I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
15 Tahun yang Lalu


__ADS_3

Flashback On . . .


"Ibu, Jova sudah siap!"


"Iya sayang, masukkan koper mu ke dalam bagasi mobil ya!"


"Iya, Bu!" Jova menggeret koper kecilnya ke luar rumah, tempat parkir mobil.


Yeay! akhirnya Ayah mengajak ku menginap di villa itu! ucap Jova dalam hati.


Setelah memasukkan kopernya ke dalam mobil. Jova kembali masuk ke rumahnya menemui Ayah dan Ibunya.


"Bu, apa tidak sebaiknya Ibu di rumah, biar Ayah yang menemani Jova bermain di pantai. Lagi pula Ayah hanya menyewa villa untuk satu malam saja"


"Tidak Ayah, Ibu ingin menemani kalian menginap di villa. Tari akan menjaga Ibu. Ya kan Tari?" tanya Ibu pada Tari, ART lama di rumah Jova.


"Iya, Nyonya" jawab Tari, yang saat itu baru berusia 17 tahun. Tari adalah anak putus sekolah di kampungnya, karena keterbatasan biaya.


"Tapi Ibu jangan iku bermain di pantai ya? Ibu di villa saja. Ibu harus menjaga kehamilan Ibu"


"Iya, Ayah" jawab Ibu yang saat itu sedang hamil 8 bulan.


Semua sudah bersiap di dalam mobil, Ibu duduk di depan, samping Ayah yang mengemudikan mobil. Jova di kursi belakang bersama Tari.


Ayah mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, membelah keramaian kota Jakarta siang itu.


"Jova?"


"Ya, Bu?"


"Ingat! saat di pantai nanti, jika ada orang yang tidak kau kenal bertanya siapa namamu. Bilang namamu Cantika!" ucap Ibu, "jangan pernah sebutkan nama aslimu!"


"Iya, Bu" jawab Jova, "Jova pasti ingat"


"Di sana nanti kami semua akan memanggilmu Cantika!" sahut Ayah.


"Iya, Ayah!"


Mobil yang di kemudikan Ayah sudah berada di pintu gerbang pemerikasaan. Perlu pemeriksaan ketat untuk bisa masuk ke pantai itu. Entah kenapa, hanya tidak sembarang orang bisa menyewa dan menikmati keindahan pantai di sana.


"Horeeee!" teriak Jova kecil yang baru kemarin berusia 7 tahun.


"Akhirnya hadiah ulang tahun yang kau minta sudah terwujud!" ucap Ibu dengan senyumnya melirik Jova di belakangnya.


"Iya, Bu!" ucap Jova, "terima kasih Ayah, Ibu"


"Sama - sama!" jawab Ayah dengan senyumnya tanpa menoleh Jova.


Ayah memarkirkan mobilnya di depan salah satu villa yang di sewakan di pantai itu. Pantai itu adalah pantai pribadi. Hanya boleh di kunjungi orang - orang yang menyewa villa di sana.


Pantai itu di kuasai perusahaan raksasa Group G, hanya orang - orang tertentu yang bisa membeli villa di pantai itu. Bagi mereka yang ingin menikmati keindahan pantai di sana, wajib menyewa villa. Ada beberapa villa kecil yang di sewakan. Tentu saja dengan harga yang cukup mahal dan peraturan ketat. Karena memang tujuan utama dari pantai itu adalah untuk orang yang mencari ketenangan dan tidak suka keramaian.


Jova segera turun dan mengambil kopernya di bagasi. Dia langsung masuk dan mengganti bajunya untuk bermain di pantai.

__ADS_1


"Jova, sabar dong sayang!" ucap Ibu.


"Jova tidak sabar ingin bermain di pantai Bu!"


Setelah mengganti bajunya Jova berlari keluar villa, di ikuti sang Ayah yang mengawasi setiap gerak gerik Jova. Beberapa kali ayah mengambil foto Jova, menggunakan kamera.


Jova begitu riang menghabiskan waktu sorenya dengan bermain pasir pantai. Dia membuat istana dari pasir, mengubur kaki Ayahnya di dalam pasir, juga mengubur kakinya sendiri. Dia begitu bahagia sore itu.


Berlibur di pantai itu adalah impian semua orang. Hanya saja tidak semua orang bisa berlibur di sana. Banyak sekali aturan yang harus di penuhi.


Ayah Jova mengajukan liburan di pantai itu sejak Jova ulang tahun yang ke enam. Saat itu Ibu Jova belum hamil. Dan baru di realisasi pihak pengelola pantai setahun kemudian, saat Jova berulang tahun yang ke tujuh.


Tanpa di sadari Jova dan Ayahnya, beberapa kali kamera dari kejauhan mengambil foto Jova seorang diri yang sedang berkejar - kejaran dengan ombak.


Remaja laki - laki itu tampak tersenyum kecil saat melihat gadis kecil itu terlihat begitu bahagia bermain dengan ombak.


Sore itu hanya ada keluarga Jova yang menyewa villa. Sehingga pantai benar - benar sepi.


Menjelang malam, Ibu memanggil Jova untuk masuk ke dalam villa. Jova menuruti kemauan Ibunya. Dia mandi lalu bergabung dengan yang lain untuk makan malam.


"Besok pagi, kita main lagi di pantai" ucap Ayah setelah makan malam.


"Iya, Ayah! tapi nanti kita jalan - jalan di jalanan pantai ya Ayah?"


"Angin malam di pantai sangat kencang, tidak bagus untuk anak seusia mu"


"Ayahhh" Jova merajuk.


# # # # # #


Di depan sebuah villa terbesar di pantai itu, seorang remaja laki - laki duduk di kursi depan gerbang villanya. Melihat ke sekelilingnya, mencoba mencari - cari gadis kecil yang tadi bermain ombak. Tapi dia tidak menemukannya.


Dia mengambil kamera digital di kantong celana pendeknya. melihat - lihat foto yang dia ambil menggunakan kameranya itu. Kamera yang sedang trend pada masa itu. Dia tersenyum simpul.


Sampai dia tidak sadar ada laki - laki lainnya yang seumuran dengan dirinya, sedang berdiri di belakangnya, ikut melihat apa yang sedang dia lihat.


"Oh, kau menyukai gadis kecil itu!" ucap laki - laki di belakangnya yang sontak mengagetkan lamunannya.


"Kau ini mengagetkan saja!"


"Hehe, dimana dia sekarang?"


"Aku tidak tau!" memasukkan kembali kamera itu ke kantongnya.


Sampai akhirnya, dia melihat seorang gadis kecil yang mengendap - endap keluar dari villa yang di sewakan.


Ini memang sudah gelap, jam menunjukkan pukul 9 malam, tapi laki - laki itu masih bisa mengenali kalau yang mengendap - endap itu adalah gadis kecil yang sedari tadi dia tunggu.


Laki - laki itu mengawasi setiap gerak gerik gadis kecil berbaju pink itu.


Ya! Jova sedang berusaha kabur dari villa. Dia bermain - main dengan ombak, tanpa ada orang dewasa yang mengawasi.


Hanya dua orang laki - laki remaja itu yang mengawasi dari jarak cukup jauh.

__ADS_1


"Bro, sepertinya gadis itu tidak ada yang mengawasi!"


"Iya! aku melihatnya mengendap - endap keluar dari villa yang di sewanya" jawabnya sambil mengeluarkan kembali kamera yang tadi dia kantongi, kembali mengambil foto Jova diam - diam.


"Bro, sepertinya kau harus mengawasi gadis itu. Bagaimanapun dia masih terlalu kecil bermain di pantai seorang diri!"


"Aku tau!" jawabnya ketus sambil fokus mengambil foto dengan posisi terbaik.


Laki - laki itu meletakkan kameranya di meja, fokus memandangi setiap gerak gerik gadis kecil yang bermain ombak sendirian.


"Toloong!!" teriak Jova yang terbawa ombak pantai.


Dengan cepat dua remaja laki - laki yang sedari tadi mengawasi Jova, berlari menuju pantai. Dengan sekuat tenaga meraih gadis kecil yang tidak bisa berenang itu. Bukan perkara mudah untuk dua anak remaja menyelamatkan gadis kecil yang tergulung ombak di gelap malam.


# # # # # #


"Ayah! Jova tidak ada di kamarnya!" teriak Ibu dengan sangat panik.


"APA!" pekik Ayah yang sedang menonton TV di ruang depan villa.


Seketika semua panik, mencari - cari di taman mengitari villa. Tapi tidak menemukan. Ayah Jova segera berlari keluar villa. Melihat sepanjang pantai. Matanya membulat saat melihat dua remaja laki - laki yang sedang berusaha menyelamatkan seseorang di kejauhan.


"Jangan - jangan itu Cantika" Ayah segera berlari sekencang mungkin.


"Cantikaaa!!!" teriak Ayah.


Ibu dan Tari yang sedari tadi mengikuti Ayah ikut panik. Ibu Jova berteriak histeris.


"Cantikaaaa!!!!!" Ibu sudah menangis sejadi - jadinya di depan villa.


Tari berusaha menenangkan majikannya yang tengah hamil itu. Tidak lama kemudian Ibu Jova pingsan. Tari bingung harus bagaimana, dia tidak kuat mengangkat tubuh Ibu Jova.


"Tuaann!" teriak Tari. Tapi Ayah Jova tidak menghiraukan.


Laki - laki yang sedari sore mengawasi Jova, berhasil membawa tubuh Jova ke tepi pantai. Jova hampir kehabisan nafas. Laki - laki itu mencoba membantu Jova agar kembali bernafas dengan normal.


"Siapa namamu?" tanya laki - laki itu setelah nafas Jova kembali normal.




Biar reader gak kecewa, Author up satu lagi deh .


Jangan lupa tinggalkan Like dan Dukungan dalam bentuk lainnya ya. Dukungan teman - teman sangat menyemangati Author untuk rajin Up. hehe



Terima kasih,



Salam Lovallena.

__ADS_1


__ADS_2