan Jova lembut, berharap ada respon dari Jova, namun nihil.
Kini empat orang itu sedang duduk di depan ruang ICU, semua diam tidak ada yang berbicara. Alexander salah tingkah. Seorang dokter menghampiri Alexander.
"Tuan, anda harus kembali ke ruang rawat anda, saya harus memeriksa keadaan anda sekarang", ucap dokter penuh kehati - hatian.
"Tuan, nyonya saya permisi", Alexander menunduk pada orang tua Jova.
"Iya", jawab ayah Jova.
Ibu Jova diam saja, tampak ada rasa kecewa yang dia tutupi di matanya. Alexander menyadari itu, dia menggelengkan kepalanya pelan, menyadari kesalahannya.
Alexander berjalan meninggalkan ICU di ikuti dua pengawal berpakaian hitam yang dari tadi mengawasi Alexander dari jarak cukup jauh. Ayah Jova memperhatikan semua itu.
Sepertinya Alexander bukan orang sembarangan. Siapa dia sebenarnya, aku tidak yakin kalau dia hanya seorang dosen. Ucap ayah dalam hati.
Sepertinya dosen kak Jova bukan orang sembarangan, batin Tristan yang juga memperhatikan Alexander.
"Hallo?", ibu mengangkat telfon.
"Apa sudah ada kabar dari Jova tante?", tanya Indira di sebrang sana.
"Sudah ndi", jawab ibu sedih. "Dia koma di rumah sakit".
"Apa!!", Indira tersentak kaget. "Bagaimana bisa tan?".
"Kemarin Jova mengalami kecelakaan bersama dosennya"
"Apa? maksud tante pak Alex?", tanya Indira panik.
"Iya. Sekarang dia ada si ICU"
"Jova di rawat di rumah sakit mana tan?"
"Di Rumah Sakit X"
"Indira ke sana tan"
"Iya", jawab ibu Jova menahan kesedihan.
# # # # # #
Indira datang bersama Bayu, tampak ekspresi penuh kemarahan bercampur dengan rasa khawatir.
__ADS_1
Indira masuk ke ruang ICU bergantian dengan Bayu. Mereka keluar dari ICU dengan raut muka menahan kesedihan.
Kini semua di luar ICU dengan pikiran mereka masing - masing. Sampai sepasang mata Bayu menangkap Alexander yang berjalan ke arah ICU di ikuti dua orang pengawal.
Tanpa aba - aba Bayu berjalan cepat ke arah Alexander dan mendaratkan kepalan tangan di pipi kiri Alexander. Alexander hanya mengikuti arah pukulan Bayu. Sontak dua pengawal Alexander memegangi Bayu. Bayu memberontak. Ayah Jova dan Indira mencoba menenangkan Bayu.
"Bay, ini rumah sakit!", ucap Indira.
"Lepaskan dia!", ucap Alexander pada pengawalnya.
Kedua pengawal itu melepas Bayu, Bayu berjalan mendekati Alexander. Dia tidak berniat memukul Alexander, melihat kondisi Alexander yang juga penuh goresan.
"Kau ingat dosen angkuh! Aku menganggap ini sebagai kekerasan pada perempuan!", ucap Bayu geram.
Alexander hanya melihat Bayu yang sedang melampiaskan amarahnya. Tanpa sedikit pun mencoba membantah.
Bayu menjauh dari Alexander saat melihat dokter datang untuk masuk ke ICU.
Semua menunggu dokter selesai memeriksa. Ayah Jova tidak lepas mengamati gerak gerik Alexander. Dia tau kalau Alexander merasa bersalah. Tapi dia juga di penuhi pertanyaan. Ada hubungan apa antara putrinya dan dosen yang di anggap putrinya sebagai dosen gila itu.
Beberapa saat kemudian dokter keluar dengan brankar Jova di belakangnya yang di dorong oleh dua orang perawat.
"Nona Jova sudah bisa di pindahkan di ruang rawat", ucap dokter pada semua yang ada di luar ICU.
"Alhamdulillah", ucap semua yang menunggu di luar.
Semua mengikuti bankar yang di dorong oleh perawat itu. Sampai di depan ruang rawat VVIP.
"Dokter? apa ruang rawat ini tidak mahal?", tanya ibu Jova pada dokter yang akan membuka pintu.
"Tuan Alexander yang memilih ruang rawat ini nyonya", ucap dokter sopan, lalu membuka pintu ruangan itu.
"Untuk saat ini maximal hanya dua orang boleh berada di dalam", ucap dokter saat keluar dari ruang rawat Jova, lalu pergi bersama perawat lainnya.
Mereka semua saling pandang, seolah bertanya siapa yang masuk duluan melihat Jova.
"Silahkan tuan dan nyonya masuk terlebih dahulu", ucap Alexander.
Orang tua Jova mengangguk. Mereka masuk ke dalam ruang rawat Jova, lalu bergantian dengan yang lain.
"Indira, Bayu kalian pulanglah, ini sudah malam. Terima kasih sudah mengkhawatirkan Jova", ucap ayah Jova.
"Em.. baiklah om, tante kami pulang dulu. Tante tolong kabari kalau Jova ada perkembangan ya. Besok saya ke sini lagi", jawab Indira.
"Iya ndi", jawab ibu Jova.
"Permisi om, tante", ucap Bayu.
"Permisi pak Alex", ucap Indira pada Alexander.
Alexander hanya mengangguk sedikit. Berbeda dengan Bayu yang menatap tajam pada Alexander. Alexander hanya membalas dengan tatapan teduh.
"Sebaiknya tuan dan nyonya juga pulang. Saya saja yang menjaga Jova di sini"
"Tidak nak, sayalah ayahnya. Sudah seharusnya saya menjaga anak - anak saya"
__ADS_1
Alexander semakin merasa bersalah mendengar ucapan ayah Jova
"Biar ibu dan Tristan saja yang pulang, besok kau harus sekolah kan?", ucap ayah melihat istri dan anak bungsunya.
"Iya yah. Ayo bu!", ajak Tristan menggandeng tangan ibunya.
"Tapi yah, ibu juga ..."
"Sudahlah, ibu pulang saja", potong ayah Jova.
"Baiklah, ibu pulang"
Ibu Jova dan Tristan pulang di antar oleh seorang pengawal Alexander. Ayah Jova masuk ke ruangan Jova.
"Belikan makan malam untuk kami!" ucap Alexander pada pengawal yang tersisa dan memberikan beberapa lembar uang.
Alexander menyusul ayah Jova. Terlihat ayah Jova duduk di sofa, Alexander mendekati tempat tidur Jova. Dia mengusap pelan kepala Jova. Tentu tidak luput dari pengawasan ayah Jova.
Alexander duduk di sofa bersama ayah Jova. Sesaat kecanggungan tercipta di antar mereka.
"Maafkan saya tuan", ucap Alexander membuka obrolan.
"Jangan di pikirkan nak, ini semua adalah takdir", ucap ayah Jova lembut.
Alexander membuang nafas panjangnya.
"Nak Alexander, boleh saya bertanya?"
"Boleh tuan", ucap Alexander.
"Jangan panggil tuan, panggil om saja supaya lebih akrab"
"Iya om"
"Sebenarnya ada hubungan apa antara kalian?, selama ini om hanya sering mendengar Jova mengeluhkan dirimu. Dan bahkan menyebutmu dosen gila. Tapi bagaimana kalian bisa satu mobil bahkan berdebat?"
"Maafkan saya om", Alexander membuang nafas panjang. "Saya belum setahun mengajar Jova, sejak pertama melihatnya saya merasa ada sesuatu dalam dirinya yang menarik saya untuk mendekat. Saya tidak pernah dekat dengan perempuan sebelumnya, meskipun bertahun - tahun saya tinggal di luar negeri. Dan itu membuat saya tidak tau cara mendekati perempuan", ucap Alexander dengan polosnya.
Ayah Jova menganga tak percaya. Seketika ayah Jova tergelak, melihat dosen yang kata Jova tampan tapi galak dan dingin bahkan keras seperti batu ternyata tidak pernah dekat dengan wanita.
"Jangan ketawa dong om", ucap Alexander mengakrabkan diri. "Itulah kenapa saya suka menghukumnya agar kami sering berkomunikasi. Dan selama seminggu ini kami dekat tapi bukan sebagai pasangan. Hanya mengakrabkan diri saja. Lalu dua hari terakhir, Jova jauh lebih dekat dengan Bayu, saya tidak suka melihatnya. Dan kemarin saat Jova akan pergi lagi dengan Bayu saya membawa paksa Jova", ucap Alexander.
"Apa kau menyukai putriku?", tanya ayah Jova.
Alexander menatap ayah Jova sendu, menyandarkan dirinya di sandaran sofa. Melirik Jova di atas tempat tidur.
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar ya teman - teman.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena